Menuju konten utama

Kelas Tirto di Unwahas Ajarkan Mahasiswa Kelola Uang & Olah Data

Kelas Tirto 2026 di Unwahas menghadirkan edukasi finansial bersama Bank Jago dan pelatihan jurnalisme berbasis data oleh Pemred Tirto.id.

Kelas Tirto di Unwahas Ajarkan Mahasiswa Kelola Uang & Olah Data
Kelas Tirto x Jagoan Kampus 2026 di Unwahas pada Rabu (20/05/2026). FOTO/tirto.id/

tirto.id - Mengatur uang sering dianggap urusan orang yang sudah bekerja. Padahal, kebiasaan finansial justru mesti dibentuk sejak dini, Kesadaran itulah yang coba dibangun lewat Kelas Tirto 2026 bertajuk “Shaping Your Critical Thinking” yang diselenggarakan di FISIP Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Rabu (20/5/2026). Dalam kegiatan hasil kolaborasi Tirto.id dan Bank Jago tersebut, mahasiswa diajak memahami pentingnya literasi finansial sekaligus belajar jurnalisme data.

Sesi talk show edukasi finansial menghadirkan Sustainability Specialist Bank Jago, Andhina Aryani CFP. Di hadapan ratusan mahasiswa, Andhina menyoroti pentingnya mahasiswa mulai memikirkan kesehatan finansial sejak dini, bukan baru setelah lulus kuliah.

Menurut dia, banyak mahasiswa punya rencana besar setelah lulus, mulai dari melanjutkan studi, membangun bisnis, hingga bekerja di kota besar. Namun, semua pilihan itu tetap membutuhkan kesiapan finansial.

"Semua pilihan itu ada implikasinya. Mau kerja, lanjut kuliah, bisnis, bahkan gap year pun tetap butuh perencanaan uang," ungkap Andhina pada Rabu.

Ia mencontohkan mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri perlu mempersiapkan biaya tes bahasa, paspor, hingga biaya pendaftaran kampus. Sementara mahasiswa yang ingin langsung bekerja juga harus menghitung kebutuhan transportasi, tempat tinggal, hingga perangkat kerja yang memadai.

Karena itu, Andhina menilai mahasiswa perlu mulai membangun financial security atau keamanan keuangan terlebih dahulu sebelum berbicara soal financial freedom.Ia menyarankan mahasiswa mulai memisahkan kebutuhan dan keinginan, serta membangun dana darurat minimal tiga kali biaya hidup bulanan.

Dalam pemaparannya, Andhina juga menyoroti kebiasaan mahasiswa yang kerap menghabiskan uang untuk gaya hidup tanpa perencanaan jelas. Menurut dia, hidup hemat bukan berarti tidak bisa menikmati masa kuliah, melainkan belajar menentukan prioritas pengeluaran.

Khusus mahasiswa penerima KIP Kuliah yang mendapatkan dana sekaligus dalam jumlah besar, Andhina mengingatkan pentingnya membagi uang tersebut agar tidak habis di awal semester.

“Kalau enam bulan langsung dihabiskan, ya enam bulan berikutnya menderita,” katanya.

Selain soal uang, Andhina juga menekankan pentingnya investasi dalam bentuk pengembangan kemampuan diri dan jejaring sosial. Pengalaman organisasi, komunitas, relawan, hingga membangun portofolio digital dinilai dapat membuka peluang kerja di masa depan.

Belajar Bertutur Pakai Data

Selain edukasi finansial, kegiatan Kelas Tirto kali ini juga menghadirkan workshop jurnalisme data yang dipaparkan langsung oleh Pemimpin Redaksi Tirto.id, Rachmadin Ismail.

Ia menjelaskan cerita dapat dipakai untuk meyakinkan orang, membangun opini, hingga mendorong tindakan tertentu. Namun, di tengah derasnya arus informasi digital, menurut dia, cerita yang kuat perlu ditopang oleh data.

“Nah, bagaimana membuat cerita tapi basisnya data. Hari ini kita akan belajar cerita pakai data,” ujar Rachmadin alias Madin.

Madin menilai penggunaan data membuat sebuah opini menjadi lebih aman sekaligus lebih kuat dipertanggungjawabkan. Di era media sosial saat ini, kata dia, opini tanpa data mudah dipatahkan dan berpotensi memicu persoalan baru.

“Kalau teman-teman asal ngomong tanpa data bisa diciduk besoknya atau tiba-tiba digerebek. Jadi, kenapa harus pakai data? Karena data relatif aman,” katanya.

Menurut dia, data juga dapat membantu membongkar asumsi yang keliru dan membuat sebuah argumen menjadi lebih objektif.

“Kalau di sini ada yang masih pakai asumsi, pakai suuzan, pakai perasaan dalam menilai sesuatu tanpa ditunjang data, itu akan gampang dipatahkan,” ujarnya.

Dalam sesi tersebut, Madin mencontohkan bagaimana kreator konten kini mulai menggunakan pendekatan berbasis data untuk menjelaskan isu ekonomi, politik, hingga kebijakan publik dengan cara yang lebih mudah dipahami audiens muda.

Ia menilai kemampuan membaca dan mengolah data tidak hanya penting bagi calon jurnalis, tetapi juga mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.

Madin juga sempat mengajak mahasiswa Unwahas mempraktikkan langsung cara membangun cerita berbasis data. Dalam sesi interaktif itu, mahasiswa diminta melanjutkan sebuah cerita secara bergantian, lalu menambahkan data untuk memperkuat argumen yang dibangun.

Cerita dimulai dari kasus fiktif seorang siswa bernama Budi yang mengalami keracunan usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari satu kasus tersebut, mahasiswa kemudian diminta mengembangkan narasi hingga mengaitkannya dengan data nasional tentang kasus keracunan MBG dan sistem pengawasannya.

Menurut Madin, metode itu digunakan untuk melatih mahasiswa memahami cara kerja storytelling berbasis data, yakni memulai dari satu kasus kecil lalu menariknya menjadi isu yang lebih luas dengan dukungan data dan fakta.

“Biasanya berangkat dari satu kasus lalu ditarik jadi umum pakai data, digeneralisir, baru dicari solusi-solusinya,” kata Madin.

Kemampuan membaca data sekaligus menyusunnya menjadi cerita yang mudah dipahami akan menjadi keterampilan penting bagi mahasiswa di era digital.

Kegiatan di Unwahas ini merupakan hari kedua rangkaian Kelas Tirto 2026 di Semarang. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar di FISIP Universitas Negeri Semarang (Unnes), Selasa (19/5/2026). Rangkaian acara selanjutnya akan berlangsung di FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Kamis (21/5/2026).

Baca juga artikel terkait KELAS TIRTO atau tulisan lainnya dari Baihaqi Annizar

tirto.id - Sosial Budaya
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Dwi Ayuningtyas