Menuju konten utama

Gratis & Responsif, JakCare Hadir Sehatkan Mental Warga Jakarta

JakCare adalah layanan kesehatan mental terintegrasi yang bekerja secara efektif dan menyeluruh.

Gratis & Responsif, JakCare Hadir Sehatkan Mental Warga Jakarta
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kiri) bersama Gurbernur DKI Jakarta Pramono Anung (kedua kanan), Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris (kanan), dan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspiwati (kedua kiri) menggunakan layanan Jak-Care saat peresmian Pasukan Putih di Rusun Tanah Tinggi, Jakarta, Rabu (14/5/2025). Pemprov DKI Jakarta meluncurkan program pelayanan kesehatan masyarakat bernama Pasukan Putih yang ditujukan bagi warga Jakarta, terutama lansia dan penderita penyakit kronis. ANTARA FOTO/Ferlian Septa Wahyusa/wpa.

tirto.id - Viona, warga Jakarta Pusat, merasakan dirinya tengah digempur tekanan hidup yang tiada henti. Semua tekanan dan masalah hidup yang khas terjadi di kota besar dirasakannya telah begitu menumpuk hingga membebani mentalnya.

Pekerjaan yang melelahkan, lingkungan sosial yang menguras energi, hingga jarak rumah ke kantor yang jauh membuat Viona tertatih menjalani hari.

“Aku lagi overwhelmed aja sih sama kerjaan. Terus habis itu [juga] lingkungan sekitarku. Jadi, semua capek dan semua stres tuh udah nyampur banget dan aku enggak tahu mau cerita ke siapa,” katanya kepada reporter Tirto melalui sambungan telepon pada Selasa (15/7/2025).

Viona mengaku sempat mencoba layanan konseling yang ditemuinya di media sosial. Namun, menurutnya, layanan-layanan tersebut kurang efektif, bahkan tidak membantu sama sekali.

Meski begitu, dia tetap berupaya mencari bantuan profesional.

Sampai akhirnya, Viona menemukan JakCare—layanan konseling daring gratis bikinan Pemprov DKI Jakarta—di lini masa media sosial X.

“Aku lihat ada program kayak gini kan ya menarik juga sih. Tapi, agak skeptis juga. [Aku bertanya-tanya] emang bener ya bakal dilayanin?” ucap Viona.

Skeptisisme itu perlahan memudar setelah dia mencoba langsung layanan JakCare. Prosesnya terbilang mudah—cukup mengunduh aplikasi Jakarta Kini (JAKI), mendaftar, lalu memilih fitur konseling. Selain kemudahan mengakses layanan, hal lain yang membuat Viona terkesan adalah respons konselornya.

“Awalnya kan agak canggung dan bingung ya buat cerita sama orang stranger kayak gitu. Tapi, kebetulan aku waktu itu dapat konselor yang welcome banget, yang ramah banget,” tuturnya.

Sesi konseling berlangsung sekitar 45 menit. Setelah mencurahkan segala isi hati dan pikiran yang mengganggu, Viona merasa akhirnya ada seseorang yang tidak hanya mendengar, tetapi juga memahami dan memberinya ruang untuk merasa.

Setelah sesi konseling selesai, Viona meneteskan air mata tanpa disadari. Saran yang diberikan sang konselor juga masih membekas di benaknya, bahkan hingga berbulan-bulan setelahnya.

“Sampai nangis juga sih, kayak terharu aja. Ada yang bener-bener ngerti gitu loh, kayak apa yang aku rasakan, apa yang aku alami,” ujar Viona.

“Jadi, bener-bener ngebekas dan sampai sekarang ya bener-bener masih inget aja gitu [saran yang diberikan oleh konselornya],” lanjutnya.

Gangguan Mental

Ilustrasi gangguan mental. Getty Images/iStockphoto

Sementara itu, Fatwa mengalami krisis yang jauh lebih dalam. Dia kehilangan dua anggota keluarga tercintanya, yakni ibu dan pamannya, hanya dalam waktu dua minggu. Di tengah kesedihan itu, dia tahu bahwa dirinya butuh pertolongan.

“Saya kehilangan dua anggota keluarga tercinta saya secara berturut-turut dalam jangka waktu dua minggu, yakni Ibu dan paman saya. Sehingga, saya memutuskan untuk mencari bantuan profesional dengan segera,” kata Fatwa kepada reporter Tirto.

Fatwa juga mengetahui layanan JakCare dari media sosial X, saat sedang menelusuri sebuah kata kunci yang disebutnya cukup “warning”. Dia lalu diarahkan ke nomor telepon khusus JakCare melalui aplikasi JAKI.

Setelahnya, konselor meminta Fatwa menunjukkan data dirinya. Fatwa sempat takut soal keamanan identitasnya, tapi dia diyakinkan bahwa data pribadinya aman. Sejak itu, dia menyadari bahwa mencari bantuan bukan hal tabu.

“Setelah tersambung, konselor meminta data diri saya. Kebetulan saya hafal NIK saya dan tinggal menyebutkan identitas sesuai dengan KTP untuk dikonfirmasi oleh konselornya,” sebutnya.

Selama sesi konseling, Fatwa mengaku merasa lebih tenang. Konselornya tidak menghakimi dan memberikan arahan secara perlahan. Meski baru sekali mengikuti sesi, Fatwa menyebut dampaknya langsung terasa.

“Saya rasa, saya lebih cukup tenang dibanding sebelumnya,” Fatwa mengakui.

Baik Viona maupun Fatwa sepakat bahwa layanan konseling kesehatan mental seperti JakCare harus diperluas ke kota-kota lain. Pasalnya, layanan bantuan konseling itu sangat dibutuhkan oleh mereka yang tengah mengalami kebuntuan dan memiliki tendensi untuk melakukan hal-hal yang dapat berujung fatal.

“Menurut aku, layanan kayak gini harusnya dimasifkan lagi dan lebih disosialisasikan lagi juga sih,” ujar Viona.

“Menurut saya, program JakCare ini harus masuk ke dalam program prioritas Pemprov Jakarta. Cepat, tepat, dan tentunya gratis. [Itu yang] sangat penting,” tambah Fatwa.

Komitmen Pemprov Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meluncurkan layanan konseling JakCare pada Rabu (14/5/2025). Layanan ini disediakan untuk mengatasi permasalahan tekanan hidup dan gangguan kesehatan kejiwaan atau mental health yang dihadapi warga Jakarta.

“Karena, sekarang ini banyak sekali akibat beban hidup, tekanan hidup, dan sebagainya, masyarakat itu mengalami gangguan kesehatan kejiwaan. Dan untuk itu, akan ada program konseling yang [bisa] Bapak Ibu lakukan setiap saat,” ujar Pramono kepada para wartawan di Rusun Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (14/5/2025).

Pramono menjelaskan bahwa layanan JakCare itu dapat diakses melalui aplikasi JAKI ataupun call center yang telah disediakan.

“Untuk JakCare, layanannya 24 jam bisa melalui JAKI atau bisa melalui nomor yang telah ditunjuk yang saya bacakan tadi. Dan intinya adalah semua biaya konsultasi ditanggung oleh JakCare sendiri sehingga gratis semuanya,” kata Pramono.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa pihaknya menyiagakan tiga psikolog klinis yang berjaga dalam tiga sif setiap hari.

“Jadi, selama 24 jam, 7x24 jam selalu ada tenaga psikolog klinis yang akan menerima konsul dari warga masyarakat,” jelas Ani kepada para wartawan di Rusun Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (14/5/2025).

Ani menyebut call center tersebut terhubung dengan layanan kesehatan jiwa yang tersedia di rumah sakit dan puskesmas.

“Kami punya rumah sakit khusus untuk kesehatan jiwa dan juga terhubung dengan seluruh layanan kesehatan jiwa yang ada di puskesmas. 28 dari 44 Puskesmas yang ada di DKI semuanya sudah memiliki tenaga psikolog,” kata Ani.

Nantinya, apabila ada warga yang harus dievakuasi, Ani menyebut Dinkes Jakarta akan berkoordinasi dengan dinas-dinas lainnya, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD); Pemadam Kebakaran (Damkar); Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik); Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP); Satpol PP; dan juga Dinas Sosial (Dinsos).

“Kami di-backup oleh BPBD, oleh Damkar. Kemudian, secara IT di-backup oleh Kominfo. Lalu, ada beberapa dinas, termasuk Dinas PPA, [Satpol] PP, dan Dinsos, yang semuanya bekerja sama dalam satu network,” ucapnya.

JakCare

Ilustrasi layanan JakCare. FOTO/beritajakarta.id

Layanan JakCare tersebut disambut baik oleh Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, Muhammad Thamrin. Thamrin mendorong agar layanan tersebut terus dikembangkan.

“Kami di DPRD siap mengawal dan mendorong agar JakCare tidak hanya menjadi program bagus di atas kertas, tapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, terutama mereka yang paling rentan dan membutuhkan dukungan psikologis,” ujar Thamrin kepada para wartawan pada Selasa (27/5/2025), dikutip dari Berita Jakarta.

Menurut Thamrin, layanan JakCare merupakan langkah konkret di tengah meningkatnya tekanan hidup dan gangguan kesehatan mental yang dialami warga Jakarta. Dia menegaskan bahwa JakCare bukan pengganti layanan konsultasi tatap muka di puskesmas atau rumah sakit, melainkan pelengkap yang terhubung dengan sistem layanan yang sudah ada agar penanganan lebih menyeluruh dan efektif.

“Sekarang konsultasi psikologis bisa diakses lebih mudah, cukup lewat telepon atau aplikasi. Ini membuat layanan kesehatan jiwa menjadi lebih terbuka dan menjangkau semua kalangan, termasuk mereka yang enggan datang langsung karena takut dicap atau malu,” jelasnya.

Layanan JakCare juga dirancang untuk menangani kasus-kasus darurat, termasuk indikasi bunuh diri. Setelah pengguna menghubungi layanan, petugas akan melakukan asesmen awal menggunakan instrumen JakCare Skrining (JCS). Tindak lanjut JCS lalu ditetapkan berdasarkan 4 kriteria warna, yakni:

  • Hijau merupakan kasus “Sehat Mental” yang dapat ditangani dengan melakukan psikoedukasi melalui pemeriksaan kesehatan jiwa berkala secara mandiri menggunakan instrumen SRQ 29 (Self Reporting Questionnaire) pada aplikasi e-Jiwa dengan periode setiap 3 bulan sampai dengan 1 tahun.
  • Kuning merupakan kasus “Risiko Sedang” yang memerlukan konsultasi lebih lanjut dengan psikolog klinis melalui telepon dengan durasi maksimal 60 menit.
  • Oranye merupakan kasus “Risiko Tinggi Tidak Darurat” yang memerlukan konsultasi lebih lanjut dengan psikolog klinis melalui telepon dengan durasi maksimal 60 menit.
  • Merah merupakan kondisi “Kegawatdaruratan Psikiatri”. Pengguna dalam status ini akan langsung terhubung dengan layanan krisis melalui mekanisme yang telah ditetapkan. JakCare akan menghubungkan pengguna ke fasilitas pelayanan kesehatan dan instansi/unit pelayanan terkait.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - News Plus
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi