Menuju konten utama

Kisah Nek Sania Melunasi Setoran Haji dengan Utang

Kemenhaj turun tangan meringankan beban Nek Sania yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh cuci.

Kisah Nek Sania Melunasi Setoran Haji dengan Utang
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, sedang menyerahkan bantuan kepada Nek Sania, jemaah haji asal Serdang Begadai, Sumatra Utara. Foto: Dok. Kemenhaj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nek Sania (72), seorang janda dan buruh cuci asal Serdang Bedagai, Sumatra Utara (Sumut) berjuang melunasi setoran haji tahun ini dengan meminjam uang. Kisah ini memicu respons Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), yang atas arahan Presiden Prabowo Subianto, bergerak cepat mendata jemaah serupa untuk diringankan beban keuangannya.

"Beliau janda, dan tinggal menumpang di rumah anaknya di Serang Bedagai," kata Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, dalam keterangan resmi, usai mengunjungi Nek Sania di rumahnya, dikutip Minggu (21/6/2026).

Dahnil bercerita, Nek Sania sehari-harinya adalah buruh cuci. Ia mendaftarkan diri sebagai jemaah haji pada 2014 dari uang pemberian anak-anaknya.

Pada musim haji tahun ini, Nek Sania mendapatkan panggilan ke Baitullah. Sebagai jemaah reguler, tentu ia harus melunasi setorannya bila ingin berangkat.

Saat itu, kata Dahnil, Nek Sania tidak memiliki uang untuk melunasinya. Entah bagaimana caranya, hingga akhirnya Nek Sania bisa berangkat haji berkat pinjam ke sejumlah pihak.

"Akhirnya beliau berangkat haji tahun ini, dari utangan tersebut," kata Dahnil.

Karena itu, kata Dahnil, Kemenhaj mendata kondisi para jemaah haji yang bernasib seperti Nek Sania. Sebab, haji adalah panggilan, bukan soal mereka yang punya duit dan punya keinginan menunaikan rukun Islam kelima.

Dahnil mengatakan, mungkin banyak orang yang "nyinyir" naik haji kok sampai utang sana-sini. Pikiran banyak orang tersebut tak salah. Benar secara syariat, karena haji disyaratkan bagi yang mampu," kata Dahnil.

Namun, kata Dahnil, itulah spirit keberagamaan khas Indonesia. Haji bagi beliau-beliau adalah puncak penyempurnaan spiritualisme, dan seringkali spiritualisme tidak selalu bisa sekadar dimaknai secara syariat, banyak yang juga yang memaknainya secara hakikat bahkan makrifat.

"Tidak semua unsur dalam spiritualisme bisa dirasionalisasi, ada hal-hal yang ghaib dimaknai secara batin, sama halnya dengan cinta, seringkali cinta tak bisa dirasionalisasi," kata Dahnil.

Oleh sebab itu, kata Dahnil, maka ada ungkapan "cinta itu buta". Mahabatullah, kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT diekspresikan seorang Nek Sania dengan "memaksakan diri agar mampu naik haji".

"Saya sering menyebutnya, ada orang yang mampu naik haji tapi ada juga berusaha dan memampukan diri naik haji sehingga semua upaya halal dilakukan meskipun secara syariat kewajiban mereka telah gugur sejatinya. Namun, cinta kepada Allah dan Nabinya tidak bisa direduksi dengan sekedar rasionalitas syariat," kata Dahnil.

Nek Sania

Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, sedang menyerahkan bantuan kepada Nek Sania, jemaah haji asal Serdang Begadai, Sumatra Utara. Foto: Dok. Kemenhaj.

Dahnil mengaku, atas pemerintah Presiden Prabowo Subianto agar Kemenhaj mendata jemaah haji yang seperti Nek Sania ini. "Agar bebannya diringankan, agar utangnya terbayarkan," kata Dahnil menambahkan.

Dahnil turut melaporkan, pemulangan jemaah haji 2026 sudah hampir tuntas. Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) per 20 Juni, jemaah yang sudah tiba di Tanah Air berjumlah 127.709 orang yang terbagi dalam 329 kloter atau 62 persen.

Baca juga artikel terkait KEMENTERIAN HAJI atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Siti Fatimah