tirto.id - Harga minyak dunia bergerak naik pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Namun, kenaikan masih terbatas karena pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah ke prospek peningkatan pasokan serta permintaan minyak ke depan.
Harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik 28 sen atau 0,39 persen, menjadi 72,29 dolar AS per barel. Sementara, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) menguat 29 sen atau 0,26 persen menjadi 68,84 dolar AS per barel pada pukul 00.46 waktu setempat.
Kenaikan ini terjadi setelah pada perdagangan Senin harga minyak ditutup melemah hingga kembali mendekati level sebelum pecahnya perang Iran.
"Langkah-langkah pemulihan pasokan telah meredakan premi risiko dalam jangka pendek. Namun, pasar masih berhati-hati untuk terlalu percaya pada stabilitas gencatan senjata saat ini, mengingat hubungan Amerika Serikat dan Iran kerap diwarnai pasang surut," ujar Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, dikutip Reuters.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Senin (6/7/2026) mengatakan Amerika Serikat akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau "menyelesaikan urusan itu", seraya kembali melontarkan ancaman aksi militer.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Teheran menunjukkan sikap tetap menantang setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Di sisi lain, investor terus mencermati perundingan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai kelangsungan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, sembari memantau pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Apalagi, sebelumnya Uni Emirat Arab telah menyatakan bakal meningkatkan produksi minyak mentahnya menjadi di atas 3,8 juta barel per hari (bph) pada Juni. Berdasarkan estimasi Reuters, angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak April 2020 dan telah melampaui tingkat produksi sebelum perang Iran, menyusul keluarnya negara itu dari kuota produksi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC)+ pada Mei.
Selain itu, OPEC beserta sekutunya, termasuk Rusia, pada Minggu sepakat kembali menaikkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai Agustus. Kenaikan tersebut menyusul penambahan target produksi dengan besaran yang sama pada Juni dan Juli.
"Kami akan mencermati tanda-tanda awal pemulihan permintaan, terutama dari China. Pasar saat ini telah mengantisipasi banyak kabar positif dari sisi pasokan. Karena itu, arah pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah kondisi riil di lapangan benar-benar sejalan dengan optimisme yang tercermin dalam berbagai pemberitaan," tambah Waterer.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id



































