Menuju konten utama

KNKT: KA Argo Bromo Diminta Rem Dikit-dikit Sebelum Tabrak KRL

KNKT mengungkap alasan masinis Argo Bromo Anggrek rem sedikit-sedikit. Pusdal tak tahu kondisi lapangan saat kecelakaan di Bekasi Timur.

KNKT: KA Argo Bromo Diminta Rem Dikit-dikit Sebelum Tabrak KRL
Petugas mengamati gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Menurut data KAI hingga pukul 08.45 WIB sebanyak 14 orang meninggal dunia dan 84 korban luka, akibat kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuterline. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menjelaskan bahwa Pusat Pengendali (Pusdal) tak mengetahui secara jelas kondisi di lapangan saat peristiwa temperan di perlintasan sebidang terjadi.

Hal ini disampaikannya menyusul alasan Pusdal meminta masinis Argo Bromo melakukan rem sedikit-sedikit sebelum menabrak Commuter Line di Bekasi Timur.

“Karena memang di Pusdal kan temperan seperti apa mereka belum tahu kondisi lapangan seperti apa,” kata Soerjanto kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, (21/5/2026).

Menurutnya, hal ini lah yang menyebabkan mereka memberikan instruksi hanya untuk berhati-hati kepada masinis.

“Maka dia positif thinking saja bahwa kurangi kecepatan lah intinya untuk berhati-hati dan 35 atau memberi klakson lah,” katanya.

Soerjanto menambahkan, masinis KA Argo Bromo Anggrek pada dasarnya telah merespons apa yang disampaikan oleh pusat pengendali.

“Cuma memberi tahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35. Nah itu aja yang disampaikan sehingga masinis sudah melakukan merespons apa yang disampaikan oleh Pusdal dari pengendali operasi di Manggarai," jelasnya.

Lebih jauh, dia menyebut masih ada sejumlah hal yang dilakukan penelitian oleh KNKT. Soerjanto bilang masih terlalu dini untuk menyimpulkan hasil investigasi yang ada.

“Ada beberapa hal yang masjh kita dalam penelitian, jadi untuk menyimpulkan apa yang jadi penyebab masih terlalu dini lah kita perlu waktu lagi untuk mengevaluasi ada beberapa data yang masih kita butuhkan dan masih kita olah untuk melengkapi data-data tersebut,” katanya.

Sebelumnya, KNKT mengungkapkan masinis KA Argo Bromo Anggrek telah mulai melakukan pengereman sekitar 1,3 kilometer sebelum menabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.

Menurut dia, masinis mulai mengurangi laju kereta setelah menerima informasi dari pusat pengendali perjalanan kereta atau PK Timur terkait adanya temperan di perlintasan sebidang. Namun, pengereman yang dilakukan bukan pengereman maksimum.

KA Bromo Anggrek, sebut Soerjanto, membutuhkan sekitar 900 meter hingga 1 kilometer untuk berhenti apabila pengereman maksimum dilakukan.

“Karena dia tahunya dikomunikasi dari pusat kendali, ada temperan di JPL 85, kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35, artinya banyak-banyak klakson,” jelas Soerjanto.

Baca juga artikel terkait KECELAKAAN KERETA atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Dipna Videlia Putsanra