Jejaring Teroris Bangladesh: dari Rakhine hingga Indonesia

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 28 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
Ekstremis Bangladesh menyokong teror kelompok milisi ARSA di Myanmar, ISIS di Filipina dan Indonesia, hingga membangun sel teroris di Malaysia dan Singapura.
tirto.id - 2017 menjadi tahun yang berbahaya bagi warga lintas keyakinan di Myammar, terutama Negara Bagian Rakhine. Berbagai lembaga pegiat hak asasi manusia merekamnya, termasuk di antaranya Amnesty Internasional yang baru-baru ini mengungkap betapa berlumuran darahnya tangan kelompok milisi Rohingya, ARSA.

Merujuk rilis yang diterima Tirto, tahun lalu Amnesty International berhasil mengumpulkan bukti bahwa aksi kejam ARSA adalah nyata—bukan sekadar propaganda pemerintah Myanmar selaku musuh utama mereka.

Pada pagi hari tanggal 25 Agustus 2017 mereka menyerang komunitas Hindu di Desa Ah Nauk Kha Maung Seik, tempat tinggal komunitas Hindu. ARSA mengajak warga Rohingya untuk merampok warga, kemudian seluruh penduduk desa diikat, ditutup mata, dan diseret ke pinggiran desa.

Para pria dipisahkan dari perempuan dan anak-anak kecil. Beberapa jam kemudian 53 orang di antaranya dibantai dengan gaya eksekusi, dimulai dengan para pria. Delapan perempuan dan delapan anak-anak diculik gerombolan milisi ke Bangladesh, dan akhirnya diselamatkan setelah dipaksa masuk Islam.


“[Para pria] memegang pisau dan batang besi panjang. Mereka mengikat tangan kami di belakang dan menutup mata kami. Saya bertanya apa yang mereka lakukan. Salah satunya menjawab, 'Kamu dan Rakhine adalah sama, kamu punya agama yang berbeda, kamu tak boleh tinggal di sini.' Dia bicara bahasa [Rohingya],” kata Bina Bala (22), salah seorang korban selamat.

Pada hari yang sama, sebanyak 46 pria, perempuan, dan anak-anak Hindu di desa tetangga Ye Bauk Kyar menghilang. Anggota komunitas Hindu di Rakhine utara menganggap mereka juga dibunuh oleh milisi ARSA. Ditambah korban dari Ah Nauk Kha Maung Seik, jumlah korban tewas diyakini menjadi 99 jiwa.

Keesokan harinya, 26 Agustus 2017, ARSA bergerak ke dekat desa Myo Thu Gyi di pinggiran Kota Maungdaw. Mereka membunuh enam orang, juga penganut Hindu. Dua di antaranya perempuan, satu orang pria, dan tiga anak-anak, sementara beberapa lainnya luka-luka.

Serangan tersebut makin mengorbankan warga Rohingya yang tak tahu apa-apa, yang selama ini kenyang didiskriminasi. Pasukan keamanan Myanmar membalas dendam dengan cara membakar desa, membunuhi penduduknya, juga memperkosa para perempuan. Jumlah korbannya jauh lebih besar, dan mengakibatkan krisis pengungsian yang begitu parah.

Yang Ekstrem dari Bangladesh


Laporan Institute for Policy Analysis Conflict (IPAC) yang dirilis bulan Mei tahun lalu menawarkan pendekatan menarik mengapa ARSA digdaya menyiksa warga: karena mereka disokong bantuan dari kelompok ekstremis Bangladesh—negara tempat warga Rohingya berbondong-bondong mengungsi.

Foreign Affairs, Conversation, Diplomat, dan portal analisis kawasan lain telah membeberkan fenomena meningkatnya ancaman kelompok ekstremis Islam di Bangladesh sejak 2013, atau tahun ketika ISIS mulai bangkit untuk mulai mengacau di Timur Tengah.

Satu kasus yang paling diingat publik terjadi pada 1 Juli 2016, ketika lima orang militan menyerang sebuah restoran bernama Holey Artisan Bakery di Gulshan, ibukota Dhaka. Para pelaku bermodal senjata tajam, senjata api, dan bom. Mereka menyandera beberapa pengunjung, dan berakhir dengan tewasnya 22 orang, termasuk banyak warga asing.

Berkaca dari kasus-kasus lain, target mereka merentang cukup luas. Mulai dari kaum sekuler, penulis ateis, blogger dan penerbit kritis, warga asing, dan kelompok minoritas seperti penganut Hindu, Buddha, Kristiani, atau Syiah.


Dalang di balik serangan-serangan itu mengarah pada Ansarullah Bangla Team (ABT), kelompok ekstremis yang menurut polisi punya hubungan dengan Al Qaeda. Pejabat setempat juga mengaitkannya dengan jaringan ISIS.

Kasus-kasus serupa turut diinisiasi oleh individu maupun grup ekstremis yang anggotanya berjumlah lebih kecil, tapi amat militan. Mereka berani menghabisi nyawa korban, meski hanya bermodal pisau, lalu dengan bangga mengungkap motif di media sosial, atau kepada media massa, atau kepada aparat kepolisian yang menangkapnya.

Kebangkitan ISIS di tahun 2013 juta menjadi momentum bagi kelompok-kelompok ekstremis di Bangladesh untuk mengekspor teror ke negara-negara di Asia Tenggara. ARSA, misalnya, rupanya adalah kelompok pemberontak yang beroperasi tidak hanya di Myanmar, tetapi juga di sepanjang perbatasan dengan Bangladesh.


Sejarah jaringan ekstremis Asia Tenggara bermuara pada Organisasi Solidaritas Rohingya (RSO) yang pada akhir 1980-an dan 1990-an beroperasi di Bangladesh bagian tenggara (plus perbatasan Pakistan-Afghanistan). RSO pincang pada tahun 2001 setelah pemerintah di beberapa negara mulai menghabisi Jemaah Islamiyah, sekutu utama RSO.

RSO bukan lagi dalang pemberontakan di Myanmar, tetapi para pemimpin ARSA mengandalkan beberapa kelompok ekstremis Asia Selatan demi bantuan pelatihan. ARSA mencoba untuk menjauhkan diri dari terorisme internasional atau gerakan jihad global. Mereka lebih mirip gerakan etno-nasionalis, serupa Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau pemberontak di ujung selatan Thailand.

Keberadaan ARSA, menurut IPAC, dapat menginspirasi kelompok-kelompok pro-ISIS di Bangladesh, Indonesia dan Malaysia untuk merekrut para pengungsi Rohingya sebagai calon pelaku aksi teror yang nantinya akan menyasar aparat keamanan negara dan orang-orang yang dituduh kafir.

Menarget Pekerja-Mahasiswa di Malaysia & Singapura


Para pengungsi Rohingya adalah salah satu medium penyebaran teror lintas-negara oleh kelompok ekstremis Bangladesh. Mengutip IPAC, “penganiayaan terhadap Muslim di Myanmar menambah potensi radikalisasi di komunitas diaspora dan persepsi di kalangan ekstremis di Asia Tenggara bahwa para pengungsi Rohingya siap untuk direkrut”.

Jumlahnya memang besar. Pada bulan Oktober 2016 hingga Maret 2017 ada 70 ribu pengungsi Rohingya yang membanjiri Bangladesh. Mereka bergabung dengan ratusan ribu pengungsi lain, yang oleh beberapa lembaga independen diprediksi mencapai total 650-700 ribu jiwa. Ini belum termasuk mereka yang berlayar ke Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lain, plus Australia.

Jalan kedua, mereka menarget ratusan ribu tenaga kerja asing asal Bangladeh untuk ikut kelompok pengajian ekstremis. Sasarannya meliputi lebih dari 285.00 pekerja Bangladesh yang berstatus legal maupaun ilegal di Malaysia (catatan tahun 2016). Ada juga 160.000 pekerja di Singapura, plus 60.000 yang tiap tahun datang dalam masa tinggal yang relatif singkat.


Pemerintah kedua negara tidak tinggal diam. Pada 2015 kepolisian Singapura mengamankan puluhan pekerja asal Bangladeh yang ikut aktivitas pengajian berkonten Islam radikal serta terungkap punya niat untuk bergabung dengan ISIS. Beberapa di antaranya lagi-lagi terkait dengan Ansarullah Bangla Team.

Menanggapi penangkapan tersebut, pemerintah Malaysia turut mengamankan seorang warga pendatang asal Bangladesh bernama Peyar Ahmed Akash. Ia sudah lama diincar oleh Interpol sebab ikut kegiatan kelompok ekstremis, termasuk terlibat dalam penjualan senjata. Usai sempat ditahan, dideportasi pada awal September 2016.

