Menuju konten utama
11 April 1993

Pardjo, Ajudan Jenderal yang Dua Kali Jadi Menteri

Ia biasa dipanggil Pardjo, pengawal setia Jenderal Soedirman semasa gerilya. Kelak, ia menjadi menteri ketika orde telah berganti. Nama lengkapnya Soepardjo Rustam.

Pardjo, Ajudan Jenderal yang Dua Kali Jadi Menteri
Soepardjo Rustam. Tirto.id/Sabit

tirto.id - Suatu malam pada pengujung tahun 1948 itu, Pardjo berjalan sendirian melawan gelap di tengah belantara rimba Kediri, Jawa Timur. Tak hanya pekatnya gelap dan ancaman para penghuni hutan yang wajib ia hadapi. Lebih dari itu, Pardjo harus bisa lolos dari barikade pasukan Belanda yang mengepung kawasan tersebut.

Misi Pardjo hanya satu, ia bertekad sampai ke desa terdekat secepat mungkin meskipun aneka bahaya mengintainya. Pardjo terus melangkah, mengapit sarung dan baju bekas. Harapannya, warga desa sudi memberi makanan dengan imbalan pakaian yang dibawanya itu.

Teman-teman Pardjo di dalam hutan sana memang sedang kelaparan, termasuk Jenderal Soedirman yang bahkan sedang sakit dan mesti ditandu kendati tiada pernah gentar untuk terus menggencarkan perlawanan. Pardjo berpikir, sang jenderal harus selamat, dan untuk itu beliau harus makan.

"Saya ingat waktu itu, Pardjo membawa sarung dan baju bekas menembus barikade pasukan Belanda yang mengepung kami. Tujuannya ternyata ingin menukar sarung dan baju bekas dengan makanan," kenang Abu Arifin, rekan seperjuangan Pardjo kala itu (Merdeka, 6 Oktober 2013).

"Saat itu, kami terdesak dan akhirnya masuk ke dalam hutan yang berada di sekitar Kediri. Bahkan, logistik pasukan sudah tidak mendukung karena kami tidak bisa keluar hutan," lanjutnya.

Pengawal Setia Panglima Besar

Kala itu, Belanda tengah menggelar agresi militernya yang kedua, dan Jenderal Soedirman mengambil keputusan untuk tetap melawan kendati tidak secara frontal, melainkan dengan taktik perang gerilya. Bersembunyi di hutan, dan keluar untuk menyerang mendadak jika ada kesempatan sebelum masuk rimba lagi.

Pasukan gerilya Soedirman memasuki Kediri pada 23 Desember 1948 (Pierre Heijboer, Agresi Militer Belanda: Memperebutkan Pending Zamrud Sepanjang Khatulistiwa, 1998:170). Mereka mencapai Kediri setelah berjalan kaki penuh kewaspadaan dari Yogyakarta lewat Wonogiri, keluar-masuk hutan dengan medan perbukitan yang tak jarang curam dan tentunya amat berbahaya.

Tak sedikit pejuang republik yang harus meregang nyawa. Bukan hanya karena bentrok melawan musuh, tapi juga kekurangan makanan. Dan dari dalam rimba Kediri, Pardjo dengan berani menembus segala macam marabahaya demi sedikit makanan. Ia sengaja pergi sendiri karena butuh lebih banyak orang untuk menjaga sang jenderal yang kondisinya terus melemah.

Lantas, apakah Pardjo selamat? Apakah Pardjo berhasil menukarkan pakaian bekasnya dengan makanan dari penduduk desa?

"Pardjo ternyata berhasil menembus barikade dan membawa pulang logistik berupa makanan. Tapi, logistik yang didapat ternyata terbatas. Saat itu, kami kira ia membawa nasi, tapi ternyata yang didapat adalah nasi oyek. Kami tetap membaginya untuk menambah energi pasukan," tutur Abu Arifin.

Pardjo adalah salah seorang ajudan setia Jenderal Soedirman, selain Abu Arifin, Tjokropranolo, juga para prajurit republik lainnya. Sayangnya, kurang dari 2 tahun setelah gerilya di belantara Kediri itu, sang panglima besar meninggal dunia karena penyakit tuberkulosis yang semakin parah.

Bagaimana dengan Pardjo? Nasib baik baginya karena kelak di kemudian hari, ketika era perang sudah jauh terlewati dan rezim pun telah berganti, ia menempati posisi sebagai gubernur bahkan lantas diangkat menjadi menteri, dua kali malah. Ya, itu Pardjo, Soepardjo Rustam nama lengkapnya.

