tirto.id - Jemaah haji Indonesia saat di Makkah diimbau selalu minum air putih tanpa menunggu haus terlebih dahulu agar tidak dehidrasi. Hal ini penting mengingat cuaca di Tanah Suci cukup panas mencapai 36 derajat celcius.
Kepala Seksi Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKPPJH), Lansia dan Disabilitas, Daker Makkah PPIH Arab Saudi, Mayor CKM. dr. Ridwan Siswanto, mengatakan, kebiasaan jemaah Indonesia tidak mau sering-sering minum air putih karena khawatir sering ke kamar mandi. Padahal, bila jarang minum air putih, maka potensi mengalami dehidrasi cukup besar.
"Jemaah menurut saya itu pada ketakutan atau pada tidak mau wudhunya batal. Karena repot ya, apalagi kalau sudah di dalam Masjidil Haram, sudah di saf depan, keliling, tiba-tiba kebelet, kan repot," kata Ridwan saat ditemui Tim MCH di Kantor Daker Makkah, Selasa (28/4/2026).
Oleh karena itu, kata Ridwan, banyak jemaah haji Indonesia yang menahan minum air. Namun demikian, Ridwan tetap mengimbau agar jemaah tetap harus sering-sering minum air putih agar terhindar dehidrasi.
"Sering minum itu kan berkala, mungkin setiap 5 menit minum 2 teguk, 5 menit minum 2 teguk, gitu," kata Ridwan memberkati saran.
Hal tersebut penting diingatkan, kata Ridwan, agar kecukupan cairan dalam tubuhnya itu terjaga demi mencegah dehidrasi. Padahal kalau jemaah sampai dehidrasi, itu dampaknya cukup banyak, misalnya cepat letih dan kurang fokus. Akibatnya, jemaah juga tidak bisa beribadah dengan khusyuk.
"Kemudian bisa yang terparahnya sampai heat stroke. Karena apa? Udah kita kurang minum, cuaca panas, kelelahan. Nah, itu semua faktor risiko," kata Ridwan.
Apalagi ditambah yang kurang tidur, kata Ridwan. Semua ini, kata dia, adalah faktor risiko dari heat stroke. Biasanya jemaah haji Indonesia begitu sampai di Makkah atau Madinah, langsung tancap gas beribadah sehingga kurang tidur.
"Fokusnya itu langsung ibadah. Kapan lagi? Saya mungkin sekali seumur hidup sampai ke Tanah Suci. Jadi fokusnya ibadah terus, digeber," kata Ridwan.
Menurut Ridwan, tidak ada yang keliru dengan semangat jemaah haji untuk memperbanyak ibadah. Nanun demikian, menjaga kesehatan tetap harus tetap menjadi prioritas, apalagi sebelum puncak haji saat Armuzna nanti.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id

































