Musik di Afghanistan, Diputar dan Dihentikan

Oleh: R. A. Benjamin - 2 September 2021
Dibaca Normal 4 menit
Musik d Afghanistan berubah seiring perkembangan politik. Ia sempat jaya, dan mungkin kembali terpuruk saat Taliban berkuasa.
tirto.id - Afghanistan terletak di "perempatan Asia" dan menjadi salah satu titik penting dalam Jalur Sutra. Ia berdiri di antara kebudayaan-kebudayaan besar seperti Persia dan India (sebelum pecah menjadi Pakistan). Selain jual-beli produk, tukar-menukar atau penyerapan kebudayaan semestinya lumrah.

Namun negeri tanpa laut itu juga dijuluki "Graveyard of Empires" lantaran kekuatan asing selalu gagal menginvasin—yang juga berarti ia kerap diserbu negeri lain. Dari mulai Persia, Mongolia, hingga yang terkini Amerika Serikat.

Lebih sering terkoyak perang ketimbang stabil dan hidup tenang, sulit membayangkan produk budaya seperti musik bisa tumbuh di sana. Tapi toh ia tumbuh juga.

Di Afghanistan, makna musik lebih terbatas daripada pemahaman umum tentangnya. Dia selalu lebih berarti instrumental alih-alih vokal. Mengumandangkan nyanyian keagamaan, misalnya, tentu diperbolehkan. Tetapi memainkan musik dengan rubab, atau alat musik lain, bisa saja mendatangkan bahaya. Ketimbang mendengarkan musiknya sendiri, kita lebih sering terekspose kabar di sana alat-alat musik dihancurkan. Cukup ironis mengingat negeri tempat lahir Moinuddin Chishti dan Jalaludin Rumi ini memegang peran krusial dalam musik-musik sufisme.

Etnomusikolog Hiromi Lorraine Sakata menyebut musik populer di Afghanistan terbagi menjadi tiga bagian: masa keemasan, masa kegelapan, dan kebangkitan kembali pada "masa internasional".

Masa keemasan berlangsung pada 1950-1970-an, ketika negeri ini berjalan stabil di bawah kepemimpinan Mohammad Zahir Shah. Meski berstatus raja, ia membawa beberapa perubahan fundamental yang lazim dijumpai dalam negara demokrasi seperti pemilihan umum, parlemen, dan hak sipil termasuk perempuan.

Masa kegelapan dimulai sejak invasi Uni Soviet pada 1979, yang memicu eksodus orang-orang Afghan, tak terkecuali para musisi. Masa suram itu memuncak ketika Taliban mengambil alih kekuasaan (1996-2001).

Masa internasional atau "awal baru" dimulai saat Taliban jatuh berkat campur tangan Amerika Serikat dalam proyek "War on Terror". Ia ditandai dengan beberapa hal seperti: lagu kebangsaan baru, bantuan internasional untuk institusi musik, akses terhadap instrumen dan musik-musik internasional, dan penghormatan untuk lagu-lagu masa keemasan yang dibawakan ulang dengan gaya kontemporer.

Dengan kembali berkuasanya Taliban, "awal baru" itu kini menghadapi situasi yang tidak pasti: antara terus berputar atau kembali terhenti.


Bangkitnya Musik Populer

Perkembangan musik populer Afghanistan terjadi berkat bantuan keturunan musisi istana asal India yang disebut ustad, diambil dari bahasa Dari. Mereka melatih para musisi, baik itu amatir maupun profesional. Musikolog spesialis Afghanistan John Baily juga mencatat bahwa selain rubab, seluruh instrumen musik di negeri itu diadopsi dari kawasan utara India.

Radio Kabul (kelak berganti nama menjadi Radio Afghanistan) juga berperan penting. Dalam populasi kelompok etnis dan bahasa yang beragam, yang sebagian besar buta huruf dan tak punya akses ke bentuk media lain, Radio Kabul menjadi pemersatu bangsa dengan menyediakan program dalam dua bahasa utama, Dari (Persia) dan Pashto. Stasiun radio ini juga merekrut para penyanyi perempuan dengan tujuan meningkatkan status mereka di dunia hiburan.

Bangkitnya musik populer Afghan pada dekade 1960-an juga dapat dikaitkan dengan kelompok siswa sekolah menengah di Kabul yang terpapar musik-musik barat. Salah satu musisi bertalenta ini adalah Ahmad Zahir, anak dari Dr. Abdul Zahir yang sempat menjabat sebagai Perdana Menteri Afghanistan.

Popularitas Ahmad Zahir bahkan disetarakan dengan bintang-bintang Barat pada dekade itu. Kematian sang "Elvis Afghan" pada sebuah kecelakaan mobil—dipercaya sebagai pembunuhan—ditangisi dan makamnya diziarahi banyak orang sebelum dihancurkan Taliban pada 1990-an. Popularitas dan polemik akibat kematiannya membuat dia menjadi legenda, tak hanya di Afghanistan tapi juga di negara-negara tetangga di Asia Tengah.

Penyanyi populer lain adalah Farida Mahwash, yang pernah bertugas sebagai sekretaris di Radio Kabul. Tadinya, perempuan yang bernyanyi di ruang publik kerap dikaitkan dengan prostitusi. Itu sebelum beberapa perempuan dari kalangan elite seperti Mahwash menjalankan profesi sebagai biduan. Mahwash yang memulai karier pada 1960-an menjadi perempuan pertama dengan gelar ustad.

Mahwash hidup dalam ketakutan pada masa kegelapan. Ia bertahan di Kabul sampai 1991 sebelum menerima suaka politik dari Amerika Serikat. Sang penyanyi yang dijuluki "Suara Afghanistan" baru kembali untuk tampil di Kabul pada 2007.

Perang Sipil (1992-1996) yang dimenangkan Taliban menjadi penegas kelamnya masa kegelapan musik di negeri itu.

Skena musik Afghanistan baru terlahir kembali sejak invasi AS pada 2001 yang diikuti penggulingan rezim Taliban. Kompetisi menyanyi seperti Afghan Star dan The Voice of Afghanistan ditayangkan di televisi. Musik rock menemukan jalannya di negeri ini ketika Kabul Dreams terbentuk pada 2008. Di lain sisi, nama-nama seperti DJ Besho, Awesome Qasim, dan Sonita Alizadeh mencuat di skena hip-hop.

Dari situs musik/streaming radio last.fm saya menemukan Burka Band yang keseluruh personelnya perempuan. Mereka tampil mengenakan burkak demi menyembunyikan identitas sekaligus protes terhadap peraturan Taliban. Sementara dari situs-situs metal, untuk pertama kalinya saya mendengarkan nama District Unknown, band metal pertama di Afghanistan.


Infografik Kronik Musik Populer Afghanistan
Infografik Kronik Musik Populer Afghanistan. tirto.id/Quita


Musik atau Mati

But why is your destiny dark?
Why is your destiny so dark?

Dalam video klip lagu bertajuk "64", District Unknown mempertanyakan takdir yang menimpa 64 korban serangan bunuh diri di Kabul. Ada melankolia yang berbeda, yang nyata, ketika hal itu dipertanyakan oleh band yang lahir di tanah di mana perang seperti tak berkesudahan. Perjalanan band metal pertama Afghanistan itu bisa disaksikan dalam dokumenter berjudul RocKabul (2018) arahan Travis Beard.

"Kau harus berpikir bahwa Kabul mungkin adalah tempat yang paling tidak ramah rock 'n roll di planet ini, dan di sini kau melihat anak-anak ini mencoba untuk memulai sebuah band metal," ujar Bill Gould, pemain bas Faith No More. Ia tergerak membantu rampungnya RocKabul dengan menempati posisi produser eksekutif.

Gould menyatakan ada bahaya ketika memutuskan memainkan musik keras; ada semangat yang mengiringi diri menuju teritori yang tak dikenal. Dan District Unknown membawa semangat itu seribu kali lebih jauh. Bagi band yang mengklaim memainkan psikedelik metal itu, bahaya datang dari Taliban yang melarang keras musik. Mereka harus tampil sembunyi-sembunyi di gigs underground (secara harfiah, karena dihelat dalam suatu basemen di Kabul). Seperti Burka Band, mereka harus menyamarkan identitas dengan mengenakan topeng.

Dari bawah tanah Kabul yang terkoyak perang, District Unknown bermula dari tidak-bisa-nyetem-gitar hingga membuat satu album, lantas meraih penghargaan Global Metal pada ajang Metal Hammer Golden Gods Awards 2015.

Dua personelnya kemudian pindah ke Inggris dan AS untuk membuat band baru yang sarat akan pengaruh ISIS (band) dan Neurosis. Afreet, nama band pilihan vokalis Yo Khalifa dan gitaris Sulleiman Omar, mengusung musik post-metal.

Jika dua personel itu telah menemukan metal macam apa yang sesungguhnya ingin mereka mainkan, personil lain District Unknown lain lagi. Band metal pertama sekaligus satu-satunya Afghanistan itu kini berakhir tanpa kejelasan. Yang pasti mereka pernah ada di sana, dan terdengar ke seluruh penjuru dunia.

"Jika kita tidak berbicara tentang siapa kita dan tidak mengekspresikan diri kita, maka kita mati," kata salah satu personel District Unknown.


Perkataan serupa diucapkan Ahmad Naser Sarmast, pendiri Afghanistan National Institute of Music yang memberikan kesempatan serta kepercayaan diri untuk para perempuan Afghanistan bermusik: "Kami tidak pernah bisa benar-benar melepaskan musik atau cara hidup kami," katanya. Bagi dia, perang berlarut-larut di negaranya tak ubahnya genosida kultural, dan dia memilih melawan.

Seperti banyak musisi lain, Sarmast menanti janji Taliban bakal mengelola negara lebih inklusif, menghormati keberagaman, dan hak asasi manusia. Ia optimistis menyongsong era musik Afghanistan yang baru, dengan instrumen musik internasional, dengan rock dan metal.

Tapi pernyataan Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban dalam wawancara kepada The New York Times, meruntuhkan harapan tersebut. "Musik dilarang dalam Islam," katanya. Ia menyiratkan bahwa Taliban akan kembali melarang musik.

Era baru musik Afghanistan tampaknya bakal kembali menuju takdir yang gelap, di mana rubab kembali tak berbunyi dan para musisi yang memainkannya bakal diterpa represi, atau jika cukup beruntung hengkang dari tanah air mereka sendiri sekali lagi.

Baca juga artikel terkait AFGANISTAN atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino
DarkLight