Menuju konten utama

Tukang Bangunan Naik Haji, Buah Ketekunan Menabung 14 Tahun

Imam Syafi’i konsisten menabung koin Rp1.000 demi mimpi naik haji. Jadi inspirasi keluarga dan warga desanya.

Tukang Bangunan Naik Haji, Buah Ketekunan Menabung 14 Tahun
Imam Syafi'i didampingi Istrinya Nur Aini saat diwawancara. (FOTO/Dok. Jember Yang Itu)

tirto.id - Di Dusun Krajan Kulon, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, sinar matahari sore menyelinap di antara celah-celah bangunan rumah yang sederhana. Itulah rumah Imam Syafi'i (58) yang sehari hari mencari nafkah sebagai tukang bangunan. Profesi yang dijalaninya dengan tekun selama bertahun-tahun itu termanifestasi pada bangun tubuhnya yang kukuh.

Ketekunan yang sama itu pulalah yang mengantarkannya berhaji ke Tanah Suci tahun ini. Sembari bekerja, Imam dengan telaten mengumpulkan uang koin Rp1.000 untuk mengongkosi berhaji.

Sore itu, suasana di ruang tamu rumah Imam terasa hangat. Aroma kopi hitam mengepul, sementara di sudut ruangan, beberapa toples plastik bening bekas wadah kerupuk berdiri tegak. Toples itu adalah bekas wadah ribuan keping koin seribuan yang dikumpulkan Imam.

Menjadi kepala keluarga dengan profesi sebagai buruh bangunan di desa tentu bukan perkara mudah. Dengan kondisi ekonomi yang sering kali pas-pasan, Imam harus memutar otak agar dapur tetap mengepul dan anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga tuntas. Namun, di atas segala kesulitan itu, Imam tetap memacak satu cita-cita besar: menunaikan Ibadah Haji, rukun Islam kelima yang menjadi impian setiap muslim.

Diiringi modal nekat dan keyakinan kuat, Imam menghabiskan 14 tahun untuk menabung demi bisa melunasi total biaya ibadah haji yang mencapai Rp58 juta—nominal yang bagi seorang tukang bangunan tampak seperti gunung tinggi yang sulit didaki.

Saat ditemui di kediamannya, Imam berkali-kali mengucap syukur kepada Allah SWT. Dia pun tak menyangka usaha "nekatnya" untuk menunaikan ibadah membuatnya menjadi sorotan media dan sumber inspirasi bagi banyak orang. Pria lulusan SLTP (SMP) ini menunjukkan bahwa derajat seseorang tidak diukur dari gelar atau jabatan, melainkan dari kesungguhan niat.

"Awal saya muncul ide menabung uang koin Rp1.000 itu sebenarnya sederhana saja. Muncul dari pikiran, kalau saya harus punya uang puluhan juta sekaligus untuk biaya haji, kok rasanya berat sekali ya? Mustahil bagi orang seperti saya. Jadi akhirnya, saya putuskan untuk menabung sedikit demi sedikit," ujar Imam sambil menyunggingkan senyum.

Matanya menerawang, seolah mengingat kembali masa-masa sulit belasan tahun silam.

Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Perjalanan panjang ini dimulai sekitar tahun 2012-2013. Kala itu, usia Imam menginjak 44 tahun—usia saat tenaganya sebagai tukang bangunan mulai menemui batas, sementara kebutuhan ekonomi keluarga justru sedang tinggi-tingginya.

Di tengah keterbatasan itu, Imam mencari cara yang sesuai dengan kondisi keuangannya. Maka dia memilih koin Rp1.000 sebagai instrumen tabungannya. Setiap hari, jika ada sisa uang kembalian atau upah kerja, dia pastikan ada koin yang masuk ke dalam wadah tabungannya.

Perjuangan mengumpulkan biaya haji tidak semulus membalik telapak tangan. Imam menceritakan bagaimana ia harus banting tulang melampaui batas desanya. Dia bahkan kerap merantau ke Pulau Madura hingga Bali sebagai tukang bangunan borongan.

"Ekonomi saya saat itu sangat sulit. Kadang, untuk merokok saja saya tidak kuat beli, sampai harus dilelesi (diberi satu batang) oleh teman kerja atau orang lain. Tapi, saya tidak patah semangat. Uang koin itu harus tetap jalan," kenangnya.

Kisah Tukang Bangunan Asal Jember Berangkat Haji

Tabungan uang koin Rp1.000 untuk melunasi total biaya Ibadah Haji ke Tanah Suci Mekkah. (FOTO/Dok. Jember Yang Itu)

Niat ibadah ini memang benar-benar diuji. Biaya pendaftaran haji yang sebesar Rp25 juta dia tutup dari hasil menjual sebidang tanah warisan seluas 2.500 meter persegi. Namun, itu baru biaya awal. Masih ada sisa pelunasan sekitar Rp33 juta yang harus dia penuhi agar namanya bisa tercatat dalam daftar keberangkatan ke Haramain.

Tanah warisan itu pun sebenarnya dijual untuk tujuan mulia lainnya: membangun rumah bagi anak pertamanya, Ratna Dewi Fatimah (34), yang saat itu hendak menikah. Imam, sebagai ayah dari dua anak, Ratna dan Muhammad Arif Hakiki (28), ingin memastikan anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik darinya.

Jadi, sisa dari hasil jual tanah itulah yang dia gunakan sebagai "tiket" pertama mendaftar haji.

Niat Imam yang ingin naik haji dengan cara menabung koin sempat membuat sang istri, Nur Aini (54), mengernyitkan dahi. Nur Aini awalnya pesimistis. Bagaimana mungkin uang recehan bisa melunasi biaya haji yang terus merangkak naik?

"Istri saya dulu agak ragu. Namanya juga orang kecil, melihat angka puluhan juta itu rasanya seperti mimpi," kata Imam.

Namun, keteguhan hati Imam lambat laun meluluhkan keraguan Nur Aini. Doa dan keikhlasan seorang istri mulai mengalir. Nur Aini akhirnya menjadi pendukung nomor satu dalam misi nekat suaminya ini. Bahkan, sang istri memberikan saran teknis yang sangat berguna.

"Alasan kenapa saya pakai koin karena lebih awet. Dulu, istri saya pernah menabung pakai uang kertas lembaran Rp2.000 sampai Rp10.000. Disimpan di bawah kasur dan di dalam laci meja. Ternyata malah hancur dimakan rayap, robek-robek, dan dibawa tikus. Kalau koin kan aman, tidak akan rusak meski disimpan lama," tutur kakek dari tiga cucu ini sambil terkekeh.

Selama 14 tahun menabung, godaan pun datang silih berganti. Tabungan koin yang diletakkan di dalam kamar itu sering kali menggoda untuk dibuka saat kebutuhan mendesak datang. Apalagi, selama belasan tahun itu, Imam dan keluarganya hanya tinggal di rumah sederhana berukuran 5,5 x 8 meter dengan dinding yang masih terbuat dari gedek (anyaman bambu).

"Melihat kondisi rumah yang saat itu masih dinding bambu, jendela pun tidak punya. Hanya ditutup jeruji kayu yang diganjal paku. Tentu ada keinginan untuk memperbaiki rumah dulu. Belum lagi keinginan untuk membelikan motor bagus buat anak. Namanya orang tua, pasti ingin nyenengne (membahagiakan) anak," jelas Imam.

Namun, setiap kali keinginan itu muncul, Imam kembali teringat pada pesan almarhum ayahnya. Ayah Imam dulu juga merupakan seorang jemaah haji yang berangkat dari hasil menabung dengan penuh kesabaran.

"Bapak saya selalu bilang, ‘Yen pengen sesuatu kudu sabar lan nabung' (Kalau ingin sesuatu harus sabar dan menabung). Pesan itu yang saya pegang teguh. Saya ingin mengikuti jejak beliau, melengkapi rukun Islam,” imbuhnya

Imam pernah sekali "terpaksa" mengambil tabungannya sekitar Rp700 ribu untuk membantu biaya pembelian motor sang anak. Namun setelah itu, dia langsung menggantinya dengan kerja lebih keras dan kembali disiplin memasukkan koin demi koin ke dalam toples.

"Uang koin itu tidak setiap hari saya nabung. Pokoknya ada uang nabung. Kadang, ada uang kertas saya tukar koin Rp1000 itu untuk ditabung. Pokoknya berusaha nabung uang recehan itu," ucapnya dengan menunjukkan wajah setengah bercanda.

Buah dari kesabaran itu akhirnya tiba. Ketika waktu keberangkatan haji mulai mendekat, Imam mulai menghitung "harta karun" yang dia kumpulkan selama 14 tahun. Hasilnya sungguh mengejutkan. Tabungan koin Rp1.000 yang terkumpul di dalam empat toples besar itu mencapai angka Rp22 juta.

Namun, proses penghitungannya ternyata menjadi babak baru yang cukup melelahkan sekaligus mengharukan. Diakuinya juga sedikit merepotkan keluarga, maupun pengurus KBIH tempatnya mendaftar.

"Uang koin itu kalau ditimbang bobotnya mencapai 107 kilogram atau lebih dari satu kwintal. Untuk menghitungnya, saya sampai dibantu oleh lima orang tetangga dan keluarga. Kami bekerja selama dua hari penuh, dikelompokkan per sepuluh ribu rupiah supaya mudah," kenang Imam.

Kekurangan biaya pelunasan kemudian dia tutupi dari tabungan lain dan pinjaman yang dia cicil. Keteguhannya terbayar lunas. Imam dijadwalkan berangkat ke Arab Saudi untuk berhaji pada pertengahan Mei 2026 ini melalui KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) As-Suniyah Kencong. Dia tergabung dalam rombongan Kloter 91.

Kisah Tukang Bangunan Asal Jember Berangkat Haji

Tabungan uang koin Rp1.000 untuk melunasi total biaya Ibadah Haji ke Tanah Suci Mekkah. (FOTO/Dok. Jember Yang Itu)

Menjadi Inspirasi

Keberangkatan Imam tidak hanya menjadi momen bahagia bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi warga Desa Paleran. Kabarnya, ada sekitar 27 orang dari desa itu yang juga berangkat bersama Imam. Banyak warga yang merasa takjub mengetahui kegigihan pria yang sehari-hari bekerja dengan semen dan pasir ini.

"Orang-orang bangga dengan apa yang saya lakukan. Pesan saya buat saudara muslim lainnya, jangan takut untuk mendaftar haji meskipun uang belum cukup. Pasti ada jalan kalau kita nekat dalam kebaikan," ucap Imam dengan nada penuh semangat.

Virus kebaikan ini pun menular ke keluarganya. Sang istri, Nur Aini, kini mulai mengikuti jejak Imam. Sejak setahun terakhir, Nur Aini juga menabung koin Rp1.000 dalam lima toples plastik bekas kue.

"Alhamdulillah, istri saya sudah daftar haji tahun 2025 lalu. Sekarang dia juga rajin menabung koin untuk pelunasan nanti. Anak-anak saya yang sudah berumah tangga pun ikut-ikutan menabung koin. Mereka terinspirasi," tambah Imam dengan rona wajah bahagia.

Kini, jelang keberangkatannya pada 13-14 Mei 2026, Imam mulai melakukan berbagai persiapan. Mulai dari mengikuti manasik haji hingga menjaga stamina fisik. Baginya, setiap tetes keringat yang dia keluarkan saat membangun rumah orang lain selama 14 tahun terakhir, kini telah menjelma menjadi doa-doa yang akan dia panjatkan di depan Ka'bah.

Angin sore berembus pelan di Desa Paleran. Imam melihat ke arah jalan setapak di depan rumahnya, membayangkan perjalanan ribuan kilometer yang sebentar lagi akan dia tempuh.

Perjuangan Imam Syafi’i bisa saja menjadi pengingat bagi kita. Di dunia yang serba instan, ia memilih jalan sunyi yang panjang. Bahwa sekecil apa pun nominal yang kita sisihkan, jika dilakukan dengan niat yang tulus dan ketekunan yang tak tergoyahkan, gunung harapan yang tinggi sekalipun akan bisa didaki.

Menabung koin mungkin tampak sepele bagi banyak orang. Namun, di tangan seorang tukang bangunan dari Jember ini, koin-koin itu telah berubah menjadi kendaraan suci menuju Baitullah. Imam berangkat bukan karena ia kaya secara materi, melainkan karena ia "kaya" akan kesabaran.

Di akhir perbincangan, Imam kembali menatap toples-toplesnya. Toples itu kini kosong, namun hatinya kini penuh. Penuh dengan rasa syukur dan harapan bahwa ibadahnya kelak akan menjadi haji yang mabrur.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Jember Yang Itu

tirto.id - News Plus
Kontributor: Jember Yang Itu
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Fadrik Aziz Firdausi