Kapten PETA Asli Sokaraja

Pardjo sedaerah asal dengan Soedirman, maka sangat wajar jika ia sangat mengidolakan sang panglima besar raganya. Soepardjo Rustam dilahirkan di Sokaraja tanggal 12 Agustus 1926, sementara Soedirman lahir satu dekade sebelumnya di Purbalingga. Kedua tempat itu sama-sama termasuk wilayah Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah.

Sama seperti Soedirman, pengalaman pertama Pardjo di ketentaraan adalah dari Pembela Tanah Air (PETA), suatu kesatuan militer bentukan pemerintah Jepang semasa menduduki Indonesia sejak 1942 (William Henry Newell, Japan in Asia 1942-1945, 1981:38). Posisi Pardjo tertinggi saat itu adalah sebagai Daidancho, komandan batalyon dengan pangkat setingkat kapten.

Pardjo tetap bersetia sebagai tentara republik setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan Belanda datang lagi tak lama berselang. Keputusan Soedirman yang ingin tetap melawan dan menolak cara-cara negosiasi diikuti oleh Pardjo dengan khidmat. Ia dengan setia mengawal sang jenderal, termasuk saat bergerilya di Kediri itu.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia sepenuhnya sejak 27 Desember 1949, yang kemudian disusul dengan wafatnya Jenderal Soedirman pada 29 Januari 1950, Pardjo tetap menekuni kariernya di militer meskipun tidak ada perang lagi.

Pada 1952, ia ditugaskan berdinas ke mantan negeri penjajah, sebagai Sekretaris Atase Militer RI di Belanda. Hanya setahun, Pardjo pulang ke tanah air dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk TNI-AD sebagai Perwira Staf Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) pada 1953 hingga 1955 dan 1958, serta sempat menjadi Komandan Sekolah Infanteri di Curup, Sumatera Selatan, pada 1956-1957.

Selanjutnya, Pardjo dikirim ke Malaysia sebagai Atase Militer RI di Kuala Lumpur (1959-1962), kemudian berturut-turut menjadi Deputi Asisten VI Menteri Panglima AD (1963-1966), Direktur Urusan Asia dan Pasifik Departemen Luar Negeri (1967), Duta Besar RI di Yugoslavia (1971), serta Duta Besar RI di Malaysia (1972).

infografik soepardjo rustam

Gubernur, Dua Kali Jadi Menteri

Pensiun dari ketentaraan, Pardjo melanjutkan kiprahnya di kancah pemerintahan. Di zaman Orde Baru pimpinan Soeharto itu, memang sangat banyak mantan orang militer yang jadi pejabat, bahkan pengusaha. Soepardjo Rustam juga sama, ia memperoleh kedudukan sebagai Gubernur Jawa Tengah sejak 1974 hingga 1982.

Dari kursi gubernur, karier Soepardjo Rustam di pemerintahan melonjak dengan mulus ketika Soeharto selaku presiden menunjuknya sebagai Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia sejak 19 Maret 1983 (Muhamad Hisyam, Krisis Masa Kini dan Orde Baru, 2003:206).

Setelah masa jabatan Soepardjo Rustam sebagai Mendagri berakhir pada 23 Maret 1988, Soeharto rupanya masih mempercayainya untuk tetap duduk di kabinet. Kali ini, Pardjo memperoleh posisi sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat alias Menko Kesra untuk menggantikan Alamsyah Ratu Perwiranegara, sementara kursi Mendagri dilanjutkan oleh Rudini.

Soepardjo Rustam mengampu jabatan Menko Kesra hingga 17 Maret 1993. Namun, ia hanya setahun menikmati masa-masa tenangnya. Tanggal 11 April 1993 atau tepat 24 tahun yang lalu, Pardjo sang mantan ajudan setia Panglima Besar Jenderal Soedirman itu wafat.

Saat upacara penguburannya, seperti dituliskan Jacob Oetama dalam Suara Nurani: Tajuk Rencana Pilihan, 1991-2001 (2001:219), seorang veteran yang hadir di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, berucap lirih: “Satu per satu pergi, kami dari Angkatan 1945. Satu per satu pergi, para pejuang dari generasi pengawal republik.”

Soepardjo Rustam oleh Jacob Oetama disebut sebagai tokoh nasional yang netral, tidak terlibat kepentingan politik manapun meskipun menjadi bagian dari rezim Orde Baru. Pardjo, tulis Jacob, “Hanya masuk kelompok keluarga besar bangsa dan orang Indonesia. Ia putra Indonesia!”

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Humaniora
Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Maulida Sri Handayani