Menuju konten utama

Laba Bersih BNI Tembus Rp10,09 Triliun di Semester I 2025

Laba bersih yang berhasil dicapai Perseroan ditopang oleh penguatan likuiditas dan pengelolaan kualitas aset hingga enam bulan pertama 2025.

Laba Bersih BNI Tembus Rp10,09 Triliun di Semester I 2025
Wakil Direktur Utama BNI Alexandra Askandar (tengah), Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena (kedua kanan), Direktur Risk Management BNI David Pirzada (kanan), Direktur BNI Muhammad Iqbal (kiri), Direktur BNI Abu Santosa Sudradjat (kedua kiri) menyampaikan paparan kinerja BNI semester I 2025 di Graha BNI, Jakarta, Jumat (25/7/2025) ANTARA FOTO/Fauzan/foc.

tirto.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp10,1 triliun pada semester I 2025, turun dari periode yang sama di tahun 2024 senilai Rp10,69 triliun.

Wakil Direktur Utama BNI, Alexandra Askandar, menyampaikan laba bersih yang berhasil dicapai Perseroan ditopang oleh penguatan likuiditas dan pengelolaan kualitas aset hingga enam bulan pertama 2025.

"Kami melihat penguatan CASA (dana murah) dan kualitas aset sebagai pilar utama untuk memperkuat kapasitas ekspansi kredit di semester kedua,” ujar dia, dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (25/7/2025).

Jika dirinci, sampai akhir Juni 2025, dana murah BNI tumbuh sebesar 18,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp647,6 triliun. Pertumbuhan dana murah tersebut lantas mendorong likuiditas bank pelat merah ini semakin lebar, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 16,5 persen menjadi Rp900 triliun.

Sementara itu, pertumbuhan rekening giro tercatat sebesar 25,1 persen (yoy) dan tabungan tumbuh 10,5 persen (yoy).

“Mendorong peningkatan rasio CASA menjadi 72,0 persen atau naik dari 70,7 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya,” tambah Xandra, sapaan Alexandra.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menjelaskan pertumbuhan CASA yang solid mencerminkan penguatan fondasi struktur pembiayaan BNI melalui digitalisasi dan transformasi cabang.

Hingga akhir semester I 2025, penyaluran kredit BNI tumbuh 7,1 persen (yoy), menjadi Rp778,7 triliun. Jika dirinci, kredit korporasi tumbuh 10,4 persen (yoy) menjadi Rp435,8 triliun, yang disumbang oleh penyaluran kredit ke sektor swasta, Badan Usaha Milik negara (BUMN), dan institusi pemerintah.

“Kredit kepada sektor swasta dan institusi naik 11,1 persen (yoy) menjadi Rp314,6 triliun, sementara kredit ke BUMN tumbuh 8,7 persen (yoy) menjadi Rp121,2 triliun,” tutur Hussein.

Pada saat yang sama, kredit ke segmen konsumer juga mencatat pertumbuhan 10,7 persen (yoy) menjadi Rp147,0 triliun, didorong oleh kredit individu yang naik 11,7 persen (yoy) menjadi Rp60,1 triliun dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang meningkat 9,9 persen (yoy) menjadi Rp68,4 triliun.

Sedangkan, untuk kredit segmen kecil, yakni untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) non-Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga tercatat tumbuh 9,2 persen (yoy) menjadi Rp44,4 triliun. Kemudian, untuk kredit segmen komersial juga tumbuh positif 5,5 persen.

“Pertumbuhan kredit usaha di perusahaan anak juga meningkat 27,1 persen (yoy) menjadi Rp17,2 triliun, mencerminkan penguatan sinergi grup. Ekspansi bisnis hibank, anak usaha kami yang fokus pada pembiayaan segmen komersial & SME berbasis digital mampu tumbuh 31 persen (yoy) dengan kualitas aset yang terjaga dengan baik yaitu NPL rasio dibawah 1 persen dan stabil dari tahun lalu,” jelas Hussein.

Seiring dengan tersalurkannya kredit kepada sektor-sektor yang berisiko rendah, kualitas aset BNI terus membaik, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang berada di level 1,9 persen dan Loan at Risk (LAR) yang berada di posisi 11,0 persen.

“Sehingga, Cost of Credit (CoC) dapat dijaga di level 1 persen,” tutup Hussein.

Baca juga artikel terkait LABA BERSIH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra