Menuju konten utama

Kapan Malam Satu Suro 2023 & Apa Artinya?

Malam Satu Suro dilaksanakan pada Selasa, 18 Juli 2023. Berikut artinya. 

Kapan Malam Satu Suro 2023 & Apa Artinya?
Warga berdoa bersama saat tradisi malam Satu "Suro" di Sendang Sidukun desa Traji, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (29/7/2022). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.

tirto.id - Malam Satu Suro adalah istilah yang digunakan masyarakat Jawa untuk merujuk pada malam 1 Muharram, Tahun Baru Islam. Jatuhnya malam satu suro bertepatan pada malam hari menjelang tanggal satu Muharram. Lalu, kapan Malam Satu Suro 2023 digelar?

Tahun ini, Satu Muharram jatuh pada Rabu, 19 Juli 2023. Maka, Satu Suro akan diperingati pada Selasa malam, tepatnya pada Selasa, 18 Juli 2023.

Malam satu suro adalah salah satu hari yang dinanti oleh masyarakat Jawa, pada malam satu suro masyarakat Jawa akan melaksanakan sejumlah ritual dan tradisi.

Misalnya di Solo, Malam Satu Suro diperingati dengan kirab atau iring-iringan, yang menjadi daya tarik tersendiri adalah kirab tersebut diikuti oleh kebo bule milik keraton Surakarta yang dianggap keramat oleh masyarakat Solo.

Kemudian, kirab atau iring-iringan Satu Suro juga dilakukan di Yogyakarta. Kirab diikuti oleh abdi dalem keraton. Biasanya ada tumpeng, dan benda pusaka.

Di Yogyakarta juga ada tradisi Tapa Bisu saat Satu Suro. Seseorang yang melakukan Tapa Bisu akan mengelilingi keraton Yogyakarta dengan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tapa Bisu diyakini sebagai wujud perenungan diri dan usaha mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Apa Arti Malam Satu Suro?

Solikhin dalam buku berjudul Misteri Bulan Suro perspektif Islam Jawa menjelaskan bahwa suro merupakan sebutan bulan Muharram dalam masyarakat Jawa. Kata tersebut berasal dari Bahasa Arab Asyura, yang berarti sepuluh, yakni hari ke-10 bulan Muharram.

Yayu Wulandari dalam studinya berjudul Pesan Moral Tradisi Budaya Malam Satu Suro pada Etnis Suku Jawa di Desa Wonorejo Kecamatan Mangkutana memaparkan bahwa peringatan Malam Satu Suro dimulai dari terbenamnya matahari pada terakhir bulan terakhir kalender Jawa (29/30 bulan besar) sampai terbitnya sang matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya.

Masyarakat Jawa merayakan Malam Satu Suro dengan melakukan suatu upacara kegiatan seperti berkumpul di dalam masjid untuk melakukan prosesi tradisi Suro atau biasa disebut dengan Satu Muharram.

Masyarakat Jawa menyebut Malam Satu Suro dengan istilah suroan, artinya melakukan kegiatan pada bulan Suro. Satu Suro dianggap hari yang sakral sehingga masih dipertahankan sampai saat ini. Masyarakat Jawa percaya bahwa tradisi perayaan Malam Satu Suro dapat membawa berkah bagi masyarakat.

Irvan Prasetiawan dalam studinya bertajuk Persepsi Masyarakat Terhadap Budaya Malam Satu Suro di Desa Margolembo Kecamatan Mangkutana Kabupaten Luwu Timur menjelaskan, masyarakat Jawa percaya bahwa apabila tradisi Malam Satu Suro tidak dilaksanakan sebagaimana tradisi tahunannya, maka akan ada bencana yang menimpa masyarakat.

Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan lainnya dari Balqis Fallahnda

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Alexander Haryanto