Menuju konten utama

Kisah Rara, Anak Nelayan Ternate Bangkit Lewat Sekolah Rakyat

Hari pertama di Sekolah Rakyat, Rara menggenggam tangan ibunya dan melangkah masuk asrama untuk menggapai impian.

Kisah Rara, Anak Nelayan Ternate Bangkit Lewat Sekolah Rakyat
Jannatul Zahra Umamit, siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 26 Ternate. FOTO/dok.Kemensos
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Laut biru Ternate menjadi saksi bisu kisah duka Jannatul Zahra Umamit (13). Doa dan harapan dari pesisir mengantar Rara, panggilannya, melangkah dari Pantai Dufa-Dufa menuju Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 26 Ternate.

Cerita Rara berawal dari kabar tenggelamnya sang ayah yang bekerja sebagai nelayan. Jasadnya tidak pernah ditemukan hingga kini.

Dengan ekspresi sedikit murung, Rara menceritakan saat itu kapal ayahnya terjebak badai di tengah laut. Sampai sekarang masih belum ada perkembangan soal insiden itu.

“Rara ingat sekali, waktu itu hari Minggu. Kami dapat kabar ketika jelang Subuh kalau kapal Ayah sudah terbalik,” ujarnya.

Sebagai anak pesisir, Rara gemar berenang, menyelam, dan mengeksplorasi Pantai Dufa-Dufa. Ia bermain atau sekadar melepas penat sepulang sekolah di sana. Akan tetapi, kini Rara menghabiskan waktu membantu sang ibu. Ia sehari-hari mencari dan menjual ikan ke pasar.

“Mama kerja jual ikan, tetapi kalau tidak ada ikan, mama jadi tukang cuci,” kata Rara.

Hidup bersama ibu dan dua adiknya yang masih kecil membuat dirinya memahami arti dari tanggung jawabnya. Rara tak larut dalam duka. Ia memilih kuat agar ibunya tetap tegar. Sebagai anak tertua, ia sadar akan hal ini.

Jerih payah perjuangan Rara berbuah hasil. Doanya agar bisa kembali bersekolah terkabul. Ia menerima kabar tentang kehadiran Sekolah Rakyat, program sekolah gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto bersama Kementerian Sosial.

“Waktu itu aku ditanya, mau enggak sekolah di Sekolah Rakyat? Awalnya aku dan Mama kaget karena dibilang sekolah ini gratis, soalnya sekolah lain harus bayar mahal. Jadi aku mau meringankan beban Mama,” katanya.

Pada hari pertama Rara di Sekolah Rakyat, tangannya menggenggam erat tangan sang ibu. Ia melangkah melewati gerbang sekolah berasrama itu, membawa impian-impian kecil, untuk mencoba peruntungan baru.

Rara kini menikmati nyamannya asrama. Rara, yang terbiasa berjalan kaki sepulang sekolah berpuluh kilometer, sekarang dapat lebih mudah untuk fokus belajar dan menggapai impiannya. Cita-citanya menjadi tentara wanita.

Rara menceritakan pengalaman menyenangkan saat menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Rakyat, yang hidangannya jarang ia nikmati di rumah.

“Hari-hari di rumah makan ikan saja kalau tidak ya makan bubur, makan ayam kalau ada uang lebih. Sekarang bisa makan sayur, ikan, ayam setiap hari, senang banget,” katanya sambil tersenyum malu.

Rara tidak lupa mengucapkan terima kasih tulus kepada para penggagas Sekolah Rakyat.

“Pak Prabowo, terima kasih sudah masukkan kami ke Sekolah Rakyat. Kami berterima kasih sangat banyak karena tidak perlu dibayar, gratis semua. Semoga Pak Prabowo dan Menteri Sosial sehat-sehat selalu dan diberi rezeki banyak-banyak. Semoga di Sekolah Rakyat ini bisa terus senang dan gembira,” ujarnya.

Ibunda Rara, Titi Finarti, mengaku takjub dengan keteguhan putri sulungnya.

“Penghasilan sehari-hari saya tidak menentu, apalagi semenjak ditinggal Ayah Rara, keuangan terasa semakin pelik. Saya tahu dia paham kondisi di rumah meski nggak banyak bicara,” ucapnya.

Sang inu menuturkan Sekolah Rakyat sangat membantu Rara untuk terus bersekolah di tengah keterbatasan. Sejak ditinggal suami, kondisi ekonomi keluarga kian berat. Ia sempat berniat menyekolahkan Rara ke pesantren. Biaya asrama dan seragam yang tak terjangkau mengurungkan niat itu.

“Mama, terima kasih sudah izinkan Rara belajar di Sekolah Rakyat. Sekarang Mama enggak perlu khawatir soal biaya,” kata Rara sambil memeluk ibunya dengan erat.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis