tirto.id - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, tidak mempermasalahkan adanya perbedaan antara kurikulum yang dimiliki sekolah rakyat dengan sekolah formal.
Menurut Abdul, pelatihan yang dijalankan untuk sekolah rakyat menggunakan multi entry-multi exit. Hal ini berbeda dengan yang diterapkan untuk sekolah reguler.
“Tidak ada masalah. Makanya pelatihan itu nanti menyesuaikan dengan kurikulum yang multi-entry-multi-exit itu, bukan pelatihan yang sama dengan kurikulum di sekolah formal yang ada di sekolah-sekolah di luar sekolah rakyat,” kata Abdul Mu’ti di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Abdul Mu’ti juga menegaskan bahwa terdapat dua tugas utama Kemendikdasmen untuk sekolah rakyat, yakni penyusunan kurikulum dan penyediaan guru.
“Kurikulumnya itu multi-entry-multi-exit. Jadi, murid-murid itu tidak harus masuk pada tahun ajaran yang sama dan juga tidak harus masuk pada kelas yang sama, karena itu dia multi-entry. Jadi, setiap saat muridnya bisa bertambah,” ucap dia.
Lebih lanjut, dia menjelaskan kurikulum multi-exit para siswanya tidak lulus secara bersama-sama dalam satu periode. Hal itu dikarenakan waktu masuk sekolah mereka pun berbeda. Sementara itu, guru dan kepala sekolah juga sudah melakukan retret. Kegiatan retret itu diselenggarakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos).
“Kepala sekolahnya sudah dilatih oleh Kemensos lewat model retret begitu dan sudah selesai. Kemudian nanti untuk gurunya juga guru-gurunya kan sebenarnya sudah ikut pendidikan profesi guru (PPG) ya, jadi kalau nanti ada pelatihan bagi guru, ya tentu nanti fungsional saja seiring dengan waktu,” pungkas Abdul.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































