Mengutuk dan Merayakan Masturbasi

Ilustrasi wanita orgasme setelah masturbasi. GETTY IMAGES
Oleh: Dea Anugrah - 25 November 2016
Dibaca Normal 3 menit
Di awal zaman modern, masturbasi dikutuk sebagai penyebab segala hal buruk: dari bangkrutnya negara hingga epilepsi. Tapi pembelaan terhadap masturbasi juga amat dahsyat.
tirto.id - Di setiap tempat, pada setiap zaman, penguasa selalu punya cara untuk menjelaskan kegagalan pemerintahan. Penjelasan-penjelasannya kadang masuk akal, tapi lebih sering menggelikan. Rezim Victoria (1837-1901), misalnya, menganggap Britania Raya mengalami kemunduran karena rakyatnya gemar merancap. Bukan main, jika orang-orang kelewat getol mengokang atau menggosok perabotan leluhur mereka, negara bisa ikut keseleo dan teramplas kejayaannya.

Bagi sang ratu dan para pembantunya, merancap adalah perwujudan solipsime—anggapan keblinger bahwa "di luar aku dan pikiranku, tidak ada apa-apa". Jika tanah air, patria, sudah dianggap tak ada, patriotisme jelas jadi proyek mustahil. Padahal, di tanah-tanah jajahan, bangsa-bangsa yang tadinya loyo dan bisa dicerai-beraikan dengan gampang justru mulai melawan sembari membawa pikiran “aku hanya sekrup dari mesin perjuangan.”

Dan itu bukan persoalan satu-satunya. Di London, pada 1716, rohaniwan asal Belanda Dr. Balthazar Bekker menerbitkan pamflet yang judulnya asyik benar, "Onani atawa Dosa Keji Pencemaran Diri dan Segala Akibatnya yang Mengerikan pada Laki maupun Perempuan; Dilengkapi Nasehat Fisik dan Spiritual bagi Mereka yang Telanjur Melukai Diri dengan Perbuatan Celaka Tersebut”.

Bekker menuding merancap sebagai sebab dari hampir seluruh penyakit yang dikenal khalayak masa itu: gangguan pencernaan, penurunan atau peningkatan selera makan secara ekstrem, muntah-muntah, kerusakan pada organ pernapasan, kelumpuhan, impotensi, encok, ketidaksesuaian antara penglihatan dan pendengaran, kepucatan, bintik-bintik di wajah, kecekingan, penurunan daya pikir, hilang ingatan, kegilaan, epilepsi, demam, dan bunuh diri.

(Siapa sangka, ratusan tahun kemudian daftar serupa akan muncul lagi dalam pelbagai penjelasan tentang bahaya narkoba dan komunisme).

Di tengah kegelapan saintifik, peringatan-peringatan Bekker jelas menakutkan. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang tak peduli pada kesehatan? Bukankah mereka bisa tetap merancap dengan dasar "tubuh aing, kumaha aing!" atau semacamnya? Penangkal terhadap cara berpikir demikian, baik yang didasari aturan-aturan agama maupun “sains”, malah sudah lebih dulu ada.

Dalam Genesis atau kitab Kejadian, ada cerita tentang Onan, laki-laki yang sengaja “menumpahkan bibit di luar saluran peranakan istrinya". Tuhan murka dan mencabut nyawa Onan. Di kemudian hari, janda Onan dan Judah, ayah Onan, berzinah. Si Janda hamil, Tuhan senang.

Menurut Julia Peakman dalam The Pleasure's All Mine: A History of Perverse Sex, sebuah teori populer di abad pertengahan menyatakan bahwa mani mengandung homunculi (sebuah dokumen buatan seorang pakar mikroskop Belanda pada 1699 menggambarkannya serupa jenglot). Homunculi ialah manusia utuh yang dimampatkan. Untuk “kembali” ke bentuk yang sempurna, ia memerlukan habitat khusus—lazimnya rahim, tetapi tidak harus.

Siddharta Mukherjee, dalam The Gene: An Intimate History, melaporkan: pada 1520an, alkemis Swiss-Jerman Paracelsus mengatakan bahwa mani yang dihangatkan dengan tahi kuda dan diperam di lumpur selama empat puluh minggu bisa tumbuh menjadi manusia. Hanya, kata Paracelsus, kelak ia bakal memiliki kepribadian yang buruk.

Kebencian rezim Victoria terhadap merancap, dengan demikian, disokong argumen-argumen “ilmiah”, politis, dan relijius. Maka, tak mengherankan bila di masa itu orang berlomba-lomba mencari cara mengatasi kebiasaan tersebut.

Hasilnya beragam, mulai dari perkakas mengerikan seperti the jugum penis (1880), cincin bergerigi yang mengerkah penis setiap kali ia ereksi, dan the spermatic truss (1876), kurungan yang memaksa penis senantiasa merunduk, hingga sepakbola modern.

Yang terakhir itu, menurut Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid, terlahir di lingkungan sekolah-sekolah di Inggris, dari keresahan para pendidik. Menurut mereka, olahraga modern yang seru dan menuntut kesungguhan itu akan membuat siswa-siswa tak sempat merancap.

Lord Baden-Powell, bapak Pramuka, bahkan ikut menyumbang suara. Cara terbaik buat menjauhkan diri dari keinginan mengokang batang, menurutnya, ialah dengan merendamnya dalam air sedingin es saban pagi hari.

Namun, mengingat bahwa praktik merancap tetap populer hingga hari ini, dapatlah diasumsikan bahwa ada pembelaan yang dahsyat terhadap kegemaran merancap.

Pada 1879, di The Stomach Club, Paris, novelis Amerika Serikat Mark Twain berpidato mengenai topik tersebut. “Setiap penulis hebat tentang kesehatan dan moral, baik dari zaman kuno maupun modern, telah bertungkus lumus membicarakan hal ini,” katanya. “Itu menunjukkan bahwa ia adalah perkara penting.”

“Homer, dalam Iliad jilid dua, bicara dengan semangat berkobar, 'Beri aku kematian atau izinkan aku merancap.' Julius Caesar, dalam Commentaries, mengatakan, 'Merancap adalah rekan bagi orang-orang kesepian, kawan bagi orang-orang yang ditinggalkan, dermawan bagi orang-orang tua dan loyo,'” Twain melanjutkan.

Menurut penulis yang lazim dianggap sebagai orang paling jenaka pada zamannya itu, Ratu Elizabeth pernah mengatakan, “Merancap ialah benteng keperawanan.” Dan Benjamin Franklin yang abadi, ujarnya, menganggap “merancap adalah kebijakan terbaik.”



Kutipan-kutipan itu tentu karangan Twain sendiri. Jauh sebelum keberadaan internet, ia sudah melakukan mashup. Ia menjambret, lalu menambahkan muatan baru pada kata-kata para tokoh termahsyur itu.

Masih mengusung semangat guyon, Twain mengatakan, “Tanda-tanda kegemaran terhadap kegiatan pengisi waktu luang yang merusak ini gampang terlihat, antara lain keranjingan makan, minum, merokok, beramah tamah, tertawa, bercanda, serta menyampaikan cerita-cerita lancang—dan terutama, hasrat untuk melukis.”

Namun, pengarang kisah-kisah petualangan Hucklebery Finn dan Tom Sawyer itu mungkin tidak menduga: sekitar seabad setelah kematiannya, akan ada orang yang membicarakan hubungan antara merancap dan melukis dengan nada serius dan tanpa maksud meledek. Orang itu adalah Alain de Botton, penulis kajian-kajian filsafat, sastra, dan psikologi populer.

Menurut de Botton dalam “On Art and Masturbation”, sekurangnya terdapat empat hal yang sama-sama dikerjakan oleh para pelukis dan perancap yang terampil—tatkala yang satu berupaya menciptakan mahakarya dan yang lain mencari kenikmatan.

Yang pertama ialah pencarian bahan dasar. Bagi orang-orang awam, salah satu misteri terbesar tentang seni ialah asal-usul inspirasi, kata de Botton. Padahal, para seniman kerap menemukan bahan dasar dari kehidupan sehari-hari yang dialami semua orang. “Kita melihat sejumlah pohon, stasiun pengisi bahan bakar, pemandangan kota atau desa; sedangkan mereka melihat bahan baku untuk mahakarya,” tulisnya.

Dan demikian pula yang dilakukan seorang perancap. Ia merekam, misalnya, lengan berambut halus yang dilihatnya di kereta komuter, betis pulen milik bibi-bibi muda yang mandi di padusan di dusunnya belasan tahun lalu, bibir Scarlett Johansson, dan lain-lain, buat nanti disatukan dalam kanvas erotiknya.

De Botton menulis: “Seperti sang seniman, si perancap menyelamatkan orang-orang dari dunia sehari-hari yang boyak, lalu menampilkan mereka dengan daya tarik dan kedalaman yang telah dilupakan orang-orang lain.”

Kesamaan berikutnya ialah kepekaan dan perhatian terhadap detail. Jika Rembrandt dalam sejumlah lukisan potret dirinya yang terakhir banyak merinci sorot mata yang melankolik, seorang perancap biasa menempatkan konsentrasi erotiknya pada rincian kecil seperti, katakanlah, bagian stoking yang agak merekah atau anak rambut yang menempel pada dahi.

Ketika akhirnya si perancap hendak menuangkan temuan-temuannya dalam sebuah citraan mental, ia tentu harus mengatur komposisi dan menyusun cerita.

Ia bisa, misalnya, menghimpun kaus dan sepatu putih yang dilihatnya suatu pagi semasa sekolah dengan rok pendek bermotif kotak-kotak yang ia temui di internet, memberikannya kepada seseorang yang men-“swipe left” profilnya di tinder, dan menempatkan orang tersebut dan dirinya di sebuah kandang kambing kosong pada malam hujan badai. Ceritanya, mereka selamat dari apokalips dan sedang beristirahat setelah seharian mencari para penyintas lain.

“La pittura è cosa mentale,” ujar Leonardo da Vinci suatu kali. Seni adalah kerja mental. Demikian pula merancap. Menurut de Botton, apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh, rancapan bisa mempunyai naratif yang sekompleks dan tampilan seindah lukisan mana pun di dunia fana ini. Ia bisa menjadi sama artistiknya, meski tentu tak dapat dipamerkan di galeri.

Baca juga artikel terkait MASTURBASI atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Zen RS
DarkLight