tirto.id - Suasana Idulfitri 1447 H di Kampung Nelayan Sejahtera, Desa Eretan Kulon, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terasa berbeda. Diiringi angin laut dan gema takbir dari masjid, warga menyambut hari raya dengan perasaan yang lebih tenang.
Bagi Warsana (42), perubahan itu bukan sekadar suasana, melainkan pengalaman baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Lebaran tahun ini rasanya lebih senang, lebih tenang. Kebersihan di sini terasa sekali, suasananya juga nyaman. Jadi walaupun enggak punya banyak, tetap bisa ngerasain bahagia bareng keluarga,” ujarnya.
Warsana tinggal bersama istrinya, Kadmina (39), dan tiga anak mereka. Sebelumnya, kehidupan keluarga ini diwarnai ketidakpastian, baik dari hasil melaut maupun kondisi rumah yang kerap terdampak banjir rob.
Sebagai nelayan sejak remaja, Warsana terbiasa berangkat melaut dini hari dan pulang siang hari dengan hasil yang tak menentu. Namun, kekhawatiran terbesar justru muncul saat ia meninggalkan keluarga di rumah yang rawan banjir.
“Kalau lagi kerja itu pasti ada rasa khawatir. Kepikiran terus rumah banjir, kepikiran anak istri. Tapi mau gimana, kalau khawatir terus, kerja juga jadi enggak fokus. Jadi ya ditahan saja, yang penting tetap jalan cari nafkah,” katanya.
Rumah lama mereka di blok Pangpang, yang ditempati sejak 2014, perlahan tak lagi layak huni. Banjir rob yang datang berulang merendam lantai rumah dan merusak berbagai barang. Kondisi lingkungan yang kurang sehat juga berdampak pada anak-anaknya.
“Anak-anak itu sering sakit, kadang sakit perut, kadang gatal-gatal. Airnya asin, lingkungannya juga kurang bersih, jadi kesehatan mereka sering terganggu,” kenangnya.
Situasi terburuk terjadi pada akhir 2022, ketika banjir besar melanda saat istrinya tengah hamil tua. Proses evakuasi harus dilakukan secara darurat, bahkan dengan cara membopong menggunakan kasur ke rumah orang tua. Tak lama kemudian, rumah mereka roboh.
“Waktu itu ya sudah, enggak kepikiran yang lain. Yang penting keluarga selamat dulu. Rumah bisa dicari lagi, tapi kalau keluarga kenapa-kenapa itu yang enggak tergantikan,” ucapnya.
Setelah sempat mengungsi, harapan baru datang pada 2025 saat Warsana dan keluarga menempati Kampung Nelayan Sejahtera. Kawasan ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Sosial, pemerintah daerah, Baznas, BNPB, TNI-Polri, serta berbagai pihak lainnya.
Kampung tersebut dibangun sebagai hunian layak bagi nelayan yang sebelumnya tinggal di wilayah rawan rob. Terdapat 93 unit rumah tipe 36 yang dilengkapi dua kamar tidur, ruang tengah, dapur, dan kamar mandi.
Tak hanya menyediakan hunian, kawasan ini juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti akses air bersih, sanitasi, listrik, hingga fasilitas sosial seperti masjid, taman, serta ruang pemberdayaan ekonomi bagi warga.
“Alhamdulillah sekarang jauh lebih baik. Tempatnya bersih, airnya lebih layak, anak-anak juga jadi lebih sehat. Kita sebagai orang tua juga jadi lebih tenang, nggak was-was lagi kalau lagi kerja ninggalin keluarga di rumah,” kata Warsana.
Meski kondisi hidup membaik, Warsana tetap bekerja keras. Selain melaut, ia juga mengambil pekerjaan tambahan sebagai buruh harian di TPI Eretan Kulon hingga ojek barang pesanan warga.
“Sekarang saya berusaha kerja apa saja yang penting halal. Yang penting anak-anak bisa sekolah, bisa makan, dan kehidupan ke depan bisa lebih baik,” ujarnya.
Lebaran yang dulu terasa biasa kini menjadi momen penuh makna. Warsana memilih merayakannya secara sederhana bersama keluarga di rumah barunya.
“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah, khususnya Kementerian Sosial, yang sudah peduli dengan masyarakat kecil seperti kami. Dengan adanya tempat ini, kehidupan kami jadi jauh lebih baik, lebih layak, dan lebih tenang,” ucapnya.
Bagi Warsana, Lebaran kali ini bukan sekadar perayaan tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi simbol rasa aman. Mereka tak lagi khawatir tentang rumah yang terendam banjir dan bisa hidup lebih sehat.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id































