tirto.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan niatnya untuk memperpanjang blokade terhadap pelabuhan Iran. Ia menilai blokade lebih bisa diandalkan untuk menyelesaikan masalah di Selat Hormuz, ketimbang kampanye pengeboman.
Seturut CNN, keinginan Trump untuk melanjutkan blokade tersebut telah ia sampaikan kepada para penasihat utamanya dalam beberapa hari terakhir.
Melalui pembicaraan tersebut, AS dilaporkan telah mulai memetakan rencana untuk menerapkan blokade jangka panjang, termasuk respons pada kemungkinan penutupan Selat Hormuz dalam jangka waktu lama.
Para pejabat AS juga disebut telah menerima laporan intelijen yang menunjukkan bahwa ekonomi Iran hanya dapat bertahan beberapa minggu lagi, atau bahkan beberapa hari, sebelum tekanan blokade memaksa keruntuhannya. Pada Selasa, Trump menulis di media sosialnya bahwa Iran kini berada di “keadaan runtuh”.
Blokade AS terhadap pelabuhan Iran diperkirakan membuat Iran kesulitan mengekspor minyak mereka. Hal ini jadi masalah yang lebih besar karena fasilitas penyimpanan yang terbatas, sementara produksi minyak terus berjalan.
“Yang terjadi adalah, saluran itu meledak dari dalam, baik secara mekanis maupun di dalam tanah,” katanya pada hari Minggu di Fox News. “Sesuatu terjadi di mana saluran itu meledak. Mereka mengatakan mereka hanya memiliki sekitar tiga hari lagi sebelum itu terjadi. Dan ketika meledak, Anda tidak akan pernah bisa membangunnya kembali seperti semula.”
Akan tetapi, belum jelas berapa lama Trump akan mempertahankan blokadenya. Ketika diwawancara wartawan terkait hal itu pada Rabu (29/4), Trump menjawab dengan menyebut blokade sebagai langkah “jenius”.
“Blokade ini jenius,” kata Trump ketika ditanya berapa lama blokade akan berlanjut. “Sekarang, mereka harus menyerah, hanya itu yang harus mereka lakukan. Katakan saja, ‘Kami menyerah.’”
Pada Selasa (28/4/2026), Trump bertemu dengan para eksekutif energi AS. Sejumlah pejabat Gedung Putih menyebut bahwa pertemuan itu dilakukan untuk membahas kemungkinan rencana blokade hingga berbulan-bulan dan bagaimana membatasi dampaknya terhadap konsumen Amerika.
Trump Mulai Andalkan Diplomasi Ketimbang Pengeboman
Dengan mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, Trump disebut mulai meninggalkan potensi untuk melanjutkan kampanye pengeboman. Ia kini lebih condong untuk mengandalkan diplomasi, meskipun Pentagon terus bersiap untuk misi pengeboman selanjutnya.
Secara pribadi, Trump juga telah mengungkapkan hal itu. Menurutnya, blokade dan memaksa Iran berunding lebih efektif daripada membom Teheran yang berisiko.
“Blokade agak lebih efektif daripada pemboman. Mereka tercekik seperti babi yang dijejali. Dan itu akan lebih buruk bagi mereka. Mereka tidak bisa memiliki senjata nuklir,” kata Trump kepada Axios dalam wawancara telepon pada hari Rabu.
Walaupun begitu, blokade juga bukan berarti tanpa risiko. Kekhawatiran meningkat apabila kedua negara berkonflik itu terus mempertahankan posisinya untuk memblokade pelabuhan ataupun menutup Selat Hormuz.
Penutupan selat tersebut telah menaikkan harga bensin, pupuk, dan produk petrokimia secara global. Kenaikan harga tersebut berpotensi menciptakan efek domino pada harga kebutuhan lain. Terlebih, Iran sebelumnya telah menunjukkan kemampuan untuk menahan penderitaan ekonomi yang melemahkan tanpa menyerah pada tuntutan Amerika.
Setidaknya bagi Trump, hal ini juga berpotensi mengurangi prospek Partai Republik untuk memenangkan pemilu sela tahun ini. Jika tak berhasil menang, pengaruh Trump di parlemen akan terkikis.
Editor: Ilham Choirul Anwar & Rizal Amril Yahya
Masuk tirto.id




























