tirto.id - Gencatan senjata dalam Perang Lebanon-Israel tak bisa membendung bertambahnya korban jiwa. Israel kembali melakukan serangan di Kota Arnoun, Lebanon selatan pada Senin (27/4/2026). Sedikitnya 14 orang terbunuh.
Dinukil dari BBC, Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut bahwa serangan Israel pada Senin tersebut telah menyebabkan 14 orang terbunuh, dua di antaranya anak-anak dan dua lainnya adalah perempuan. Selain itu, 37 orang mengalami luka-luka karena serangan yang sama.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut bahwa serangan artileri dan udara itu dilakukan dengan target anggota dan lokasi kelompok bersenjata Hizbullah. Ia mengklaim bahwa lokasi tersebut hendak digunakan untuk melangsungkan "serangan terhadap tentara IDF".
Dalam keterangan terpisah, juru bicara IDF menyebut bahwa serangan itu dilakukan dengan terlebih dahulu mengumumkan perintah evakuasi dengan segera. Pengumum itu, katanya, telah menyebutkan bahwa tetap berada di lokasi akan "membahayakan nyawa".
Netanyahu Perintahkan IDF Serangan ke Lebanon dengan Dalih Lawan Hizbullah
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah menginstruksikan tentara IDF untuk menyerang "secara agresif" kawasan Lebanon dengan dalih menargetkan Hizbullah. Hal ini ia ungkapkan pada Sabtu (25/4).
"Kami bertindak tegas sesuai dengan aturan yang telah kami sepakati dengan Amerika Serikat, dan kebetulan juga dengan Lebanon," katanya.
Beberapa saat setelah pernyataan Netanyahu itu, IDF melakukan serangan ke Lebanon selatan pada Sabtu. Serangan itu dilakukan di dua tempat yakni Kota Yohmor al-Shaqeef dan Safad al-Battikh.
Laporan AFP menyebut bahwa serangan Israel di Yohmor al-Shaqeef menargetkan sebuah truk dan sepeda motor di sana. Empat orang terbunuh akibat serangan itu.
Sementara itu, serangan di Kota Safad al-Battikh terjadi di distrik Bint Jbeil. Dua orang mati terbunuh sementara 17 lainnya mengalami luka-luka.
Kesepakatan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel telah disepakati secara rapuh di Amerika Serikat (AS). Alih-alih jeda konflik secara penuh, kesepakatan ini lebih tampak seperti penurunan skala sembari tetap saling membunuh antara Hizbullah dan Israel.
Dalam kesepakatan itu, Israel tetap diperbolehkan melakukan serangan terhadap Hizbullah. Netanyahu menjelaskan klausul itu sebagai hak untuk "menanggapi serangan" langsung, "mencegah ancaman langsung", dan "menetralisir ancaman yang muncul".
Sejak disepakatinya gencatan senjata antara Lebanon dan Israel di AS, pemerintahan Zionis telah menggunakan dalih mencegah serangan Hizbullah berkali-kali untuk menggempur Lebanon selatan.
Di sisi lain, Hizbullah juga terus melancarkan serangan ke tentara Zionis. IDF menyebut bahwa seorang tentara berusia 19 tahun telah terbunuh dalam serangan drone Hizbullah pekan lalu.
Baik Israel maupun Hizbullah sama-sama menuduh satu sama lain telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Sementara itu, selama berminggu-minggu setelah Perang Iran-AS pecah dan Hizbullah masuk dalam pusaran konflik, Israel terus menduduki sebagian besar Lebanon selatan hingga kini. Tentara Zionis telah melakukan penghancuran besar-besaran di sana. Desa-desa dan sejumlah kota dilaporkan digempur hingga rata dengan tanah.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































