Menuju konten utama

Peringkat Daya Saing RI Turun ke Posisi 48, Rupiah Disorot

Peringkat Indonesia dalam IMD World Competitiveness 2026 turun ke posisi 48 dari sebelumnya di peringkat 40.

Peringkat Daya Saing RI Turun ke Posisi 48, Rupiah Disorot
Perajin menjemur genteng cetak di sentra UKM genteng di Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (3/3). Berdasarkan data BPS, dari 58,7 juta pelaku UMKM yang mampu menyerap 97,5 persen lapangan kerja di seluruh Indonesia hanya 27 persen yang memiliki daya saing sementara lainnya mati suri atau terancam gulung-tikar akibat kalah bersaing dengan pelaku usaha besar. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/kye/17
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - International Institute for Management (IMD) menurunkan peringkat Indonesia dalam IMD World Competitiveness 2026 ke posisi 48 dari total 70 negara. Daya saing Indonesia itu turun dari tahun sebelumnya yang masih di peringkat 40.

Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, peringkat daya saing Indonesia bahkan lebih rendah dari Malaysia (peringkat 15), Thailand (26). Vietnam (27), dan Filipina (47). Sedangkan di antara kelompok dengan negara berpenduduk di atas 20 juta jiwa, Indonesia berada di posisi 21 dari 32 negara.

Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia menghadapi lima tantangan utama di tahun ini. “Konfrontasi ekonomi global mengancam ketahanan energi nasional; Pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan; Penyesuaian kembali alokasi anggaran pemerintah; Infrastruktur dan kompetensi sumber daya manusia yang belum memadai; Keterbatasan ketersediaan sumber pembiayaan,” tulis laporan tersebut, dikutip Kamis (25/6/2026).

Sementara itu, salah satu temuan yang menonjol dalam laporan ini berasal dari survei terhadap para eksekutif bisnis. Dari responden Indonesia yang disurvei, sebanyak 86,7 persen di antaranya menyatakan volatilitas nilai tukar sebagai faktor penghambat kepercayaan dunia usaha.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi kedua di dunia setelah Venezuela yang mencatatkan hasil survei sebesar 98 persen.

“Kawasan Asia Pasifik dan Amerika Selatan mendominasi peringkat 10 besar, dengan Venezuela (98 persen) dan Indonesia (86,7 persen) menempati posisi ekstrem. Kondisi ini mengindikasikan tingginya ketergantungan dan paparan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang di kawasan-kawasan tersebut,” demikian bunyi laporan tersebut.

Secara khusus, di Asia Pasifik, Indonesia menjadi salah satu negara dari enam perekonomian dengan proporsi eksekutif terbesar menyebut volatilitas mata uang sebagai risiko utama dunia usaha. Adapun, enam perekonomian di kawasan Asia Pasifik yang masuk dalam kategori ini antara lain, Indonesia, Korea Selatan, Taiwan (Chinese Taipei), Filipina, Jepang, dan India.

“Temuan ini menunjukkan bahwa perekonomian yang bertumpu pada ekspor masih menghadapi paparan risiko nilai tukar yang cukup tinggi,” ungkap laporan itu.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana