tirto.id - Dalam pasar Indonesia yang terus bergerak dinamis, kemampuan membaca dan menafsirkan data secara real-time kini menjadi faktor utama dalam menjaga kelincahan dan daya saing bisnis. Isu strategis ini menjadi sorotan dalam sesi “Commanding the Future: How AI and Live Data Drive Business Agility, Scalability, and Growth” pada ajang MMA Impact 2025 di di The Ritz-Carlton Jakarta, pada Kamis (6/11/2025).
Sesi ini dipandu oleh Rachmadin Ismail, Pemimpin Redaksi Tirto.id, dengan dua narasumber utama yakni, Executive Vice President – Head of Marketing, Branding & Customer Experience CIMB Niaga, Amir Widjaya; Director Marketing HM Sampoerna Tbk, Gunnar Beckers.
Dalam diskusi panel tersebut, para pembicara sepakat bahwa penerapan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), tidak bisa lagi dilakukan sekadar mengikuti tren. Teknologi perlu diintegrasikan dengan visi dan tujuan yang jelas agar benar-benar memberikan nilai bagi pelanggan maupun bisnis.
Dalam kesempatan tersebut, Amir menekankan pentingnya menempatkan teknologi sebagai bagian dari perjalanan transformasi yang lebih luas, yaitu memahami kebutuhan dan perilaku konsumen secara menyeluruh. AI, menurutnya, dapat membantu bisnis menghadirkan pengalaman yang lebih personal, relevan, dan bermakna, bukan sekadar efisien.
“Ada tujuan dalam setiap hal (termasuk penggunaan AI) yang kami lakukan dalam bisnis, dan bagaimana kami menempatkan hal itu agar dapat membantu pelanggan mewujudkan impian mereka,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Gunnar Beckers, yang menyoroti bagaimana organisasi perlu menyeimbangkan tiga hal penting dalam menghadapi disrupsi AI: manusia, proses, dan data.
“kita perlu mengelola manusia, mengelola proses, dan mengelola data. Karena itu, peningkatan keterampilan sumber daya manusia menjadi hal yang sangat penting,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pelatihan dan pengembangan keterampilan baru, terutama dalam berpikir kritis, berempati, serta memahami konteks bisnis secara utuh. Selain itu, pengelolaan data dan privasi pelanggan menjadi aspek fundamental agar perusahaan tetap dipercaya dan relevan di mata konsumen.
Gunnar juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi sebaiknya tidak mengorbankan sisi kreativitas. Meskipun AI mampu mengoptimalkan strategi pemasaran dan personalisasi konten, ide-ide segar tetap lahir dari intuisi dan imajinasi manusia.
“Karena mesin saat ini mampu melakukan optimasi, tetapi manusialah yang dapat melahirkan ide-ide luar biasa dan mewujudkannya dengan cara yang unik serta mampu menarik perhatian konsumen.,” tambahnya.
Di sisi lain, diskusi juga menyoroti tantangan budaya kerja di tengah percepatan teknologi. Amir menilai bahwa agar transformasi digital berhasil, organisasi harus membangun budaya unlearning dan relearning—keberanian untuk meninggalkan cara lama dan mempelajari pendekatan baru.
Pendekatan ini tidak hanya berlaku di tingkat individu, tapi juga dalam ekosistem kemitraan antara perusahaan dan agensi. Kolaborasi yang sebelumnya berbasis intuisi kini perlu dilandasi oleh data, riset, dan strategi yang lebih ilmiah.
“Bahwa ke depan, kita perlu melakukan semuanya dengan pendekatan yang lebih ilmiah dan strategis. Itu mungkin salah satu hal yang bisa saya bagikan,” jelas Amir.
Menutup sesi, Rachmadin mengutip pandangan dari World Economic Forum bahwa perusahaan paling sukses di era AI bukanlah yang memiliki data terbanyak, melainkan yang mampu bertindak dengan tujuan yang jelas. Ia juga menyoroti peran media dalam menjaga integritas informasi di tengah derasnya arus konten digital.
“Kita sering bicara soal produksi dan distribusi konten, tapi yang tidak kalah penting adalah penciptaan dan verifikasi. Media perlu berperan sebagai penjaga kebenaran di era AI,” ujarnya.c
Masuk tirto.id































