tirto.id - Tim SAR gabungan menemukan bangkai Helikopter Tipe BK117 D3 milik Estindo Air di kawasan hutan sekitar Air Terjun Mandin Damar, Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, pada Rabu (3/9) sekitar pukul 14.45 WITA.
Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo di Banjarbaru, dalam konferensi pers mengatakan korban pertama ditemukan sekitar pukul 15.53 WITA 100 meter dari bangkai helikopter. Simak informasi terbaru soal evakuasi helikopter jatuh di Kalsel berikut ini.
Kronologi Helikopter Jatuh di Kalimantan Selatan
Helikopter Tipe BK117 D3 milik Estindo Air hilang kontak saat terbang di sekitar Mentewe, Tanah Bumbu, Provinsi Kalsel pada Senin (1/9) sekitar pukul 08:54 WITA.

Helikopter tersebut membawa delapan orang, terdiri atas seorang pilot, seorang engineer, dan enam penumpang, yakni Capt. Haryanto, Eng Hendra, Mark Werren, Yudi Febrian, Andys Rissa Pasulu, Santha Kumar, Claudine Quito, dan Iboy Irfan Rosa.
Helikopter lepas landas dari Bandara Syamsir Alam, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, pada Senin (1/9) sekitar pukul 08:46 WITA dengan perkiraan tiba di Bandara Palangka Raya pukul 10.15 WITA.
Heli tersebut kontak terakhir tercatat pada pukul 08.54 WITA, sebelum pesawat tidak lagi dapat dihubungi AirNav dari Kotabaru, Banjarmasin, Balikpapan maupun Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dan kemudian laporan hilang kontak diterima pukul 12.02 WITA.
Tim SAR gabungan menemukan helikopter tersebut pada hari ketiga pencarian yaitu Rabu (3/9). Helikopter ditemukan dalam keadaan hangus terbakar di titik koordinat 03° 5’6” S – 115° 37’39.07” E.
Bangkai helikopter yang terbakar ditemukan sekitar 700 meter dari titik koordinat yang sebelumnya diberikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Tim Anggrek 1 Cabang Nangka, Remisor, saksi yang pertama menemukan bangkai Helikopter BK117 D3 dengan melihat serpihan fisik helikopter di hutan Gunung Belumutan.
Warga Desa Gunung Raya itu menjelaskan awalnya tim berangkat pada Rabu sekitar pukul 05.00 WITA, di tengah hutan menaiki gunung dan turunan lembah.
“Kami menggunakan titik koordinat yang sebelumnya diberikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Walaupun ada informasi simpang siur, kami tetap pakai petunjuk KNKT,” ujarnya di Desa Emil Baru, Mentewe, Tanah Bumbu, Rabu malam.
Setelah itu, naik ke Gunung Putar, tidak ada hasil dan lanjut ke Gunung Belumutan. Saat tiba di Gunung Belumutan turun sedikit sekitar pukul 14.45 WITA, terlihat bentuk seperti atap pondok.
“Setelah mendekat ternyata bagian ekor helikopter yang terpisah dari badan, kami yakin itu helikopter setelah mendekat,” tutur Remisor.
Dia mengungkapkan bangkai helikopter yang hangus itu berada 300 meter dari puncak Gunung Belumutan, dan sekitar 300 meter dari titik koordinat saat hilang kontak pada Senin (1/9). “Kemiringan tanah di lapangan 75 derajat, medan cukup sulit,” ungkap Remisor.
Update Evakuasi Bangkai Helikopter dan Jumlah Korban
Tim SAR gabungan mengerahkan sekitar 60 personel gabungan Search and Rescue Unit (SRU) darat dalam pencarian dan evakuasi tujuh korban lain serta bangkai helikopter Helikopter BK117 D3.
Pantauan pewarta di lapangan, SRU darat mulai bergerak pukul 06.00 WITA dari Posko 4 di Desa Emil Baru, Tanah Bumbu, Kamis (4/9), menuju ke TKP dengan menempuh perjalanan estimasi waktu enam jam lebih.
Berdasarkan keterangan warta setempat, medan di lapangan sulit, tim menempuh perjalanan terjal dengan dominan tanjakan mencapai 70 derajat, sehingga butuh waktu yang ekstra ke titik koordinat.
“Satu korban sudah dievakuasi dalam keadaan meninggal, sekitar 100 meter dari bangkai heli. Sedangkan tujuh lagi masih proses pencarian di bangkai helikopter,” ujar Yudhi Bramantyo, dikutip AntaraNews, Kamis (4/9).
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id
































