Pelecehan di Kereta: Kenapa Petugas Sinis Terhadap Aduan Korban?

Oleh: Widia Primastika - 25 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Setelah pelaku turun, petugas malah memberikan komentar sinis dan melecehkan korban secara verbal.
tirto.id - "Someoen is sexuakjy assaultung meni dont jnow what to do help fuck" tulis BN, perempuan 20 tahun, di akun Twitter-nya, Selasa dini hari (23/4/2019).

Kata-kata tak beraturan dan salah ketik (saltik) di twit itu bukanlah tanpa alasan. Saat itu, BN dalam keadaan terdesak. Kepada reporter Tirto, BN menceritakan perjalanannya yang menakutkan.

BN adalah mahasiswi asal Jakarta yang berkuliah di Surabaya. Setelah melepas rindu dengan keluarga pada libur panjang Pemilu 2019, ia memilih kembali ke Kota Pahlawan, Senin malam, 22 April 2019, dengan menaiki Kereta Api Sembrani.

Untuk mengisi perjalanannya, BN pun menonton serial Game of Thrones, hingga seorang laki-laki bernama AR yang duduk di sebelahnya mengajak bercengkerama. Pria itu baru ia kenal di kereta.

"Nanya nama, sekolah, bla, bla, bla. Ternyata dia kerjanya sama seperti papa saya, kemungkinan juga mereka satu almamater, terus rumahnya juga dekat banget sama [rumah] saya," kata BN, Rabu (24/4/2019).

Sepanjang perjalanan, AR dan BN pun terus bercakap-cakap. "Dia cerita sudah punya istri, punya anak, [dia] kerja di pertambangan. Saya lihat juga wallpaper HP-nya foto anak perempuannya. Dia tanya juga aku sudah punya cowok apa belum, ya, aku jawab sudah, anak Bandung," lanjutnya.

Obrolan ngalor-ngidul itu terus berjalan hingga BN akhirnya tak kuasa menahan kantuk. Ia pun terlelap dalam perjalanan Jakarta-Surabaya itu. Namun, sekitar pukul 02.00, AR melakukan pelecehan seksual kepada BN. BN pun takut dan hanya bisa bersembunyi di balik selimut yang disediakan untuk penumpang.

BN tak tahu apa yang harus ia lakukan, apalagi salah satu tangannya dipegang AR. Dalam keadaan ketakutan dan tak mampu melawan, BN mengirim pesan kepada teman dan kekasihnya dengan menggunakan tangannya yang sebelah. "Tapi mereka tidur, enggak ada yang balas," ungkap BN.


Karena ia khawatir, akhirnya BN mencari bantuan melalui Twitter, dan menuliskan pengalamannya dalam kalimat yang yang penuh saltik di atas.

Twit BN rupanya dibaca seorang temannya yang kemudian langsung menelepon BN. Setelah mengangkat telepon, BN kemudian memberanikan diri buat pindah tempat duduk dan melapor kepada petugas keamanan kereta. "Awalnya, saya takut dicegat [AR]," kata BN.

Petugas keamanan kemudian meminta BN pindah ke gerbong restorasi. Saat bersamaan, pelaku menghilang dari kursinya dan bersembunyi di gerbong lain. Namun, AR akhirnya bisa ditangkap dan dibawa ke gerbong restorasi dengan pengawalan petugas.

Di gerbong restorasi itu, BN merasa tambah kesal. Sebab, seorang petugas malah berkata sinis. "Mbak yakin mau ngurusin masalah ini? Susah kalau enggak ada bukti," kata BN menirukan ucapan petugas tersebut.

Mendengar perkataan petugas itu, BN makin meminta pelaku dibawa ke proses hukum. Namun, petugas tetap tak menuruti lantaran pelaku memilih turun di Cepu, meski tadinya hendak turun di Bojonegoro.

Setelah pelaku turun, para petugas meminta BN kembali ke gerbong awal, lantaran trauma, ia memilih tetap tinggal di gerbong restorasi. Namun, ia malah kembali jadi korban lantaran mendapat pelecehan verbal dari seorang petugas.

"Dia bilang ke saya, 'ah biasalah, mbak, namanya juga cowok. Mending kita omongin baik-baik, dia pelanggan, saya harus jaga privasinya. Lagi pula, mbaknya lagian terlihat seperti anak karokean, bukan anak baik-baik, jelas, aja, dia berani'," ungkap BN menirukan ucapan sang petugas.

KAI Minta Maaf dan Hanya Bantu Mediasi


Vice President Public Relation PT Kereta Api Indonesia, Edy Kuswoyo mengaku sudah tahu kasus pelecehan terhadap BN. Ia menyebut PT KAI sudah menghubungi BN untuk menanyakan kronologi kejadian tersebut.

"Sifatnya kami menyelesaikan bersama, kami meminta keterangan dari korban dan pelaku, dan yang terjadi sekarang ini juga antara korban dan pelaku sudah saling memaafkan dan berdamai dengan disaksikan kondektur dan petugas di Kereta Api," klaim Edy kepada reporter Tirto.

Edy juga meminta maaf kepada BN atas pelecehan verbal dan pelayanan yang kurang baik dari petugas keamanan kereta api. Ia berjanji mengevaluasi petugas yang berdinas saat itu.

Terkait dengan proses hukum, Edy menyebut, PT KAI menyerahkan urusan tersebut kepada korban sebab kapasitas PT KAI hanya membantu mediasi antara korban dan pelaku.

"Kalau misalnya korban meminta turun di perjalanan dan langsung diproses hukum, ya, tidak masalah. Kereta api, kan, hanya sebagai saksi. Petugas yang di kereta api itu hanya menjadi saksi," ucap Edy.



Saat disinggung soal beda penanganan terhadap pelaku pelecehan seksual dan perokok yang langsung diturunkan di stasiun terdekat, Edy berdalih, merokok adalah perbuatan yang kasatmata.

"Kalau pelecehan seksual itu, kan, yang tahu hanya korban dan pelaku," ucapnya.

Sementara itu, BN mengaku masih tak terima dengan mekanisme damai yang dilakukan petugas di atas kereta. Ini karena AR bukan diturunkan petugas, melainkan inisiatif AR sendiri.

"Pelaku dibebasin, kata security-nya, asalkan enggak diulangi. Saya enggak terima, tapi saya bisa apa?” tutur mahasiswi Arsitektur semester 4 itu.



Pelecehan Seksual di Ruang Publik Tinggi

Respons petugas KAI yang cenderung sinis dan malah menyalahkan korban disesalkan aktivis perempuan, Tunggal Pawestri. Ia geram dengan cara petugas menangani dan menyebutnya sebagai kegagapan lantaran tidak ada prosedur standar dalam penanganan kasus pelecehan seksual.

"Harusnya punya prosedur supaya perempuan merasa aman, padahal perempuan melakukan perjalanan sendiri itu, kan, banyak sekali. Kalau punya SOP, kan, tinggal dia mau diproses di mana, dikasih lembaran pengaduan, ada enggak lembaran pengaduan dari PT KAI itu?" kata Tunggal kepada reporter Tirto.

Tunggal menilai pemerintah juga kurang memperhatikan perlindungan perempuan, khususnya di transportasi publik. Meski kasus pelecehan seksual marak terjadi, tapi tak ada perubahan signifikan yang dilakukan pengurus jasa transportasi. Ia pun menuntut penyedia jasa transportasi agar membentuk SOP untuk memberi ruang aman bagi penumpangnya.

"Kalau dalam hal ini pengurus, penyedia jasa tidak punya perhatian seperti ini, mau berapa lagi perempuan jadi korban?" tutur Tunggal.



BN tentu bukan satu-satunya korban pelecehan seksual di ruang publik. Pada pertengahan Maret 2019, Hollaback Jakarta pernah merilis survei kasus pelecehan seksual di ruang publik yang dipublikasikan melalui akun instagram @_perempuan_. Survei tersebut dilakukan secara online dengan melibatkan 62.224 responden dari berbagai jenis gender se-Indonesia. Hasilnya 38.766 perempuan dan 23.403 laki-laki pernah mengalami pelecehan seksual di ruang publik.

Bentuk pelecehan yang dialami pun beragam yakni siulan (17%), komentar tubuh (12%), disentuh (10%), main mata (9%), dan komentar seksis (7%). Berdasarkan lokasi pelecehan pada perempuan, jalanan umum menjadi tempat pelecehan paling sering (34%), diikuti dengan transportasi umum dan halte (19%), pemukiman (12%), sekolah (8%), dan pasar(6%). Sedangkan pada pria, sebanyak 18% pria pernah dilecehkan di jalanan umum, 17% di sekolah, 17% di tansportasi umum dan halte, 10% di pemukiman, dan 9% di kampus.

Saat dilecehkan, sebanyak 17% responden mengenakan rok/celana panjang, 16% memakai baju lengan panjang, dan 14% mengenakan seragam. Sayangnya, sebanyak 41% saksi pun memilih mengabaikan kejadian pelecehan seksual, 22% di antaranya berani membela, 15% menenangkan, 8% menyalahkan, dan 7% menghibur.

====

PEMBERITAHUAN:

Pada Jumat, 26 April 2019, pukul 09.25 WIB, redaksi mengubah judul laporan ini yang sebelumnya berjudul Pelecehan di Kereta: Perokok Saja Diturunkan, Kok Pelaku Tidak?.

Baca juga artikel terkait PELECEHAN SEKSUAL DI KERETA atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Gilang Ramadhan