tirto.id - Pegawai Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) mengaku disuruh pergi ke luar kota untuk menghindari pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Saat itu, penyidik KPK sedang mengusut dugaan korupsi di Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang.
"Saya diperintah pergi ke Malang (Jawa Timur)," ujar pejabat Bapenda, Agung Wido saat bersaksi di sidang korupsi mantan Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu alias Mbak Ita, Rabu (2/7/2025).
Agung sempat berdalih kepergiannya untuk melakukan studi banding dengan Pemkot Malang membahas strategi meredam gejolak adanya kenaikan pajak.
Namun, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Semarang mempertanyakan mengapa studi banding dilakukan mendadak dan tanpa perencanaan matang sebagaimana mestinya.
Agung pun tak bisa berkilah. Kepala Subbidang Penetapan Pajak Daerah Bapenda itu mengaku tujuan pergi bukan untuk studi banding, melainkan untuk menghindari pemeriksaan KPK.
"Iya, bukan untuk studi banding. Karena ada panggilan KPK," jawabnya. Agung mengatakan hanya menjalankan perintah pimpinan. Yang pergi ke luar kota juga tak hanya dia.
Meski begitu, di tengah perjalanan menuju Malang, Agung diperintah Indriyasari, Kepala Bapenda Kota Semarang, untuk putar balik.
Kesaksian Agung selaras dengan pernyataan Indriyasari. Dalam sidang Senin (30/6/2205), perempuan yang akrab disapa Iin mengaku menyuruh bawahannya untuk pergi ke luar kota.
Upaya menghindari pemerikasan KPK merupakan inisiatif Mbak Ita. "Waktu itu disampaikan supaya tidak usah menghadiri KPK," ujarnya. Lantas, Iin menurut saja, bertolak menuju Surabaya.
Dalam perjalanan, Iin memberitahu KPK tidak bisa menghadiri pemeriksaan karena ada tugas ke Surabaya. Namun, Iin panik ketika KPK membalas bahwa pemeriksaan akan diagendakan ulang pekan depan.
"Karena takut, saya kembali lagi ke Semarang," ujarnya. Iin juga menghubungi bawahannya yang hendak pergi ke luar kota, untuk putar balik.
Setelah berkomunikasi dengan Mbak Ita, Iin dan pegawai Bapenda yang mendapat surat panggilan, dipersilakan memenuhi undangan pemeriksaan KPK di Kota Semarang keesokan harinya.
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































