Menuju konten utama

Kronologi Sate Maut Boyolali: Korban Tewas Diduga Keracunan Sate

Warga Boyolali diduga tewas keracunan makanan dari sate yang dikirimkan lewat ojol tanpa identitas pengirim yang jelas. Pihak keluarga lalu lapor polisi.

Kronologi Sate Maut Boyolali: Korban Tewas Diduga Keracunan Sate
Ilustrasi Keracunan. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kasus sate maut yang diduga beracun terjadi di Boyolali. Seorang korban ditemukan tewas setelah menyantap kiriman sate misterius tersebut yang diantar pengemudi ojek online (ojol) tanpa identitas pengirim yang jelas. Korban adalah perempuan paruh baya berinisial A (57 tahun). Bagaimana kronologi kasus ini?

Sebelumnya, seorang warga Desa Sindon, Ngemplak, Boyolali berinisial A ditemukan tewas tak bernyawa di rumahnya pada 19 Mei 2025 lalu. Ketika ditemukan, jenazah korban menunjukkan tanda-tanda kematian tak wajar.

Pihak keluarga menuturkan bahwa mulut dan telinga korban tampak membiru ketika ditemukan tak bernyawa di rumahnya. Mulut korban dilaporkan berbusa, pakaiannya juga dipenuhi bekas muntahan.

Keanehan yang mencurigakan juga tampak di ketika muncul kesaksian bahwa lima ekor ayam di sekitar lokasi rumah korban mati. Kelima ekor ayam ini juga ditemukan mati dengan misterius.

Korban sebenarnya telah dimakamkan pada hari jenazahnya ditemukan. Namun, belakangan muncul dugaan kuat bahwa A adalah korban keracunan sate beracun. Bagaimana kasus ini berkembang?

Kronologi Kasus Sate Maut Boyolali yang Tewaskan Satu Orang

Kasus sate maut di Boyolali bermula ditemukannya korban A pada 19 Mei 2026. Peristiwa itu terjadi ketika anak kedua korban datang bertamu. Ia datang ke rumah korban hendak menitipkan cucu korban. Hal ini disebutnya sudah jadi kebiasaan.

Namun, ketika anak kedua korban tiba di rumah ibunya, perasaan curiga muncul karena lampu rumah ibunya itu tampak masih menyala. Padahal, korban biasa mematikan lampu setiap pagi hari, sebelum aktivitas harian dilakukan.

Pintu rumah juga tak kunjung dibuka meskipun anak kedua korban mengetuk pintu dan memanggil ibunya itu. Anak kedua korban kemudian meminta bantuan tetangga sekitar.

Karena tak kunjung ada jawaban dari dalam rumah, pintu pun didobrak oleh para tetangga. Di dalam, korban ternyata sudah tergeletak tak bernyawa dalam keadaan terlentang.

Tubuh korban telah menunjukkan tanda-tanda aneh ketika ditemukan pada 19 Mei 2026. Namun, semula pihak keluarga tidak memiliki kecurigaan bahwa A berpotensi jadi korban pembunuhan.

Jenazah korban A kemudian dimakamkan hari itu juga. Seluruh proses pemakaman pun dilakukan dan diselesaikan.

Akan tetapi, sepekan setelah korban meninggal, pihak keluarga mulai mengendus tanda-tanda kematian tak wajar pada korban. Hal ini termasuk tanda-tanda seperti keracunan pada jenazah ketika ditemukan hingga kematian lima ekor ayam di dekat rumah korban yang mati misterius diduga makan sisa sate.

Pada 21 Mei 2026, pihak keluarga kemudian melaporkan kecurigaan mereka ke Polsek Ngemplak. Laporan terkait dugaan tindak pidana dalam kasus ini kemudian dilayangkan secara resmi ke Polres Boyolali pada 25 Mei 2026.

Tim gabungan dari Satuan Reserse Kriminal Polres Boyolali, Bidang Kedokteran dan Kesehatan, dan Disaster Victim Identitication (DVI) Polda Jateng melakukan ekshumasi makam A pada Sabtu (30/5/2026). Proses ekshumasi ini untuk menindaklanjuti laporan yang diberikan oleh anak A.

Proses penyelidikan polisi kini masih terus berlangsung. Bukti pembunuhan juga masih digali. Kapolres Boyolali AKB Indra Maulana Saputra mengatakan pihaknya menanti hasil autopsi dalam penegakan penyebab tewasnya korban.

"Kami belum bisa menyimpulkan. Indikasinya banyak, bisa karena sakit, serangan jantung, atau lainnya. Kami masih menunggu,” kata Indra dikutip Tempo.

Lima bangkai ayam yang mati misterius juga diambil polisi sebagai sampel untuk diperiksa di laboratorium. Kendati demikian, kematian ayam ini belum tentu akan memberikan petunjuk pasti karena statusnya ayam liar.

Sementara itu, dugaan korban A tewas meninggal lewat racun kemudian mengemuka setelah anak kedua korban berinisial L teringat bahwa ibunya sempat bercerita mendapatkan kiriman sate misterius pada sore hari tanggal 18 Mei 2026.

Sate itu dikirim ke rumah A via ojol. Berdasarkan penuturan ojol, pengirim paket sate tercatat nama L, anak kedua korban. L memang tinggal tak jauh dari penjual sate yang dimaksud, namun ia mengaku tak pernah memesan ataupun mengirim sate tersebut.

L menuturkan bahwa ibunya itu sempat menelpon ketika mendapat kiriman sate dari ojol demi memastikan. L menjelaskan ke ibunya bahwa ia tidak mengirimkan sate dan melarang untuk memakannya. Nahas, sang ibu lalu ditemukan sehari setelahnya dalam posisi tergeletak di rumahnya dan diduga tetap mengonsumsi sate tersebut.

Baca juga artikel terkait KASUS KERACUNAN SATE atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar