tirto.id - Dua anggota Garda Nasional Amerika Serikat berada dalam kondisi kritis setelah mereka ditembak di dekat pintu masuk Farragut West Metro Station, satu blok dari Gedung Putih, Rabu (26/11) waktu setempat. Serangan itu kini sedang diselidiki sebagai tindakan terorisme.
Melansir New York Times, serangan terjadi di tengah pengerahan pasukan di Washington yang memicu banyak kontroversi. Pengerahan militer itu sebagai bagian dari kebijakan Trump untuk menangani kejahatan jalanan.
Direktur FBI, Kash Patel, mengatakan kedua tentara yang menjadi korban mengalami luka parah dalam insiden penembakan tersebut. Sebelumnya terjadi kekeliruan informasi dari Gubernur Virginia Barat, Patrick Morrisey, yang menyebut kedua tentara tewas, namun kemudian dikoreksi.
“Diserang secara brutal dalam tindakan kekerasan yang mengerikan. Mereka ditembak. Mereka dalam kondisi kritis," ujar Patel dalam konferensi pers.
Kronologi Penembakan Dekat Gedung Putih
Kepolisian setempat mengatakan seorang pria bersenjata datang dari sudut kota, melepaskan tembakan ke arah dua anggota Garda Nasional, yang berlokasi satu blok dari Gedung Putih, pada sehari sebelum Thanksgiving, seperti dilansir New York Times.
Melansir South China Morning Post, kronologi penembakan terjadi saat kedua tentara Garda Nasional Virginia Barat tengah berpatroli sekitar pukul 14.15 di dekat persimpangan Jalan 17 dan Jalan I, yang berada dekat Gedung Putih. Pelaku penembakan datang dan langsung menyergap keduanya.
Trump berada di Palm Beach, Florida saat serangan itu terjadi. Ia meminta Gedung Putih memberlakukan karantina, sementara aparat penegak hukum dari berbagai lembaga federal dan kota dikerahkan ke lokasi penembakan.
Melalui media sosialnya Trump menyampaikan pernyataan keras dan menyebut pelaku sebagai “binatang.”
“Tersangka mengalami luka serius, dan kini dirawat di rumah sakit, ia akan membayar harga yang sangat mahal,” tulisnya.
Pelaku Penembakan Dua Garda Nasional di Washington
Wali Kota Distrik Columbia, Muriel Bowser, menyebut insiden itu sebagai "penembakan terarah", sementara seorang pejabat polisi setempat menilai peristiwa tersebut tampaknya dilakukan oleh "penembak tunggal."
Melansir South China Morning Post, tersangka disebut sebagai Rahmanullah Lakanwal (29), seorang pria asal Afghanistan. Pejabat kehakiman menyatakan bahwa serangan tersebut kini tengah diselidiki sebagai tindakan terorisme.
Lakanwal tiba di AS pada 2021 melalui program visa khusus bagi warga Afghanistan yang membantu AS selama perang, yang rentan terhadap pembalasan dari Taliban setelah penarikan pasukan AS.
Menteri Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, telah mengonfirmasi di media sosialnya bahwa tersangka masuk ke AS pada September 2021 melalui program Operasi Welcome Allies di era Biden.
Namun, kini Lakanwal telah melampaui masa berlaku visanya dan berada secara ilegal di Amerika Serikat, seperti dilansir dari New York Times.
Tirto telah merangkum sejumlah informasi penting mengenai Internasional. Yuk, cek artikel selengkapnya dengan klik tautan di bawah ini!
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id































