tirto.id - Ajang Lomba Peneliti Pelajar Surabaya (LPPS) jenjang sekolah dasar (SD) kembali digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, Senin (11/5/2026). Kegiatan tahunan ini hasil kolaborasi antara Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan Pantala Science Club ini sekaligus melatih siswa untuk berpikir kritis lewat riset.
Linus Nara Pradhana, perwakilan Pantala Science Club, menjelaskan bahwa program tersebut telah berjalan sejak 2021. Awalnya lomba hanya diperuntukkan bagi siswa SMP, namun dalam empat tahun terakhir siswa SD mulai dilibatkan secara aktif.
“Anak-anak tidak langsung mengikuti lomba, tetapi terlebih dahulu mendapatkan pelatihan selama dua hingga tiga bulan. Guru dan siswa dikumpulkan oleh dinas untuk belajar bagaimana menemukan ide, mengamati fenomena, hingga mengaplikasikannya dalam bentuk riset,” ujar Nara.
Pada tahun ini, jumlah peserta mencapai 190 tim. Setelah melalui tahap seleksi, sekitar 90 tim berhasil lolos ke babak presentasi poster penelitian.

Materi yang diangkat dalam lomba berfokus pada IPAS atau Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial tingkat sekolah dasar. Menurut penyelenggara, kualitas penelitian siswa mengalami perkembangan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun, baik dari sisi kompleksitas maupun kemampuan penerapan ilmu.
“Perkembangannya cukup luar biasa sebetulnya dari tingkat kompleksitasnya juga mulai meningkat akan tetapi untuk yang SD ini memang kalau bisa kita lihat penelitiannya cukup grounded jadi mereka betul-betul mengamati apa yang ada di sekolah. Tadi seperti mereka mengamati ada roket air, kemudian percobaan seperti sel volta itu kan semua sudah diajarkan di kelas,” jelasnya.
Nara menilai hal terpenting dari kegiatan tersebut bukan sekadar memahami teori, tetapi bagaimana siswa mampu mengaplikasikan pelajaran untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.
Nara dan tim Pantala Science Club pun mengapresiasi semangat para peserta. Menurutnya, anak-anak usia kelas 4 dan 5 SD umumnya lebih senang bermain atau mencari hiburan bersama teman-teman. Namun peserta justru bersedia meluangkan waktu untuk melakukan pengamatan dan eksperimen selama berbulan-bulan.
“Saya kira ini adalah esensi dari kegiatan ini yaitu mengajarkan kepada anak-anak bahwa riset itu menyenangkan dan punya manfaat untuk kehidupan sehari-hari.” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa juga didorong untuk tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan dalam proses penelitian. Gagal coba lagi.
“Dalam setiap percobaan pasti ada kegagalan. Tapi dari situ kita belajar memperbaiki kesalahan agar hasilnya menjadi lebih baik,” pungkasnya.
Selain roket air, penelitian para peserta memang cukup beragam dan menarik. Ada pemanfaatan limbah Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk pupuk organik cair yang dipadukan dengan gula aren. Ada pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah serta pemanfaatan tumbuhan dari kebun sekolah mereka.
Lilin aromaterapi ini dihasilkan oleh Alibi Firdani dan Keenan Omar dari SD Islam Al Mizan Surabaya. Idenya muncul dari banyaknya limbah minyak jelantah dari catering sekolah mereka. Sehari sampai 1,16 liter yang selama ini dibuang dan dinilai merusak ekosistem alam.
“Limbah (minyak jelantah) di dapur sekolah kita itu banyak banget. Jadinya kita mikir bagaimana menguranginya, akhirnya kita bikin lilin aromaterapi ini,” terang Alibi.
Dalam proses pembuatannya minyak jelantah direndam arang selama 24 jam untuk menghilangkan aroma jelantahnya. Lalu, disaring, dipanaskan dan ditambahkan stearic acid, pewarna dan aroma sesuai takaran. Ada aroma lavender, eucalyptus dan jeruk.
==========
Info Kediri adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Info Kediri
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































