Menuju konten utama

PBNU Soroti Konflik Timteng: Perang Hanya Memperluas Penderitaan

PBNU dinilai berperan strategis meredam narasi radikal yang kerap menyederhanakan konflik Timteng jadi isu sektarian. 

PBNU Soroti Konflik Timteng: Perang Hanya Memperluas Penderitaan
Ketua PBNU, Ulil Abshar Abdalla, saat menyampaikan pandangannya dalam Diskusi Pojok Kramat Spesial Harlah ke-41 LAKPESDAM PBNU bertema “Peran NU dalam Perdamaian Dunia” di Lobby Plaza PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho

tirto.id - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengangkat kompleksitas geopolitik Timur Tengah sekaligus menyoroti urgensi kemandirian diplomasi Indonesia dalam merespons konflik global yang kian memanas.

Diskursus ini mengemuka dalam Diskusi Pojok Kramat Spesial Harlah ke-41 LAKPESDAM PBNU bertema “Peran NU dalam Perdamaian Dunia” yang digelar di Lobby Plaza PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

Ketua PBNU, Ulil Abshar Abdalla, menilai konflik yang berlangsung saat ini tidak bisa direduksi sekadar sebagai pertikaian Iran dan Israel. Ia memandang konflik tersebut sebagai arena tarik-menarik kepentingan kekuatan besar dunia.

Dalam merespons situasi itu, PBNU menempuh jalur diplomasi lunak atau soft diplomacy dengan melakukan komunikasi langsung ke tiga kedutaan besar, yaitu Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh sekaligus menyampaikan sikap organisasi.

Menurut Ulil, upaya tersebut penting untuk menghadirkan perspektif yang lebih berimbang di tengah derasnya arus informasi publik yang kerap bias.

“Perang hanya akan memperluas penderitaan, bukan hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berdampak secara global, termasuk bagi Indonesia,” ujarnya.

Ulil juga mengingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi menekan stabilitas ekonomi nasional, terutama melalui kenaikan harga energi. Dalam konteks ini, dia menilai kebijakan pemerintah menahan harga minyak sebagai langkah strategis, meski membawa konsekuensi beban fiskal yang tidak ringan.

Dosen Hubungan Internasional Binus University, Tia Mariatul Kibtiah, menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah tidak bisa dipahami hanya dari perspektif agama, melainkan harus dilihat sebagai pertarungan kepentingan politik global.

Tia menekankan bahwa hubungan Iran dan Israel memiliki dinamika historis yang kompleks, terutama sejak Revolusi Iran 1979 yang mengubah orientasi politik negara tersebut.

“Ini bukan sekadar soal Sunni-Syiah atau Islam dan non-Islam, tapi soal siapa melanggar hukum internasional dan bagaimana konfigurasi kekuatan global bekerja,” jelasnya.

Tia juga menggarisbawahi pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi energi dunia. Sekitar 80 persen kebutuhan minyak Asia bergantung pada jalur ini sehingga konflik di kawasan tersebut langsung berdampak pada stabilitas ekonomi Indonesia.

Menurut Tia, NU perlu menjadi “tameng” dalam meluruskan misinformasi, termasuk narasi yang memecah belah umat berbasis identitas mazhab.

“Kalau narasi keliru ini dibiarkan, kita akan terus tertinggal karena gagal memahami realitas global secara utuh,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Indonesia, Luthfi Zuhdi, menekankan bahwa NU memiliki legitimasi moral untuk terlibat dalam isu-isu global, termasuk perdamaian dunia.

Menurut Luthfi, sejak kembali ke Khittah 1926, NU semakin aktif dalam diplomasi internasional melalui berbagai forum global yang menunjukkan komitmen terhadap penyelesaian konflik lintas negara.

Luthfi juga menyoroti pentingnya prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia yang memungkinkan negara tetap independen di tengah tekanan global.

“Indonesia punya tradisi diplomasi yang kuat dan independen. Bahkan dalam tekanan besar sekalipun, Indonesia mampu mengambil sikap berbeda dari kekuatan global,” ujarnya.

Namun, Luthfi mengingatkan bahwa dinamika global saat ini sangat ditentukan oleh perebutan sumber daya, khususnya energi dan mineral, sehingga pendekatan ideologis semata tidak cukup untuk memahami konflik internasional.

PBNU dinilai memiliki peran strategis dalam meredam narasi radikal yang kerap menyederhanakan konflik Timur Tengah menjadi isu sektarian.

Diskursus yang diangkat PBNU ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah bukan hanya persoalan kawasan, tetapi memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas ekonomi, politik, dan sosial Indonesia.

Melalui pendekatan diplomasi, penguatan kapasitas nasional, serta narasi keagamaan yang moderat, Indonesia diharapkan mampu memainkan peran strategis di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Baca juga artikel terkait PBNU atau tulisan lainnya dari Intern tirto

tirto.id - Flash News
Reporter: Intern tirto
Penulis: Intern tirto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi