Menuju konten utama

Pengalaman Pertama Isra Mendengar di Hari Raya

Perubahan besar di hidup Isra terjadi saat dirinya menerima alat bantu dengar dari Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS) Cibinong.

Pengalaman Pertama Isra Mendengar di Hari Raya
Isra saat berdoa di musala STIS Cibinong saat malam takbiran, Jumat (20/3/2026). Dengan alat bantu dengar, untuk pertama kali dalam hidupnya dia mendengar gema takbir. FOTO/Humas Pusdiklatbangprof Kemensos
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Isra (29), penyandang disabilitas tuli asal Padang, Sumatera Barat, menempuh perjalanan panjang demi mengubah hidupnya. Ia merantau ke Kabupaten Bogor untuk mengikuti pelatihan di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS) Cibinong, yang berada di bawah Kementerian Sosial RI.

Keputusan itu diambil dengan tekad kuat untuk mandiri dan membantu keluarga.

“Aku tidak mau pulang sebelum bisa bawa uang untuk orang tuaku,” ungkap Isra melalui bahasa isyarat, beberapa waktu lalu.

Lulusan SLB YPPLB Padang tahun 2016 itu telah hidup dalam keterbatasan sejak lahir. Tanpa kemampuan mendengar, ia mengandalkan penglihatan dan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dan memahami dunia di sekitarnya.

Meski demikian, Isra dikenal tekun dan disiplin selama mengikuti pelatihan. Ia aktif menjalani berbagai kegiatan, mulai dari workshop hingga kehidupan di asrama. Ia juga kerap membantu sesama peserta tuli, terutama dalam menghadapi kendala komunikasi.

Sebagai anak tunggal dari ayah yang bekerja sebagai buruh dan ibu yang membuka warung kecil, Isra memiliki dorongan kuat untuk membalas perjuangan orang tuanya. Sebelum mengikuti pelatihan, ia sempat bekerja sebagai staf gudang di sebuah pusat perbelanjaan di Padang, menangani stock opname.

Kesempatan mengikuti pelatihan vokasional tidak datang dengan mudah. Isra harus menunggu hingga tiga tahun sebelum akhirnya diterima dalam program rehabilitasi sosial dan pelatihan vokasional bagi penyandang disabilitas. Ia kemudian memilih jurusan contact center sebagai bekal memasuki dunia kerja.

Perubahan besar terjadi saat Isra menerima alat bantu dengar dari STIS. Untuk pertama kalinya, ia mulai mengenal suara. Sesuatu yang sebelumnya hanya ia pahami lewat gerakan dan ekspresi.

“Dari yang biasanya cuma bisa melihat gerakan, sekarang sudah lebih lancar komunikasi,” katanya.

Sejak itu, kepercayaan dirinya meningkat. Ia menjadi lebih aktif dalam pelatihan dan mampu mengikuti setiap proses dengan lebih optimal. Hingga pada 13 Maret 2026, Isra dinyatakan lulus sebagai kandidat cleaning service di Mandiri Contact Center.

Capaian tersebut menjadi titik penting dalam perjalanannya. Hasil dari penantian panjang dan tekad yang ia pegang sejak meninggalkan rumah.

Ia dijadwalkan mulai bekerja pada 1 April 2026. Namun, pada momen Idulfitri kali ini, Isra memilih tetap berada di STIS. Ia ingin pulang dengan membawa hasil nyata, bukan sekadar cerita.

Keputusan itu justru membawanya pada pengalaman yang selama ini belum pernah ia rasakan. Di malam Idulfitri, saat gema takbir berkumandang, Isra akhirnya mendengar suara tersebut untuk pertama kalinya dalam hidup.

“Dulu duniaku sangat sunyi. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bisa mendengar suara takbiran,” tuturnya.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis