Menuju konten utama

Laporan Philips Soroti Penggunaan AI dalam Layanan Kesehatan RI

Laporan Future Health Index 2025 garapan Philips menunjukkan kuatnya optimisme terhadap penggunaan kecerdasan buatan dalam layanan kesehatan di Indonesia.

Laporan Philips Soroti Penggunaan AI dalam Layanan Kesehatan RI
Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan pada Peluncuran Laporan Future Health Index 2025 Indonesia. (FOTO/Royal Philips)

tirto.id - Royal Philips (NYSE: PHG, AEX: PHIA), salah satu perusahaan global di bidang teknologi kesehatan, merilis temuan terbarunya dari Indonesia dalam laporan Future Health Index (FHI) 2025. Edisi ke-10 dari laporan tahunan yang menjadi survei terbesar di bidangnya ini mengungkapkan perkembangan implementasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam layanan kesehatan.

FHI 2025 menggali wawasan para tenaga kesehatan profesional dan pasien dari 16 negara, mencakup Indonesia serta sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik. Fokus utama laporan ini mengulas dampak penggunaan AI dan inovasi digital dalam memperluas akses layanan kesehatan, meningkatkan hasil perawatan, dan memperkuat ketahanan sistem kesehatan.

Salah satu simpulannya, Indonesia dinilai sebagai salah satu negara yang paling optimistis terhadap potensi AI untuk mendukung layanan kesehatan. Optimisme itu seiring dengan percepatan transformasi digital di sektor kesehatan RI.

Namun, laporan FHI 2025 juga menekankan pentingnya kepercayaan publik, edukasi, dan desain sistem yang inklusif untuk mendukung implementasi AI dalam layanan kesehatan.

Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan menjelaskan AI berpotensi besar menjadi solusi untuk memperbaiki sistem layanan kesehatan di Indonesia. Adopsi AI berpeluang meningkatkan akses pada layanan, mempercepat waktu tunggu pasien, hingga meringankan beban kerja tenaga medis.

"Untuk mewujudkan potensi tersebut, kita harus merancang [teknologi] dengan empati, membangun kepercayaan [publik], dan memastikan implementasi [AI] yang bertanggung jawab demi memenuhi kebutuhan pasien dan tenaga kesehatan," kata Astri saat berbicara dalam peluncuran Laporan Future Health Index (FHI) 2025 Indonesia di Jakarta pada Rabu (23/7/2025).

Optimisme pada AI dan Tantangan Sistem Kesehatan

Pemanfaatan AI memberi harapan untuk peningkatan kualitas sistem kesehatan Indonesia di tengah meningkatnya permintaan dan kekurangan dokter spesialis. Berdasarkan data di 2024, Indonesia mencetak 2.700 dokter spesialis baru per tahun, saat kebutuhan nasional ditaksir mencapai 29.000.

Laporan FHI 2025 mencatat, ketidakseimbangan itu mengakibatkan 77% pasien mengalami waktu tunggu panjang untuk bertemu dokter spesialis. Diperkirakan 33% pasien mengalami keterlambatan mendapat perawatan umum. Sebanyak 51% pasien juga melaporkan kondisi kesehatannya memburuk karena tidak mampu mengakses layanan kesehatan tepat waktu, dan 45% dirawat di rumah sakit akibat hal tersebut.

Terlepas dari tantangan tadi, laporan FHI mengungkapkan tenaga medis maupun pasien di Indonesia punya keyakinan kuat bahwa AI dapat memperbaiki kualitas layanan kesehatan. Optimisme itu bahkan melampaui rata-rata di Asia Pasifik dan global.

Hasil survei dalam FHI 2025 menunjukkan 84% tenaga kesehatan dan 74% pasien di tanah air menganggap AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Sebanyak 85% tenaga kesehatan menyatakan analitik prediktif berteknologi AI dapat membantu menyelamatkan nyawa sebab memungkinkan intervensi dini. Sementara itu, 73% lainnya percaya teknologi digital akan mengurangi rawat inap pada masa mendatang.

Namun, laporan ini juga menemukan masih adanya tantangan dalam alur kerja. Sejumlah 56% tenaga kesehatan mengaku menghabiskan lebih sedikit waktu bersama pasien. Lebih banyak waktu mereka termakan untuk tugas administratif dibandingkan lima tahun lalu.

Terdapat 62% tenaga kesehatan yang mengatakan kehilangan waktu klinisnya karena data yang terfragmentasi atau tidak dapat diakses. Seperlima dari tenaga kesehatan atau 18% mengaku kehilangan lebih dari 45 menit per shift, setara hampir satu bulan penuh (23 hari kerja) waktu klinis hilang per tahun.

Tanpa penerapan AI yang bermakna, 57% tenaga kesehatan memperkirakan akan terjadi penumpukan pasien yang semakin parah, 49% memprediksi hilangnya peluang intervensi dini, dan 46% mengkhawatirkan tingkat kelelahan (burnout) yang lebih tinggi.

Temuan dalam laporan FHI 2025 memperlihatkan adanya kesenjangan signifikan antara pengembangan teknologi dan kebutuhan nyata di lapangan. Meski 79% tenaga kesehatan terlibat dalam pengembangan solusi digital, hanya 41% yang menilai teknologi tersebut sesuai dengan tantangan mereka sehari-hari.

Faktor utama yang dianggap penting untuk membangun kepercayaan terhadap teknologi mencakup kejelasan terkait tanggung jawab hukum (46%), akses dukungan TI yang andal (43%), serta panduan penggunaan yang jelas dan mudah diikuti (37%).

Tenaga kesehatan juga ingin lebih memahami cara penggunaan kecerdasan buatan yang tepat, terutama terkait pemantauan berkelanjutan terhadap sistem AI (35%), perlindungan keamanan data (32%), serta penanganan terhadap potensi bias dan kualitas data yang kurang memadai (31%).

Yang menarik, hanya 17% tenaga kesehatan menyoroti keamanan kerja sebagai faktor utama dalam membangun kepercayaan terhadap AI. Data ini memberikan petunjuk bahwa mayoritas tenaga kesehatan melihat AI sebagai alat bantu yang bermanfaat, selama ada perlindungan dan pengaturan yang tepat.

Philips FHI 2025

Ki-ka_ dr. Setiaji S.T., M.Si, - Staf Ahli Bidang Teknologi Kesehatan & Ketua Tim Transformasi Teknologi dan Digitalisasi Kesehatan (TTDK), Kementerian Kesehatan RI; Dr. dr. Iwan Dakota, Sp.JP(K), MARS - Direktur Utama, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita (Pusat Jantung Nasional Harapan Kita); Benedictus Reinaldo Widaja, MBChB (UK) - Presiden Direktur, Mandaya Hospital Group; Astri Ramayanti Dharmawan - Presiden Direktur, Philips Indonesia. (FOTO/Royal Philips)

Pandangan Pasien tentang AI di Layanan Kesehatan

Laporan FHI 2025 mencatat kekhawatiran pasien terfokus pada pada komunikasi dan hasil layanan kesehatan. Umumnya, pasien mengharapkan layanan lebih cepat dan terhubung, sekaligus bimbingan yang terpercaya.

Terdapat 82% responden pasien yang mendukung peningkatan teknologi dalam layanan kesehatan jika dapat memperbaiki kualitas perawatan. Namun, 54% di antaranya khawatir teknologi akan mengurangi interaksi tatap muka dengan dokter.

Privasi data menjadi perhatian utama, dengan 38% pasien menyatakan bahwa mengetahui informasi mereka akan tetap aman sangat penting untuk merasa lebih nyaman dengan AI. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang familiar dengan AI (42%). Fakta ini menunjukkan bahwa pemahaman yang mendalam terhadap AI tidak selalu dapat mengurangi rasa cemas.

Pasien di Indonesia juga beralih pada sumber informasi kesehatan baru. Meskipun mereka masih percaya pada tenaga kesehatan profesional dalam menerima informasi tentang AI, 82% responden menyatakan merasa lebih nyaman jika mendengarnya dari media sosial.

Temuan itu memperlihatkan besarnya pengaruh platform seperti Instagram dan TikTok, serta peran tenaga kesehatan profesional dalam membentuk ruang digital terpercaya. Hal ini menandakan peningkatan kebutuhan dalam memastikan integritas informasi, terutama di daerah terpencil, serta mendukung dokter sebagai perantara tepercaya dalam adopsi AI.

Philips FHI 2025

Ki-ka_ dr. Benedictus Reinaldo Widaja, MBChB (UK) - Presiden Direktur, Mandaya Hospital Group; Dr. dr. Iwan Dakota, Sp.JP(K), MARS - Direktur Utama, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita (Pusat Jantung Nasional Harapan Kita); Astri Ramayanti Dharmawan - Presiden Direktur, Philips Indonesia; Setiaji S.T., M.Si, - Staf Ahli Bidang Teknologi Kesehatan & Ketua Tim Transformasi Teknologi dan Digitalisasi Kesehatan (TTDK), Kementerian Kesehatan RI. (FOTO/Royal Philips)

Masa Depan Inovasi AI dalam Layanan Kesehatan RI

Astri menilai Indonesia sudah berada di posisi yang tepat untuk memimpin implementasi AI dalam layanan kesehatan. Indonesia memiliki pondasi kokoh dalam hal ini dengan adanya cakupan layanan kesehatan hampir universal lewat JKN dan komitmen kuat dari pemerintah melalui roadmap transformasi kesehatan digital rancangan Kementerian Kesehatan.

Menurut dia, langkah terpenting saat ini adalah menyelaraskan inovasi dengan kebutuhan manusia agar memberikan solusi inklusif, efektif, dan berskala besar dengan perlindungan yang kuat. Dengan perlindungan serta kemitraan yang tepat, penerapan AI dalam sistem kesehatan Indonesia berada dalam jangkauan dan cukup menjanjikan.

"Membangun kepercayaan pada AI bukan sekadar tantangan teknologi, namun juga pada aspek manusia," kata Astri.

"Memadukan inovasi dengan transparansi, desain yang berpusat pada manusia, kemitraan lintas-sektor yang mendalam, dan kerangka regulasi yang jelas, kita dapat membangun sistem layanan kesehatan yang lebih cerdas dan tangguh, serta memberikan layanan yang lebih baik bagi lebih banyak orang," ujar dia memungkasi.

Laporan lengkap Future Health Index 2025 beserta keterangan metodologi risetnnya bisa diakses di sini.

Penulis: Tim Media Servis