Menuju konten utama
Mozaik

Laporan Aktivitas Gunung Marapi dari Masa Lampau

Gunung Marapi butuh kajian ilmiah lebih serius dan lebih konsisten agar karakteristiknya semakin diketahui.

Laporan Aktivitas Gunung Marapi dari Masa Lampau
Header Mozaik Gunung Marapi. tirto.id/Tino

tirto.id - Gunung Marapi di Sumatra Barat meletus pada 3 Desember 2023 pukul 14.54 dan merenggut puluhan jiwa pendaki yang terjebak di ketinggian.

Banyaknya korban jiwa menunjukkan tidak ada tanda-tanda letusan besar yang terprediksi sebelumnya, meskipun status Gunung Marapi Level II (Waspada) semenjak Agustus 2011 dan masih belum dicabut.

Publikasi ilmiah pertama tentang Gunung Marapi ditulis oleh Salomon Müller--pendaki Eropa pertama ke gunung tersebut--bersama rekan ahli botaninya, Pieter Willem Korthals.

Bersama sejumlah pemandu pribumi, keduanya meneliti hingga kawah selama berhari-hari pada tahun 1834. Laporannya dimuat dalam artikel Berigten over Sumatra yang terbit di Amsterdam pada 1837.

Menurut Müller, kemungkinan gunung ini pernah erupsi luar biasa yang membuat puncak gunung terpenggal sekitar 600 meter, tampak dari bentuk mahkota seperti terpotong. Adanya kawah yang masih aktif, tidak ada fauna mamalia seperti kera di seluruh bagian gunung membuat peneliti curiga gunung ini memang dari dulu berbahaya.

Ia juga menginformasikan, ketika Perang Padri (1803-1837) masih berkecamuk, para penduduk di kaki gunung rutin membuat pasar di ketinggian, karena di bawah aktivitas perdagangan rawan dari perampokan dan penjarahan.

Disebutkan pula, gunung tiba-tiba mengeluarkan asap, entah belerang berbahaya atau erupsi sehingga jatuh banyak korban yang sedang berdagang di puncak.

Aktivitas Marapi

Sifat erupsi mendadak Gunung Marapi dirangkum lebih cermat oleh pakar geolog Belanda, RDM Verbeek dalam tulisan geologis wilayah Sumbar setebal 674 halaman, berjudul Topographische en Geologische Beschrijving van Een Gedeelte van Sumatra's Westkust (1883). Dalam buku ini Gunung Marapi disebut 156 kali dan mengkhususkan 32 halaman untuknya.

Menurut Verbeek, aktivitas vulkanis Marapi terbatas pada pelemparan abu, pasir, dan bebatuan, tidak lagi dalam bentuk aliran lava cair dari dalam kawah yang dulu biasa terjadi.

Akan tetapi, sebelum erupsi material itu dilemparkan, kebanyakan sebenarnya masih dalam bentuk cairan seperti terlihat dari pengamatan Verbeek. Bukti dari aliran lava di masa lampau, berdasarkan amatan sang geolog, antara lain terlihat dari Sumpur hingga Batu Beragung di pinggiran Danau Singkarak, dan dari lembah di Belimbing hingga Ombilin.

Saat sang geolog meneliti, ada dua puncak di gunung api tersebut, yang pertama di bagian barat daya dan dinamakan oleh pribumi Parapatti, tingginya 2.776 mdpl. Dan di titik timur laut, puncak yang benar-benar Marapi, tingginya 2.892 mdpl.

Salah satu kawah aktif yang dideskripsikannya adalah krater E. Dari kedalaman celahnya berembus nyaris tanpa suara, uap air panas bercampur asam sulfat (zwaveligzuur ) serta gas hidrogen sulfida (hydrogen sulphide gas).

Pada awal 1880-an, Marapi memang relatif tenang, sangat berbeda dengan tahun 1876 yang mengalami peningkatan aktivitas, melemparkan banyak abu dan bebatuan dengan kolom asap yang pekat, khususnya di bulan April.

Saat normal, yang keluar hanyalah fumarola dari celah kerak bumi yang berasap dan sesekali gemuruh ringan yang hanya terdengar dari jarak dekat.

Namun jika mulai aktif, yang keluar adalah kolom abu pekat, diiringi gempa dan gelegar, berikut blok-blok batu andesit yang besar-besar. Menurut pengamat dari Padang Panjang ketika kejadian tahun 1876, batu-batu ini terlempar seperti bola-bola api pijar.

Setelah tenang, seorang peneliti bernama Faber mengunjungi puncak gunung pada Agustus 1876. Namun saat berkunjung, mendadak keluar kolom asap berabu dengan gemuruh keras ketika Faber dan tim tak jauh dari kawah sehingga mereka segera turun.

Karena penasaran, esoknya Faber naik lagi dan menemukan banyak blok batu andesit bertebaran hasil erupsi hari sebelumnya, bahkan ada yang volumenya 12 meter kubik. Sejak Agustus hingga Desember 1876 sering terjadi gempa kecil yang terasa di Padang Panjang, gemuruh, serta kolom asap.

Pada Desember tahun yang sama, setelah kondisi kembali dirasa aman, seorang peneliti lain bernama Van Schelle mengunjungi puncak gunung. Baru saja hendak melihat bukaan kawah, tiba-tiba dari dalamnya terlempar material bebatuan sebesar kepala.

Ketika bermalam pada 24 Desember 1876, setelah hentakan gempa, bunyi gemuruh, dan abu gunung pun mulai beterbangan yang masih sempat dikumpulkannya. Dasar tidak kapok, dengan ditemani Letnan Infanteri Kellerman, besoknya ia kembali lagi melihat kawah.

Lagi-lagi ketika sibuk mengamati kawah dengan teropong dan terlihat massa cair yang tebal sedang menggelegak berisi blok-blok batu pijar seolah tergiring ke sana kemari, tiba-tiba bumi gemetar dan terdengar gemuruh.

Asap belerang turut membubung dan membuat kulit mereka sakit, kemudian menyusul batu-batu pijar sebesar kepala anak-anak berterbangan ke arah mereka yang beruntung tidak kena.

Dari catatan RDM Verbeek terlihat bahwa Gunung Marapi sebagai salah satu gunung yang masih aktif, letusannya tidak selalu bisa diprediksi. Setelah periode yang dirasa aman pun masih mungkin terjadi erupsi dahsyat.

Hal ini membuat Verbeek menyarankan agar pinggir kawah Marapi yang masih aktif dihormati dengan tidak terlalu didekati. Ia memastikan bahwa massa cair di saluran kawah kadang-kadang masih melakukan pergerakan dan tidak selalu bisa diobservasi.

Dengan dampak signifikan yang ditimbulkan, Marapi butuh kajian ilmiah lebih serius dan lebih konsisten agar karakteristiknya semakin diketahui.

Baca juga artikel terkait MOZAIK atau tulisan lainnya dari Novelia Musda

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Novelia Musda
Penulis: Novelia Musda
Editor: Irfan Teguh Pribadi