Menuju konten utama

Makin Canggih, JAKI Jadi Andalan Warga Jakarta

JAKI dikembangkan sejak 2019 kini punya 11 fitur baru untuk memudahkan masyarakat Jakarta dapat beragam layanan publik.

Makin Canggih, JAKI Jadi Andalan Warga Jakarta
Aplikasi JAKI. foto/google play store

tirto.id - Beby (29) merasa resah melihat seekor monyet besar yang dikurung di sebuah kandang di sekitar rumahnya. Dengan kondisi kepala terikat, monyet yang harusnya hidup di alam terbuka itu hanya bisa duduk merana.

Beby akhirnya melaporkan hal ini ke pemerintah lewat aplikasi Jakarta Kini (JAKI). Dalam lima hari, laporan itu ditanggapi petugas dan ditangani Dinas Pertamanan dan Hutan Kota wilayah Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

“Cepat ditanggapi, apalagi kalau di hari kerja. Paling cepat satu hari sudah tertangani. Yang terakhir, soal satwa liar itu lima hari sudah ditangani oleh petugas,” ujar Beby menceritakan pengalamannya, Kamis (28/8/2025).

Tak cuma Beby, Susan yang berdomisili di Jakarta Utara juga sering memanfaatkan aplikasi JAKI. Pada Februari lalu, dia melaporkan perihal tumpukan sampah di kompleksnya yang lama tak diangkut.

“Eggak ada kendala. Kelihatannya tiap ada masalah langsung disposisi-disposisi gitu. Lagi diurus sama siapa, divisi apa,” ujar Susan kepada wartawan Tirto, Kamis (28/8/2025).

Tahun lalu, dia juga pernah melaporkan tragedi pohon tumbang di depan rumahnya. Menurut Susan, petugas langsung datang mengatasinya dalam tiga jam.

“Aku tipe yang punya aplikasi layanan-layanan pemerintah di Bandung sama Jakarta. Signal Polri juga punya buat STNK dll. [Aku] tipe yang pake aplikasi banget buat apa-apa sama pemerintah,” ungkap Susan.

JAKI merupakan super-app yang menyediakan layanan satu pintu untuk membantu beragam permasalahan warga. Pada Juni lalu, JAKI hadir dengan berbagai fitur baru, mulai dari layanan antrean fasilitas kesehatan, rumah singgah bagi pendamping pasien yang menjalani pengobatan di Jakarta, hingga ambulans gratis.

JAKI dikembangkan sejak 2019 dan kini memiliki 11 fitur baru untuk memudahkan masyarakat dalam berbagai pelaporan di Jakarta.

“JAKI juga memiliki notifikasi Siaga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar warga mendapatkan informasi banjir dan cuaca ekstrem langsung di ponsel. Ada pula tombol Darurat Ambulans dan Panggilan 112 sebagai kanal pertolongan, serta fitur JakCare untuk konsultasi gratis dengan psikolog klinis. Jadi, warga Jakarta tidak hanya sehat fisik, tetapi juga mental,” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dinukil dari siaran pers.

Di antara fasilitas yang disediakan adalah Panggilan Darurat 112. Nomor ini menghubungkan pengguna langsung ke call center BPBD Jakarta selama 24 jam. Ada juga JKN Mobile sebagai integrasi yang memungkinkan pengguna JAKI untuk langsung masuk ke Mobile JKN. Peserta JKN dapat mengakses berbagai layanan hanya melalui satu aplikasi.

Pramono mengajak masyarakat aktif melaporkan berbagai permasalahan atau kendala yang ditemui melalui aplikasi JAKI.

“Dengan adanya fitur-fitur baru, kami berharap warga segera melaporkan jika menemukan sesuatu yang perlu ditindaklanjuti,” imbuhnya.

JAKi juga dilengkapi fitur Feedback Laporan Warga yang memungkinkan pelapor memberi penilaian atas tindak lanjut laporan mereka.

Super-app ini ini tak hanya digunakan oleh warga Jakarta, melainkan juga telah diadopsi oleh sejumlah provinsi dan kota lain, seperti Lampung, Maluku Utara, Banda Aceh, dan Medan.

Aplikasi Bagus karena Infrastruktur Baik

Aplikasi JAKI memperoleh respons positif dari masyarakat. Hal itu terlihat dari unggahan-unggahan warga di media sosial yang berisi apresiasi terhadap kecepatan tanggapan yang dilaporkan lewat JAKI.

Di X, misalnya, berseliweran cuitan warganet yang memamerkan laporannya soal galian hingga masalah lalu lintas.

Pengamat Teknologi, Alfons Tanujaya, mengatakan, suatu aplikasi bisa dikatakan bagus karena infrastruktur atau tim di belakangnya baik. Sebuah aplikasi semacam ini disebut Alfons bisa membantu, baik dari sisi kemudahan dan efisiensi.

“Jadi, aplikasi ini memang membantu. Misalkan timnya udah bagus nih, tanpa app udah bagus, tapi dengan aplikasi itu akan membantu. Membantu di mana? Satu, dia akan menjadi sangat efisien. Pelaporannya cepat dan mudah,” ujar Alfons lewat telepon, Kamis (28/8/2025).

Kemudian dari sisi jumlah tim yang harus dikerahkan ke lapangan juga bisa lebih sedikit dibanding menerapkan laporan secara offline. Ke depan, menurut Alfons, petugas yang biasa menindaklanjuti bisa diterapkan sistem poin.

“Sebenarnya, aplikasi itu akan mengurangi birokrasi. Itu sebetulnya hal terbesar di Indonesia. Kalau di Indonesia, lapor apa telepon, ditanggapin, terus mandek. Kalau ada aplikasi dimonitor oleh kepala bagian, dll,” lanjut Alfons.

Bagi daerah-daerah lain mereplikasi aplikasi yang sama, dia bilang, sebaiknya jangan hanya meniru “JAKI”-nya saja, tapi juga semua aspek yang menyertai karena dari sisi kontrol, audit, dan tim di balik suatu aplikasi itu sangat menentukan.

Baca juga artikel terkait APLIKASI JAKI atau tulisan lainnya dari Fina Nailur Rohmah

tirto.id - News Plus
Reporter: Fina Nailur Rohmah
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Fadrik Aziz Firdausi