tirto.id - Sebuah utas di platform X viral menceritakan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh founder SejutaCita, Andhika Sudarman. Simak kronologi lengkapnya berikut.
SejutaCita adalah sebuah aplikasi dan platform digital yang ditujukan untuk pelajar SMA/SMK dan mahasiswa di Indonesia.
Tujuan utamanya adalah membantu anak muda lebih mudah menemukan berbagai informasi kegiatan pengembangan diri, seperti webinar, lomba, kelas, konferensi, beasiswa, magang, dan program lainnya.
Kronologi Kasus Andhika Sudarman
Pada 22 Februari 2026, akun X @ma**hag**en100 mengunggah sebuah utas panjang berisi pengalaman yang disebut sebagai “review jujur” dari seorang alumni program SejutaCita Future Leaders (SFL).
Penulis utas menyampaikan bahwa cerita yang dibagikan merupakan pengalaman asli, meski beberapa detail mungkin tidak sepenuhnya sama, dan identitas peserta telah disamarkan.
Sejak awal, ia menjelaskan bahwa proses seleksi SFL memiliki tiga jalur, dan setiap jalur mengharuskan peserta membayar biaya pendaftaran Rp99.000. Disebutkan bahwa hanya tiga peserta yang mendapat pendanaan penuh, sedangkan lainnya memperoleh pendanaan parsial atau membiayai sendiri.
Sekitar 150 peserta dinyatakan lolos seleksi dengan status sebagian besar parsial, lalu diarahkan mengikuti sesi Zoom penjelasan sebelum memutuskan lanjut atau tidak jika lanjut, mereka kemudian diminta menandatangani surat komitmen bermaterai.
Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi ke dalam beberapa divisi seperti travel & itinerary, perlengkapan, serta bonding & dokumentasi. Namun, menurut utas tersebut, ekspektasi peserta bahwa panitia pendamping sudah memahami sistem dan kondisi negara tujuan tidak sesuai dengan kenyataan.
Disebutkan bahwa baik panitia maupun peserta sama-sama belajar dari awal, termasuk soal sistem transportasi, pembayaran, hingga detail imigrasi. Saat mengunjungi tempat bersejarah pun, tidak ada penjelasan mendalam mengenai latar belakang lokasi tersebut, sehingga pengalaman dinilai lebih menyerupai perjalanan wisata biasa tanpa pemandu.
Selain itu, kunjungan ke dua universitas ternama yang sebelumnya dijanjikan dalam materi promosi akhirnya berubah. Sekitar satu bulan sebelum keberangkatan, panitia menyampaikan bahwa jadwal terlalu padat dan peserta diminta memilih fokus pada satu universitas saja. Salah satu kunjungan dibatalkan, namun logo universitas tersebut tetap tercantum di spanduk yang telah dicetak.
Penulis juga menceritakan bahwa rombongan penerbangan dibagi menjadi dua kelompok (A dan B) dengan maskapai berbeda, yaitu China Eastern dan Vietnam Airlines, sehingga waktu tiba tidak bersamaan dan agenda hari pertama menjadi tidak teratur.
Setibanya di bandara, peserta menerima uang tunai 500 RMB dengan informasi bahwa dana tambahan mungkin diberikan, namun menurut utas tersebut tidak ada penambahan merata. Peserta mengaku bingung apakah dana tersebut juga termasuk untuk konsumsi, karena di surat konfirmasi tercantum anggaran makan tiga kali sehari.
Dalam praktiknya, jadwal yang padat dan terburu-buru membuat waktu makan sering tidak teratur, bahkan ada peserta yang kondisi kesehatannya menurun.
Pada hari perpindahan dari Beijing ke Shanghai menggunakan kereta cepat, rombongan disebut terlambat sehingga tiket harus diubah ke jadwal sore dan sebagian peserta mendapatkan tiket berdiri selama perjalanan sekitar empat jam.
Selain itu, beberapa perlengkapan seperti lanyard tidak disediakan dan harus dicetak sendiri oleh peserta, serta tidak ada grup komunikasi khusus untuk orang tua meski banyak peserta masih di bawah umur. Data kesehatan yang sebelumnya dikumpulkan melalui formulir juga, menurut penulis, tidak pernah ditindaklanjuti selama perjalanan.
Bagian yang paling disorot dalam utas tersebut adalah sesi mentoring yang dilakukan pada malam hari di kamar hotel peserta, dipimpin oleh founder SFL berinisial AS, yang disebut sebagai mahasiswa berprestasi UI dan alumni Harvard University.
Mentoring dibagi menjadi kelompok siswa sekolah dan mahasiswa. Dalam kelompok siswa, penulis mengklaim bahwa terdapat pernyataan-pernyataan yang dianggap tidak pantas dan tidak relevan dengan topik studi atau karier, termasuk komentar mengenai masa depan peserta, pertanyaan pribadi terkait penampilan dan pilihan hidup, serta cerita-cerita mengenai hubungan pribadi yang dinilai membuat peserta merasa tidak nyaman.
“AS juga sesekali menepuk paha Lili layaknya teman sebaya yang menimbulkan perasaan tidak nyaman. AS menceritakan temannya yang pernah melakukan hubungan intim dan akhirnya putus. AS berucap, "potong t*t*d saya kalau kalian yang pacaran dari SMP SMA bisa sampai nikah.",” tulis akun tersebut.
Pada kelompok mahasiswa, mentoring disebut berlangsung hingga larut malam, dan terdapat pembahasan mengenai pola hubungan, pengalaman pribadi mentor, serta pertanyaan mengenai pekerjaan dan gaji orang tua peserta yang dianggap tidak relevan.
“Sebelum mentoring dimulai, Anggrek hendak membenarkan mukenahnya karena rambutnya terlihat keluar. AS tiba-tiba berucap ke Anggrek, "kamu kalau mau buka (mukenah) gapapa kok, gaakan ada yang judge kamu. (Jeda). Karena rambut kamu keluar-keluar.",” sambungnya.
Di akhir utas, penulis menyimpulkan bahwa biaya perjalanan yang disebut mencapai sekitar Rp30 juta dinilai tidak sebanding dengan pengalaman yang diperoleh.
Setelah utas tersebut ramai, pihak SejutaCita mengeluarkan klarifikasi tertulis yang diunggah di akun X @sejutacita_id yang berisi permohonan maaf dan tekad untuk menjadikan utas tersebut masukan untuk menjadi lebih baik.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































