Menuju konten utama

Kritik Anies soal Wacana Penutupan Prodi Tak Dibutuhkan Industri

Anies menyoroti kesalahan pandangan bahwa ilmu murni kerap dianggap jauh dari praktik industri.

Kritik Anies soal Wacana Penutupan Prodi Tak Dibutuhkan Industri
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan kuliah kebangsaan pada Turun Tangan Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (7/12/2025). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nz

tirto.id - Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menanggapi wacana pemerintah yang dikabarkan akan menutup program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri. Ia menilai kebijakan tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan dan kekhawatiran terkait arah pendidikan nasional.

“Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang,” tulis Anies dalam unggahan di akun X pribadinya @aniesbaswedan, dikutip Tirto Minggu (26/4/2026).

Anies menyoroti pandangan bahwa ilmu murni kerap dianggap jauh dari praktik industri dan seolah berada di “menara gading”. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal.

“Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap ‘tidak berguna’, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan,” ujarnya.

Ia mencontohkan berbagai kemajuan seperti internet, kecerdasan buatan, hingga perkembangan di bidang kesehatan yang menurutnya tidak terlepas dari riset ilmuwan dasar yang bekerja tanpa kepastian aplikasi langsung. Para peneliti, kata dia, melakukan riset bukan semata karena permintaan pasar, melainkan dorongan untuk memahami cara kerja dunia.

“Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya,” ujarnya.

Anies yang pernah menjabat Rektor Universitas Paramadina juga mengingatkan bahwa negara yang hanya menyiapkan tenaga kerja siap pakai tanpa mengembangkan pemikir dasar berisiko menjadi sekadar pengguna teknologi.

“Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia,” katanya.

Ia juga menyinggung bahwa banyak kebijakan publik yang kuat justru bertumpu pada ilmu dasar, seperti epidemiologi dalam penanganan pandemi, ilmu lingkungan dalam menghadapi perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam perumusan kebijakan fiskal.

“Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal,” ujarnya.

Meski demikian, Anies mengakui pentingnya keterhubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri. Ia menyebut keduanya tidak perlu dipertentangkan.

“Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk,” katanya.

Menurutnya, perguruan tinggi tetap harus merespons kebutuhan zaman, namun tidak dengan cara menghapus ilmu murni. Yang dibutuhkan, kata dia, adalah membangun jembatan antara keduanya, bukan saling menggantikan.

“Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri,” ujarnya.

Ia menutup dengan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara keterampilan praktis dan pengembangan pemikiran dasar, antara kebutuhan saat ini dan visi jangka panjang, agar Indonesia tidak hanya mengikuti perkembangan dunia, tetapi juga mampu menciptakannya.

"Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait ANIES BASWEDAN atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Hendra Friana