Menuju konten utama

Persiapan Polri & Bandara di Bali Sambut Musim Libur Nataru 2025

Meskipun ada potensi cuaca tidak bersahabat, diklaim cuaca di Bali saat Nataru akan terkendali.

Persiapan Polri & Bandara di Bali Sambut Musim Libur Nataru 2025
Kakorlantas Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, ketika berada di Back Office Smart Road Safety Policing Ditlantas Polda Bali, Rabu (17/12/2025). Tirto.id/Sandra Gisela
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, memprediksi akan terjadi lonjakan kendaraan di Bali 7-10 persen dibandingkan hari biasa saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tiba. Meskipun terdapat potensi cuaca tidak bersahabat, diklaim bahwa kondisi cuaca saat Nataru dapat dikendalikan.

Agus bilang, peningkatan kepadatan kendaraan meliputi kendaraan barang dan kendaraan penumpang. "Ini harus kami kelola, termasuk juga imbasnya nanti adalah bandara di Bali," ungkap Agus ketika berada di Back Office Smart Road Safety Policing Ditlantas Polda Bali, Rabu (17/12/2025).

"Berapa wisatawan yang hadir, nanti kaitannya dengan parameter-parameter yang ada di lalu lintas Bali," imbuhnya.

Agus mengungkap, Operasi Natal dan Tahun Baru atau Operasi Lilin 2025 akan dibagi ke dalam empat kluster. Pertama, adalah pengelolaan jalan tol dan arteri, termasuk jalan-jalan alternatif. Kedua, adalah keamanan penyeberangan pelabuhan, baik di Merak, Gilimanuk, Ketapang, hingga Bakauheni.

"Selanjutnya adalah tempat-tempat ibadah, tempat-tempat wisata, dan sebagainya. Itu yang harus kami amankan, termasuk juga pada saat nanti perayaan Tahun Baru," terangnya.

Dalam keempat kluster tersebut, Agus mengeklaim, Polri telah merancang beberapa skenario. Antara lain meliputi cara bertindak, tata kelola dan manajemen lalu lintas, serta manajemen kontingensi atau kondisi ekstrem cuaca. Begitu ada bangkitan arus, beberapa skenario akan diterapkan, seperti pengalihan arus, contraflow (rekayasa lalu lintas), dan one way.

"Apabila terjadi kondisi ekstrem cuaca, mungkin banjir, longsor, itu ada emergency plan (rencana darurat) yang sudah kita siapkan. Contohnya, terjadi ombak yang besar dan Ketapang–Gilimanuk tidak dapat dilakukan penyeberangan, itu sudah kami persiapkan langkah-langkah skenarionya," jelas Agus.

Langkah-langkah emergency plan itu, ungkap Agus, akan meliputi buffer zone, rest area atau kantong-kantong parkir untuk kendaraan yang tidak bisa menyeberang, serta kondisi-kondisi lainnya. Meskipun terdapat potensi cuaca tidak bersahabat, Agus mengeklaim, pihaknya masih dapat mengendalikan kondisi saat Nataru.

Selain langkah-langkah tersebut, di Bali terdapat 236 CCTV yang terintegrasi dengan Command Center Road Safety untuk mengelola keamanan dan ketertiban masyarakat, serta keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Dia menilai, Bali harus menjadi role model untuk tertib lalu lintas.

"Operasi Lilin akan berlangsung dari tanggal 20 Desember hingga tanggal 2 Januari. Sebelum tanggal 20 Desember, itu nanti ada puncak arus pertama. Tanggal 24 Desember, ada puncak arus yang cukup signifikan, baik itu dari pelabuhan-pelabuhan dan bandara," ucap Agus.

Sementara itu, pihak Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai memprediksi terdapat 1,5 juta penumpang yang memadati bandara selama periode Nataru. Puncak kepadatan penumpang diprediksi terjadi menjelang Hari Raya Natal, yakni 19 Desember 2025 dengan prediksi penumpang terlayani sebesar 79.993 orang. Puncak arus balik diprediksi terjadi pada 4 Januari 2026 dengan prognosa trafik sekitar 79.481 penumpang.

"Selama 21 hari operasional posko, mulai tanggal 15 Desember 2025, pergerakan pesawat diperkirakan mencapai 9.304 pergerakan atau rata-rata lebih dari 440 penerbangan per hari. Perkiraan peningkatan trafik penerbangan didukung juga dengan adanya pengajuan 510 tambahan jadwal penerbangan (extra flight) yang akan melayani rute domestik," General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Ahmad Syaugi Shahab, dalam keterangannya, Rabu.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, Syaugi melihat sering terjadi lonjakan trafik penumpang yang harus dikelola. Oleh sebab itu, pada periode Nataru, Bandara Ngurah Rai akan menggunakan sistem airport collaborative decision making (ACDM) dan manajemen operasi berbasis trafik.

Sistem tersebut dapat memprediksi kepadatan penumpang dan memberi rekomendasi jumlah fasilitas dan personel yang dibutuhkan.

"Untuk mengatasi kepadatan volume kendaraan dari dan menuju bandara, kami menyiapkan pos pantau lalu lintas di beberapa titik. Kami juga sudah menyusun taktikal operasional. Jika dibutuhkan akan dilakukan rekayasa lalu lintas, pengaturan alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL), dan penyiapan kendaraan derek," jelasnya.

Baca juga artikel terkait NATARU 2025 atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - Flash News
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah