tirto.id - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mengerahkan 19 unit mobil golf di kawasan Mina untuk memperkuat perlindungan jemaah haji Indonesia. Armada ini disiagakan secara aktif di titik-titik krusial sekitar pintu keluar Jamarat guna mengevakuasi jemaah lansia dan mereka yang mengalami kelelahan ekstrem.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Jubir Kemenhaj) RI, Maria Assegaff, menyatakan pengerahan armada ini merupakan respons atas tingginya mobilitas dan kepadatan di area lontar jumrah, terutama bagi jemaah kategori rentan.
“Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia melalui Satgas Operasional Armuzna juga telah mengerahkan ada 19 unit mobil golf di kawasan Mina,” kata Maria dalam konferensi pers yang ditayangkan melalui akun Youtube Kementerian Haji dan Umrah RI, Jumat (29/5/2026).
Maria menjelaskan, belasan unit mobil golf tersebut difokuskan untuk menyisir titik-titik krusial di sekitar jalur pergerakan jemaah. Target utamanya adalah jemaah yang sudah tidak mampu melanjutkan perjalanan karena faktor kesehatan atau kelelahan ekstrem.
“Mobil golf ini disiapkan untuk membantu jemaah haji Indonesia yang mengalami kelelahan, jemaah yang lanjut usia, serta jemaah yang terpisah dari rombongan maupun jemaah yang kehilangan arah setelah melaksanakan lontar jumrah dan tidak memiliki kondisi fisik yang baik,” ujarnya.
Adapun penyiagaan mobil golf ini terkonsentrasi di wilayah-wilayah dengan tingkat kepadatan tinggi. Menurut Maria, armada tersebut bergerak secara aktif untuk memastikan setiap jemaah yang membutuhkan bantuan dapat segera tertangani.
“Armada tersebut disiagakan secara aktif dan bergerak menyisir titik-titik strategis, khususnya berada di sekitar pintu keluar Jamarat guna memastikan setiap jemaah yang membutuhkan pertolongan dapat segera dijangkau dan mendapatkan pendampingan secara cepat,” tuturnya.
Langkah ini diambil mengingat fase Mina merupakan salah satu fase paling menantang secara fisik dalam rangkaian puncak haji. Penumpukan jemaah di jalur menuju Jamarat serta paparan cuaca panas menjadi risiko utama, terutama pada hari Tasyrik kedua ini.
Selain mobil golf, kata Maria, PPIH juga menyiagakan tim Mobile Crisis Rescue (MCR) yang tersebar di rute pergerakan jemaah. MCR berfungsi sebagai posko darurat untuk menangani jemaah yang pingsan atau tersesat.
“MCR dibentuk khusus untuk bisa menangani berbagai kondisi kedaruratan, antara lain jemaah yang mungkin pingsan, tersesat, maupun juga mengalami kelelahan ekstrem, terpisah dari rombongan, bahkan hingga evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,” tambah Maria.
Dengan demikian, untuk meminimalisir jatuhnya korban akibat heatstroke atau kelelahan, Kemenhaj kembali mengingatkan jemaah untuk mematuhi jadwal lontar. Pada 12 Zulhijah ini, terdapat waktu larangan melontar yakni pukul 11.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi. Maria menegaskan bahwa jemaah diminta untuk tetap berada di tenda pada jam-jam tersebut demi menjaga kondisi fisik.
“Kementerian Haji dan Umrah kembali menegaskan bahwa jemaah haji Indonesia dilarang melaksanakan lontar jumrah pada pukul 11 hingga pukul 14.00 (02.00) siang waktu Arab Saudi. Imbauan ini merupakan langkah perlindungan jemaah agar tidak terpapar cuaca panas ekstrem dan tidak terjebak dalam kepadatan arus jemaah di kawasan Jamarat,” tegasnya.
Secara total, sebanyak 1.356 petugas Satgas Mina telah disiagakan di 10 titik pantau strategis, mulai dari jalan 616 hingga gerbang terowongan Muaishim, guna memastikan keamanan dan kelancaran pergerakan jemaah haji Indonesia hingga rangkaian ibadah di Mina usai.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id



























