tirto.id - Percetakan Literasi Braille di Sentra Wyata Guna, Bandung, yang berada di bawah Kementerian Sosial, menjadi salah satu pilar penting dalam pengembangan literasi bagi penyandang disabilitas sensorik netra di Indonesia.
Fasilitas ini dikenal sebagai satu-satunya percetakan yang secara rutin memproduksi dan mendistribusikan buku braille gratis ke seluruh Indonesia. Berbagai jenis bacaan dicetak, mulai dari kitab suci seperti Alquran dan Alkitab braille, hingga buku pelajaran dan pengetahuan umum untuk jenjang SD hingga perguruan tinggi.
Pengalih huruf braille, Yunna Nursyalamah, menjelaskan bahwa kebutuhan utama yang harus selalu tersedia mencakup buku keagamaan, pengetahuan umum, hingga buku keterampilan.
Selain buku, percetakan ini juga menerbitkan majalah Gema Braille yang terbit setiap dua bulan. Isinya merupakan kumpulan tulisan dari penyandang disabilitas netra maupun kontributor lain yang disesuaikan dengan tema tiap edisi. Naskah yang masuk akan melalui proses kurasi oleh dewan redaksi sebelum dicetak.
Dalam operasionalnya, percetakan mampu memproduksi sekitar 30 buku braille per hari. Namun, untuk Alquran braille, prosesnya jauh lebih kompleks. Setiap juz dicetak menjadi satu buku, sehingga satu set lengkap terdiri dari 30 jilid. Dalam setahun, produksi Alquran braille mencapai sekitar 50 set.
Seluruh proses produksi dilakukan dengan ketelitian tinggi, mulai dari pengeditan hingga penjilidan, guna memastikan akurasi setiap huruf dan tanda baca. Setelah selesai, buku dan majalah akan didistribusikan ke individu, sekolah luar biasa (SLB), kampus, serta lembaga yang telah terdaftar sebagai penerima manfaat.
Distribusi dilakukan secara berkala, termasuk pengiriman rutin majalah setiap dua bulan. Jika terdapat buku baru yang terbit, pengiriman juga dilakukan secara otomatis kepada pelanggan.
Selain produksi reguler, Literasi Braille juga melayani permintaan alih huruf dari pihak eksternal, seperti pemerintah daerah, swasta, maupun individu, dengan layanan gratis sebagai bagian dari komitmen inklusi akses literasi.
Tak hanya dalam bentuk cetak, layanan ini juga menghadirkan buku audio bagi penyandang tunanetra. Produksi audiobook dilakukan bekerja sama dengan komunitas relawan pembaca yang menyumbangkan suara mereka untuk merekam berbagai buku. Hasilnya kemudian didistribusikan secara gratis melalui media penyimpanan digital kepada penerima manfaat dan SLB.
Sejarah Panjang Literasi Braille di Indonesia
Perjalanan literasi braille di Indonesia telah dimulai sejak 1952, ketika perpustakaan braille pertama didirikan oleh tokoh peduli tunanetra, H.A. Malik Udin. Seiring waktu, lembaga ini berkembang dan mengalami berbagai perubahan nama serta lokasi.
Pada 1961, pemerintah membentuk Lembaga Penerbitan dan Perpustakaan Braille Indonesia (LPPBI) sebagai unit resmi di bawah kementerian. Lembaga ini kemudian bertransformasi menjadi Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI), hingga akhirnya menjadi Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) “Abiyoso”.
Sejak 2022, layanan ini kembali beroperasi di Bandung di bawah Sentra Wyata Guna dengan nama Literasi Braille. Hingga kini, perannya tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga membuka akses pendidikan, meningkatkan kemampuan literasi, serta mendorong kemandirian penyandang disabilitas netra di Indonesia.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































