Menuju konten utama

Ketika Setu Babakan Dibranding Sebagai Pusat Kembang Goyang

Upaya branding Setu Babakan sebagai pusat kuliner Kembang Goyang dilakukan melalui pendekatan partisipatif bersama warga dan Pokdarwis.

Ketika Setu Babakan Dibranding Sebagai Pusat Kembang Goyang
Foto mural Pusat Kembang Goyang Setu Babakan. (Foto: Dok. Pribadi)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Setu Babakan selama ini dikenal sebagai ruang pelestarian budaya Betawi di Jakarta Selatan. Kawasan ini identik dengan rumah adat, pertunjukan seni, dan berbagai tradisi Betawi yang terus dijaga. Namun, di balik citra budaya tersebut, ada satu kuliner Betawi yang sudah lama hidup di kawasan ini, tetapi belum dikenal luas sebagai bagian dari identitasnya: kembang goyang.

Kembang goyang bukan kuliner baru. Ia diproduksi secara turun-temurun oleh warga di sekitar Setu Babakan. Persoalannya bukan pada keberadaan produk, melainkan branding kawasan. Selama bertahun-tahun, Setu Babakan belum diposisikan secara jelas sebagai sentra kembang goyang, sehingga kuliner ini belum muncul kuat dalam ingatan publik sebagai bagian dari identitas kawasan.

Kuliner Yang Sudah Ada, Tapi Belum Dikenal Lewat Branding

Bagi pelaku UMKM di sekitar Setu Babakan, kembang goyang merupakan usaha rumahan yang dijalankan dengan cara tradisional. Produk dijual dalam kemasan sederhana, tanpa logo yang konsisten, dan dipasarkan secara terbatas. Media sosial belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana promosi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan pada kualitas produk, melainkan pada cara kembang goyang diperkenalkan ke publik. Tanpa branding yang jelas, kuliner tradisional sulit dikenali sebagai daya tarik kawasan, meskipun produksinya terus berjalan.

Branding Kawasan Sebagai Pusat Kembang Goyang

Upaya branding Setu Babakan sebagai Pusat Kembang Goyang dilakukan melalui pendekatan partisipatif bersama masyarakat dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Diskusi dan pendampingan menjadi ruang untuk menyepakati identitas kawasan yang dapat mewakili aktivitas kuliner yang sudah lama berlangsung.

Salah satu bentuk branding yang dilakukan adalah menghadirkan identitas visual kawasan, seperti mural tematik yang menampilkan kembang goyang dan elemen budaya Betawi. Mural ini berfungsi sebagai penanda visual sekaligus media cerita, yang memberi pesan bahwa kawasan tersebut memiliki kekhasan kuliner tertentu.

Keberadaan mural secara perlahan mengubah cara Setu Babakan dikenali. Ia menjadi latar berfoto pengunjung dan konten yang dibagikan di media sosial, sehingga branding kawasan tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga menyebar secara digital.

Pusat Kembang Goyang Setu Babakan

Foto signage Neon Box Pusat Kembang Goyang Setu Babakan. (Foto: Dok. Pribadi)

Selain mural, branding Pusat Kembang Goyang juga diperkuat melalui pemasangan signage atau papan penunjuk kawasan. Signage ini diletakkan di titik strategis untuk membantu pengunjung menemukan lokasi UMKM kembang goyang yang tersebar di sekitar Setu Babakan. Keberadaan papan penunjuk tidak hanya berfungsi sebagai alat navigasi, tetapi juga sebagai penegas identitas kawasan.

Dengan mencantumkan nama dan visual Pusat Kembang Goyang, signage membantu membangun kesan bahwa kawasan ini memiliki kekhasan kuliner tertentu. Identitas tersebut menjadi penting dalam konteks branding, karena memperjelas posisi Setu Babakan sebagai sentra kembang goyang—bukan sekadar bagian dari kawasan budaya Betawi secara umum. Bersama mural dan identitas visual lainnya, signage berperan menghubungkan ruang fisik dengan cerita branding yang ingin disampaikan kepada publik.

Produk UMKM Dalam Identitas Brand Kawasan

Pusat Kembang Goyang Setu Babakan

Foto salah satu produk UMKM yang sudah diberikan label kemasan. (Foto: Dok. Pribadi)

Branding kawasan kemudian diperkuat melalui pengembangan identitas visual produk kembang goyang. Sejumlah UMKM yang sebelumnya belum memiliki logo dan kemasan kini mulai menggunakan desain yang konsisten dan mengangkat unsur budaya Betawi.

Kemasan tidak lagi sekadar pembungkus produk, melainkan bagian dari strategi branding. Identitas visual ini menghubungkan produk dengan kawasan, sehingga kembang goyang tidak berdiri sendiri sebagai camilan, tetapi menjadi representasi dari Pusat Kembang Goyang Setu Babakan.

Memperluas Branding Lewat Ruang Digital

Pusat Kembang Goyang Setu Babakan

Akun Instagram Pusat Kembang Goyang Setu Babakan.

Selain di ruang fisik, branding Pusat Kembang Goyang juga diperluas melalui media sosial. Instagram dimanfaatkan untuk memperkenalkan kawasan, produk, dan aktivitas warganya. Konten yang dibagikan tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga proses pembuatan kembang goyang serta suasana Setu Babakan.

Pendekatan ini membantu meningkatkan visibilitas kawasan. Interaksi publik menunjukkan bahwa branding kuliner tradisional, ketika dikemas secara visual dan naratif, masih memiliki daya tarik di ruang digital.

Branding Sebagai Cara Mengenalkan Yang Sudah Ada

Branding Setu Babakan sebagai Pusat Kembang Goyang bukan berarti menghadirkan sesuatu yang baru, melainkan mengenalkan secara lebih luas apa yang sudah lama ada. Ketika kawasan, produk, dan cerita disatukan dalam satu identitas, peluang agar kuliner tradisional dikenal publik menjadi lebih besar.

Program branding kawasan dan penguatan UMKM kembang goyang ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta pada tahun 2025, dengan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kisah Setu Babakan menunjukkan bahwa pelestarian kuliner tradisional tidak selalu tentang menciptakan hal baru, tetapi tentang membangun branding yang tepat agar yang sudah ada dapat dikenal dan diingat lebih luas.

Penulis: Tim Media Servis