Jalan ketiga, menargetkan beberapa ribu mahasiswa Bangladesh yang kuliah di universitas negeri maupun swasta di Malaysia (catatan tahun 2016). Mereka diajak untuk ikut kelompok pengajian ekstremis, untuk dicuci otaknya dan membangun sel tidur. Targetnya juga menyasar ratusan mahasiswa asal Indonesia, Malaysia dan Thailand yang belajar ke Bangladesh dengan memanfaatkan koneksi tablighi.


Jalan keempat, melalui organisasi dakwah. Salah satunya lewat Jamaah Tabligh, organisasi dakwah Islam yang tiap tahun menyelenggarakan Biswa Ijtema, pertemuan terbesar kedua setelah Haji di dekat Dhaka. Pesertanya berasal dari banyak negara, termasuk beberapa ratus di antaranya dari Indonesia.

Kembali ke kelompok Jamaah Tabligh asal Bangladesh, mereka juga berdakwah keliling Asia Tenggara. Meski konservatif, tetapi dakwah Jamaah Tabligh bersifat sepenuhnya damai. Fokus mereka adalah meningkatkan ketaatan anggotanya.

Sayangnya, aktivitas sebagian anggota Jamaah Tabligh kerap ditunggangi para ekstremis Bangladesh untuk melakukan perjalanan lintas negara, dan tentu untuk tujuan menjajaki aksi teror di negara tujuan, demikian catat IPAC.

IPAC juga menyoroti modus yang sama di dalam tubuh dan pergerakan Hizbut Tahrir, organisasi pro-khilafah berskala global. Meski metode dakwahnya diklaim tanpa kekerasan, IPAC menyatakan mereka mendukung penggunaan kekerasan terhadap “musuh-musuh Islam”. Apalagi beberapa anggotanya ada yang meninggalkan organisasi dan bergabung ke kelompok-kelompok ekstremis.

Infografik ARSA


Eksekusi “Jihad” di Filipina dan Indonesia


Laporan IPAC membongkar bagaimana ekstremis Bangladesh yang berniat meninggalkan ISIS Suriah memutuskan untuk mampir dulu ke Mindanao, Filipina, untuk membantu perjuangan Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Aksi ini, lagi-lagi, juga sembari mengajak imigran Rohingya maupun warga Bangladesh di Malaysia untuk ikut ke Mindanao.

Sedangkan dalam konteks Indonesia, ISIS Suriah berperan sebagai titik temu ekstremis asal Bangladesh dan Indonesia. Pejuang ISIS asal Indonesia melihat serangkaian serangan-serangan teror di Bangladesh, yang banyak di antaranya berdampak fatal, sebagai model atas apa yang mesti dilakukan para pendukungnya di Indonesia.

Visi ini terwujud dalam rangkaian teror yang mengacaukan rutan negara di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, hingga serangan bom bunuh diri di Surabaya. “Keinginan untuk meniru ekstremis Bangladesh dapat menjadi insentif tambahan bagi orang Indonesia untuk melakukan aksi kekerasan di rumah (negara) sendiri,” jelas IPAC.


Misalnya Bahrun Naim, salah satu propagandis ISIS asal Indonesia yang masih diperdebatkan kabar kematiannya, pernah memuji-muji serangan Dhaka tahun 2016. Ia terkesan iri, lalu mendorong kawan-kawannya di Indonesia melakukan hal yang sama. Propagandanya dilakukan dengan membandingkan catatan serangan yang diinisiasi milisi Bangladesh dengan yang dijajaki rekan-rekannya di Indonesia.

Komunikasi antara Bangladesh dan Asia Tenggara juga terjadi melalui praktik perkawinan, terutama antara pria Bangladesh dan janda pejuang Indonesia. Implikasinya, kolaborasi teror lanjutan dan dalam skala lebih besar bisa terwujud di masa depan.

“Perempuan Indonesia yang bergabung ke ISIS telah menikah dengan orang Afrika Utara, Perancis, Irak dan non-Indonesia lainnya di Suriah. Konon banyak perempuan Indonesia yang menikahi buruh migran Bangladesh yang mereka temui di negara-negara Teluk atau Malaysia, sehingga potensi perkawinan ISIS lintas-daerah itu nyata.”

Baca juga artikel terkait TERORISME atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf