Menuju konten utama

Mengapa Presiden dan Wakil Presiden Harus Sehat dan Bugar?

Pencalonan Ma'ruf Amin menjadi perbincangan karena--salah satunya--dianggap terlalu tua.

Mengapa Presiden dan Wakil Presiden Harus Sehat dan Bugar?
Ilustrasi kebugaran presiden. FOTO/tirto.id

tirto.id - Sejak hari Minggu, 11 Agustus 2018 hingga Senin 12 Agustus 2018, dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan berlaga pada Pemilu 2019 menjalani serangkaian tes kesehatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto.

Ada 50 orang dokter spesialis yang terlibat dalam tes tersebut, demikian yang dikatakan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Ilham Oetama Marsis.

Tes kesehatan bagi pemimpin negara dianggap penting karena presiden memiliki wewenang untuk mengambil kebijakan penting, sehingga jika tak memiliki kesehatan yang baik, akan berpengaruh terhadap kinerjanya.

Menurut Panduan Teknis Penilaian Kemampuan Rohani dan Jasmani Bakal Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dalam Pemilihan Umum Tahun 2019 (PDF), tes kesehatan itu diselenggarakan karena presiden dan wakil presiden adalah warga negara pilihan yang memiliki tanggung jawab besar. Kesehatan mereka, baik jasmani dan rohani, adalah prasyarat penting dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Usai pemeriksaan kemarin, Jokowi optimistis hasil tes kesehatannya akan baik.

“Insya Allah sehat semuanya. Karena kalau kita lihat beliau juga masih segar bugar, saya masih segar bugar. Memang waktunya saya sedikit lebih cepat, karena mulainya lebih cepat saya. Kedua, karena saya sudah lima kali kaya begini. Saat walikota dua kali, gubernur sekali, dan presiden dua kali. Jadi tanpa di-briefing sudah hafal,” ujar Jokowi.

Begitu pula dengan pasangannya, Ma’ruf Amin. Bagi Ma’ruf, serangkaian tes kesehatan itu tak membuatnya lelah. Menurutnya, lebih melelahkan ketika berkeliling ke daerah.

“Lebih lelah kalau keliling ke daerah. Kalau haji atau tawaf itu lebih berat. Terima kasih pada para dokter yang telah beri pelayanannya yang luar biasa,” ungkap Ma’ruf.

Pesaingnya, Prabowo Subianto, mengaku tak bisa tidur karena kelaparan. “Saya diperintah oleh dokter untuk puasa dari jam 8 malam. Tidak biasa saya, biasanya makan jam 10 malam. Jadi tidak bisa tidur karena kelaparan. Tapi karena itu perintah dokter, tidak berani membantah saya,” kata Prabowo.

Usia Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia

Salah satu hal yang diperbincangkan terkait kesehatan para calon adalah usia. Ma'ruf Amin dianggap sudah sepuh untuk melaksanakan tugasnya sebagai wakil presiden. Ia akan berusia 76, tahun depan. Jika dibandingkan usia presiden dan wakil presiden yang sudah pernah menjabat, apakah usia Ma'ruf sungguh jauh dari rata-rata?

Sukarno adalah presiden termuda ketika mulai menjabat. Ia masih berusia 43 tahun dan memimpin negara selama 20 tahun. Yang paling tua saat mengawali masa administrasi adalah B.J. Habibie. Namun, kala itu Habibie hanya menduduki kursi kepresidenan selama 1 tahun, hingga Sidang Istimewa pada 1999.

Usia rata-rata seluruh presiden ketika mulai menjabat adalah 52,86 tahun. Selain Habibie, presiden yang mempunyai jarak cukup jauh dengan rata-rata usia saat mula bertugas adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Saat awal menjabat, Gus Dur telah berusia 59 tahun. Usia rata-rata mereka di akhir jabatan adalah 63,57 tahun. Soeharto merupakan presiden dengan usia tertua saat lengser keprabon, yakni 76 tahun.

Rata-rata usia wakil presiden saat mulai menjabat ternyata lebih tua dibanding usia presiden, yakni 60,67 tahun, sedangkan rata-rata usia akhirnya 64,42 tahun. Jusuf Kalla merupakan wakil presiden tertua saat ia menjabat wapres untuk kedua kalinya pada 2014 di umur 72 tahun. Sebelumnya, ada Wakil Presiden Boediono yang mulai memimpin saat berusia 66 tahun.

Selain Boediono, Tirto mencatat ada beberapa wakil presiden yang menduduki jabatan di usia lanjut seperti Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Adam Malik Batubara, Sudharmono, B.J. Habibie, dan Hamzah Haz.

Artinya,pada kontestasi Pemilihan Presiden 2019 mendatang, terdapat 2 calon jauh melampaui angka rata-rata. Prabowo Subianto yang nanti berusia 67 tahun (rata-rata usia presiden 52,8 tahun) dan Ma’ruf Amin nanti berusia 76 tahun (rata-rata usia wapres 60,7 tahun).

Aktivitas Presiden dan Wapres

Membicarakan usia calon presiden dan wakil presiden relevan karena mereka kelak akan dituntut menjalani kegiatan yang padat. Jokowi, misalnya, pada Jumat 22 Juni 2018 lalu, ia melakukan peresmian revisi tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final bagi para pelaku UMKM di Jatim Expo, Surabaya.

Usai kegiatan tersebut, Jokowi menuju ke Pasuruan untuk meresmikan Jalan Tol Gempol-Pasuruan seksi 1 dan 2, di hari yang sama. Hari berikutnya, Jokowi harus terbang ke Bali untuk memberikan kuliah umum di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI), Denpasar, Bali. Padahal hari itu merupakan akhir pekan,yakni hari Sabtu, 23 Juni 2018.

Usai memberikan kuliah umum, Jokowi pun melakukan sosialisasi aturan PPh Final kepada 1000 pelaku UMKM di wilayah Bali, yang diselenggarakan di Sanur, yang dilanjutkan dengan peresmian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 di Denpasar. Aktivitas kepresidenan Jokowi pekan baru selesai Sabtu sore.

Meski hari Jumat dan Sabtu Jokowi harus menjalankan aktivitas di luar Jakarta, Senin pagi, 25 Juni 2018, Jokowi harus tampil prima ketika menerima kunjungan kehormatan Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Kono, di Istana Merdeka Jakarta. Kedua pihak membahas tentang 60 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Jepang.

Sorenya, Jokowi pun melakukan peninjauan kesiapan venue Asian Games di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK).

Padatnya agenda kenegaraan tak hanya dirasakan oleh Jokowi saja. Wakil Presiden Jusuf Kalla pun juga memiliki seabrek kegiatan. Dikutip dari halaman resmi Wakil Presiden RI, pada tanggal 24 Juli lalu, ia menerima kunjungan dari Chairman of European Business Chambers of Commerce in Indonesia (Eurocham), Mark Magee, di kantornya.

Usai kegiatan itu, Kalla pun harus menemui delegasi Afro-Asian University Forum (AAUF) yang berkunjung ke kantornya. Padahal, di hari Rabu, 25 Juli 2018, Jusuf Kalla terbang ke Tentena, Sulawesi Tengah untuk menghadiri Konven Pendeta Gereja Kristen Se-Sulawesi Tengah.

Pada hari yang sama, Kalla menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Umum (RSU) Sinar Kasih Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST). Setelah itu, JK langsung menghadiri peresmian Auditorium Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Poso.

Dikutip halaman resmi wapres, Jusuf Kalla pernah membeberkan kiat hidup sehat, seperti membiasakan diri untuk bergerak, selalu mengkonsumsi makanan bergizi, memiliki waktu tidur yang cukup, memperhatikan kebersihan lingkungan, serta rutin memeriksakan kesehatannya.

“Itulah langkah-langkah yang baik agar kita hidup tetap sehat,” tutur Jusuf Kalla.

Infografik Kebugaran Presiden

RI1, RI2, dan Masalah Kesehatan

Beberapa presiden dan wakil presiden Indonesia menyandang masalah kesehatan saat mereka menjabat. Berdasarkan buku Pahlawan-Pahlawan Indonesia Sepanjang Masa (2014:3) yang ditulis oleh Didi Junaedi, Sukarno pernah mengidap gangguan ginjal. Bahkan, pada 1961 dan 1964, Sukarno menjalani perawatan di Wina, Austria.

Kesehatan Presiden Sukarno pun menurun sejak bulan Agustus 1965, hingga akhirnya, di tahun 1966, ia menyerahkan jabatannya setelah lebih dari 20 tahun berkuasa karena kondisi kesehatannya yang makin memburuk. Hingga tahun 1970, Sukarno meninggal di RSPAD Gatot Soebroto karena penyakitnya itu, dalam usia 69 tahun.

Tak hanya Sukarno, presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid, juga memiliki riwayat penyakit. Pria yang akrab disapa Gus Dur itu menderita glukoma sejak tahun 1985 (sebelum Gus Dur menjabat sebagai presiden). Penyakitnya ini menyebabkan kemampuan penglihatan Gus Dur menurun drastis.

Meski mata kirinya rusak, dilansir dari situs resmi Nahdlatul Ulama, Gus Dur tidak buta. Salah satu pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi al Syari (MIS), menceritakan pengalaman saat Gus Dur masih hidup.

“Kami lihat sendiri, Gus Dur membaca dengan matanya langsung. Surat dari saya didekatkan di muka beliau dan dibaca dengan seksama. Jadi Gus Dus itu tidak buta,” ungkap Gus Rosikh.

Selain Sukarno dan Gus Dur, pemimpin negara yang diketahui memiliki penyakit serius adalah Adam Malik. Ditulis buku Biografi Tokoh Presiden dan Wakil Presiden (2012:34), wakil presiden ketiga Republik Indonesia ini diketahui memiliki penyakit kanker liver.

Meski begitu, Adam Malik tetap mengabdikan diri untuk negara. Ia pernah mengikuti perundingan dengan negara lain, termasuk rescheduling utang Indonesia peninggalan Orde Lama, saat masih menjadi Menteri Luar Negeri. Kala itu, Adam belum menjadi Wakil Presiden. Selain itu, Adam Malik juga merupakan pelopor terbentuknya ASEAN, serta pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York. Setahun setelah mundur dari jabatan, tepatnya di tahun 1984, Adam Malik meninggal karena kanker livernya.

Kondisi-kondisi kesehatan itu memang tak otomatis menjadi halangan mereka dalam menjalankan tugas presiden atau wakil presiden. Menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, Sp.OG(K) mengatakan, meski harus menjalani serangkaian tes kesehatan, kandidat tak harus sehat 100 persen.

“Kalaupun ada beberapa penyakit tertentu, diyakinkan [kandidat] dapat menjalankan tugasnya selama 5 tahun. Jadi tidak selalu yang bersangkutan itu misalnya bersih dari penyakit-penyakit tertentu. Tapi [yang penting] penyakit yang diderita tidak mengganggu tugasnya selama masa pemerintahan,” tutur Marsis.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Widia Primastika

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani