tirto.id - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) akan memfokuskan pembinaan atlet pada 21 cabang olahraga (cabor) utama. Langkah ini dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat sekolah dasar demi menciptakan ekosistem prestasi yang berkelanjutan melalui skema pembinaan jangka panjang.
"Kami sedang mengonsolidasikan yang namanya Akademi Olahraga dan fokus di 21 cabang olahraga saja. Karena ini nanti persaingan olahraga makin kompleks. Ini yang diharapkan tentu bagaimana punya standar dan juga menuju Olimpiade, dimulai dari SD, SMP, SMA," ujar Menpora Erick Thohir di Kantor Bakom, Kamis (7/2/2026).
Erick menegaskan untuk mencapai prestasi di level olimpiade, pemerintah tidak bisa lagi mengandalkan cara instan. Pembinaan harus dilakukan secara sistematis sejak dini agar kualitas atlet benar-benar teruji saat memasuki usia emas.
"Tidak ada bahwa 'oh, atletnya nanti sebulan sebelum Olimpiade kita latih,' tidak ada. Dan kita harus berkaca diri. Filipina bisa dua medali emas Olimpiade dari gimnastik, karena atletnya berlatih di Jepang selama 6 tahun, baru nanti bisa berhasil," jelas Erick mengenai pentingnya durasi pembinaan.
Terkait pelaksanaan program ini, Kemenpora mengadopsi model pelatnas multiyears yang terintegrasi. Hal ini dilakukan agar kurikulum pelatihan yang diterapkan sesuai dengan standar internasional dan didampingi oleh tenaga pelatih yang mumpuni.
"Kami lagi coba siapkan dengan baik. Kami juga sudah melakukan kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memfasilitasi kebutuhan pelatih dan wasit di tingkat sekolah. Kami sedang melakukan perbaikan ekosistem kebijakan olahraga nasional dengan adanya DBON (Desain Besar Olahraga Nasional)," tambahnya.
Erick juga menekankan program ini merupakan bagian dari upaya besar pemerintah dalam menyiapkan regenerasi atlet agar tidak terjadi kekosongan bakat. Ia menegaskan investasi pada atlet muda adalah kunci utama.
"Tidak ada penciptaan atlet ya dengan waktu singkat. Tidak ada. Kita mau Olimpiade 2032, atletnya harus dididik dari sekarang," ungkap Erick.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































