Menuju konten utama

Menhaj: Petugas Haji Wajib Utamakan Jemaah

Menhaj mengingatkan petugas haji harus mengutamakan pelayanan jemaah dibanding ibadah pribadi selama bertugas di Tanah Suci.

Menhaj: Petugas Haji Wajib Utamakan Jemaah
Pembukaan pendidikan dan pelatihan (diklat) PPIH Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026). Tirto.id/Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, mengingatkan kepada petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) agar mengutamakan pelayanan kepada jemaah dibandingkan ibadah pribadi selama menjalankan tugas di Tanah Suci.

Hal ini disampaikannya dalam pembukaan pendidikan dan pelatihan (diklat) PPIH Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026).

“Tapi jika pada satu saat ada pilihan apakah harus menjalankan ritual haji, apakah harus ataukah harus melayani jemaah, sudah jelas pilihannya melayani jemaah,” ujar Gus Irfan dalam sambutannya.

Gus Irfan kemudian mencontohkan situasi seperti keinginan petugas untuk melaksanakan salat di Masjidil Haram, sementara pada saat yang sama ada jemaah yang memerlukan pertolongan.

“Demikian juga keseharian ketika mau berangkat, jenengan (Anda) mau ikut salat di Masjidil Haram misalnya, ada jemaah yang minta bantuan, [Anda jawa] ‘sik, saya tak salat dulu,’ no way! Layani jemaah dulu,” tegas Gur Irfan.

Sebanyak 1.636 Petugas Ikuti Diklat, Digelar Offline dan Online

Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Puji Raharjo mengatakan bahwa diklat ini diikuti sebanyak 1.636 peserta dari seluruh Indonesia. Diklat ini dilaksanakan secara luring (offline) dan akan dilanjutkan dengan pembelajaran daring (online).

Puji mengatakan para petugas yang hadir itu akan ditugaskan di Daker (Daerah Kerja) Makkah, Daerah Kerja Madinah, Daerah Kerja Bandara, di sektor dan layanan lainnya.

“Diklat pada kesempatan pagi hari ini dipersiapkan untuk menampung sejumlah 1.636 peserta dan alhamdulillah sampai pagi tadi yang sudah hadir sejumlah 1.501 orang, sebagian masih di perjalanan,” jelas Puji.

Peserta akan dibekali berbagai materi, antara lain kedisiplinan dan baris-berbaris, mekanisme pelayanan jemaah, serta alur operasional di Arab Saudi. Terlebih kebijakan penyelenggaraan haji 2026 yang mengalami sejumlah perubahan.

Selain itu, seluruh peserta akan mendapatkan pelatihan Bahasa Arab untuk memudahkan komunikasi di Arab Saudi.

“Seluruh yang hadir di sini sudah dilakukan pre-test dan sudah dikelompokkan mana yang belum tahu sama sekali, mana yang tahu, mana yang sudah expert. Fokus kita ada yang belum tahu dan masih tahu sedikit itu yang akan kita tingkatkan sehingga mampu berkomunikasi dalam bahasa Arab dasar di Saudi yang selama ini menjadi keluhan,” tuturnya.

Diklat PPIH Haji 2026

Pembukaan pendidikan dan pelatihan (diklat) PPIH Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026). Tirto.id/Rahma Dwi Safitri

Menhaj Minta Fasilitator Tak Ragu Coret Haji yang Bermasalah

Menhaj Gus Irfan meminta para fasilitator diklat PPIH tidak ragu mencoret peserta diklat PPIH yang dinilai bermasalah dan tidak layak bertugas. Menurutnya, kualitas petugas menjadi kunci utama keberhasilan pelayanan jemaah haji Indonesia.

“Kepada fasilitator, jangan ragu-ragu mengingatkan kepada peserta. Diingatkan sekali, dua kali, tiga kali, kalau tidak bisa diingatkan, coret!” katanya.

Menurut Gus Irfan, petugas haji pada dasarnya dipilih untuk menjadi petugas yang profesional. Sehingga, apabila dalam pelatihan petugas tak bisa diberikan arahan, keberangkatan bisa dibatalkan.

Panjenengan semua saya minta untuk saya harapkan menjadikan mereka petugas-petugas haji yang bagus. Tapi kalau dibina, dididik tidak bisa, silakan panjenengan punya hak untuk mencoret mereka dan tidak diberangkatkan ke Saudi,” ujar Gus Irfan.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Alfons Yoshio Hartanto