Menuju konten utama

Isapan Jempol Sesumbar Mentan Kuatkan Rupiah dengan Hilirisasi

Penyampaian target yang bombastis dari pejabat publik berisiko menciptakan ekspektasi yang tak rasional di masyarakat.

Isapan Jempol Sesumbar Mentan Kuatkan Rupiah dengan Hilirisasi
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersiap menanam padi saat kunjungan kerja di Desa Sunggumanai, Kecamatan Pattallasang, Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat (11/10/2024). ANTARA FOTO/Hasrul Said/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menyebut bahwa nilai tukar rupiah bisa menguat hingga Rp1.000 per dolar AS apabila hilirisasi komoditas ekspor dijalankan secara segera dari sekarang.

Awalnya, Amran menjelaskan soal potensi hilirisasi sejumlah komoditas ekspor Indonesia. Komoditas pertanian yang permintaannya tergolong tinggi di pasar global di antaranya cokelat, kacang mete, kopi, dan kelapa.

Amran lantas menjabarkan potensi komoditas kelapa sebagai contoh. Dia menyebut bahwa ekspor kelapa Indonesia saat ini bernilai sekitar Rp 20 triliun. Dengan hilirisasi, nilai ekspor kelapa disebutnya bisa meroket hingga 100 kali lipat.

“Sekarang ekspor kita Rp20 triliun untuk kelapa, kali seratus itu Rp2.000 triliun. Kalau seluruh komoditas ekspor yang kita kirim ke luar negeri itu kita hilirisasi, katakanlah 20 ribu sampai 50 ribu T, dolar bisa Rp1.000 per USD ke depan. Tapi ini harus dikerjakan dari sekarang,” bebernya saat mengisi acara Rapat Koordinasi dan PengendalianTriwulan II di Gedhong Pracimosono, Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dikutip Kompas.com, Selasa (29/7/2025).

Rakor Percepatan Swasembada Pangan di Kalimantan Timur

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan arahan saat Rapat Koordinasi Percepatan Swasembada Pangan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (8/5/2025). ANTARA FOTO/Aditya Nugroho/rwa.

Seturut pemberitaan Antara, Menteri Amran juga menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyetujui anggaran sebesar Rp371 triliun demi mendukung hilirisasi komoditas nasional. Dari total itu, Amran berujar sebanyak Rp40 triliun telah siap digunakan, termasuk Rp8 triliun yang baru ia tandatangani.

Amran pun menambahkan bahwa Indonesia selama ini dirugikan karena komoditas seperti kakao diekspor dalam bentuk mentah ke luar negeri. Komoditas itu lantas diolah di negara tujuan dan dijual kembali dengan harga berlipat. Amran mencontohkan kakao sulawesi yang diekspor ke Singapura harganya bisa melejit hingga 38 kali lipat hanya melalui proses penggilingan.

Pernyataan Amran itu tentu saja mengundang skeptisisme. Memangnya sesignifikan itukah efek hilirisasi komoditas?

Sejumlah ekonom menunjukkan bahwa walaupun hilirisasi punya kontribusi positif terhadap nilai tambah dan neraca perdagangan, proyeksi penguatan rupiah hingga Rp1.000 per dolar AS tidak realistis dalam kerangka sistem ekonomi dan nilai tukar modern.

Maka pernyataan Amran terbaca sebagai retorika politis ketimbang proyeksi berbasis kebijakan teknokratik dan kajian ilmiah.

Nilai Tukar Tak Hanya Ditentukan Hilirisasi

Hilirisasi memang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sebelum diekspor. Namun, tentu tak semudah itu ia mengerek nilai tukar rupiah. Pasalnya, penguatan nilai tukar rupiah punya banyak faktor fundamental yang tak selalu dipengaruhi kondisi internal ekonomi dalam negeri.

Jika mengacu pada proyeksi Amran, kurs Rp1.000 per dolar AS berarti sama dengan penguatan sebanyak 1.500 persen dari level rupiah sekarang (Rp16.485 per dolar AS). Itu jelas pekerjaan mahaberat buat Indonesia. Pun, negara-negara industri maju, seperti Jepang sampai Jerman, bahkan tidak pernah mengalami penguatan sesignifikan itu dalam kondisi normal.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar mata uang dipengaruhi oleh faktor yang cukup banyak.

Jika dirunut, menurut Mentan, hilirisasi akan menaikkan angka ekspor. Kemudian, angka ekspor yang naik itu akan meningkatkan cadangan devisa dan permintaan rupiah bakal menguat.

“Tapi, nilai tukar rupiah tidak hanya berdasarkan ekspor-impor barang. Ada juga terkait dengan jasa. Ketika impor jasa masih cukup tinggi, ya rupiah tidak akan sekuat dolar,” ujar Huda kepada wartawan Tirto, Jumat (1/8/2025).

Nilai tukar rupiah pun tidak hanya ditentukan oleh faktor internal di Indonesia. Penggunaan dolar yang masif dalam perdagangan barang/jasa internasional juga memengaruhi penguatan nilai tukar rupiah.

Saat ini, kata Huda, lebih dari 5 persen perdagangan internasional memakai dolar AS sebagai alat tukar. Di posisi terbanyak selanjutnya adalah mata uang Euro dan Yuan Cina. Mengingat penggunaan rupiah tidak semasif ketiga mata uang tersebut, penguatan rupiah hingga 1.500 persen jelas merupakan “hil yang mustahal”.

Huda berpendapat bahwa program hilirisasi nikel saat ini memang membuat nilai tukar rupiah lebih baik. Namun, dalam beberapa periode, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa amblas hingga Rp16.900 sampai Rp17.000.Padahal, terjadi kenaikan ekspor barang turunan dari nikel.

Menurut Huda, hilirisasi nikel saja pun tidak punya pengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, dia meminta para menteri tidak terlalu sesumbar dengan angka-angka fantastis hanya karena ingin diperhatikan atau disukai Presiden Prabowo Subianto.

Para menteri Kabinet Merah Putih sebaiknya lebih mengedepankan kebijakan berbasis data yang baik dan benar. Sebab, jika sikap sesumbar dipelihara, segala angka perencanaan yang digaungkan oleh pemerintah akan sulit untuk dipercaya oleh publik.

“Jadi, Amran lebih baik bicarain bagaimana pertanian kita meningkat secara produktivitas dan efisiensi. Jangan melebar ke nilai tukar rupiah. Pernyataan Amran hanya retorika politik, hanya isapan jempol semata,” ucap Huda.

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar

Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Selasa (8/4/2025). ANTARA FOTO/Fathul Habib Sholeh/sgd/Spt.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, berpendapat bahwa target Amran menguatkan rupiah ke level Rp1.000 per dolar AS dengan hilirisasi tidak masuk akal secara ekonomi. Sesumbar itu pun sulit dicapai dalam kondisi Indonesia saat ini.

Faisal menegaskan bahwa hilirisasi komoditas, terutama sektor pertanian, memang dapat memperkuat nilai tambah ekspor nasional dan berkontribusi terhadap penguatan nilai tukar. Namun, dampaknya bersifat jangka panjang dan tidak mampu mendorong rupiah hingga menguat 15 kali lipat dari posisi saat ini.

“Kalau ekspor meningkat dan nilai tambahnya bertambah, tentu rupiah bisa menguat juga. Tapi, untuk sampai ke Rp 1.000 tidak pernah ada preseden yang seperti itu. Dan kalau dipaksakan pun, ongkosnya akan sangat besar,” jelas Faisal kepada wartawan Tirto, Jumat (1/8/2025).

Terlepas dari pernyataan Amran, Faisal menilai hilirisasi memang merupakan langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, hingga mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah. Terlebih, sektor pertanian merupakan sektor padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja jika dikelola dengan sistem industri turunan yang kuat.

Akan tetapi, Faisal mengingatkan bahwa penyampaian target yang terlalu bombastis dari pejabat publik berisiko menciptakan ekspektasi yang tidak rasional di masyarakat serta mengganggu persepsi pelaku pasar.

“Terlepas dari pernyataan yang tidak masuk akal itu, hilirisasi tetap perlu. Tapi, penyampaian kepada publik harus rasional supaya tidak menyesatkan arah kebijakan,” kata Faisal.

Harus Hitung Dampak Hilirisasi

Baru-baru ini, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa realisasi investasi hilirisasi di Kuartal II-2025 mencapai Rp144,5 triliun. Angka ini meningkat 36,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year on year/yoy) sebesar Rp105,6 triliun. Kontribusinya sebesar 30,2 persen dari total investasi di Kuartal II-2025.

Sementara itu, secara kumulatif, realisasi investasi sektor hilirisasi pada semester I-2025 telah mencapai Rp280,8 triliun atau tumbuh 54,8 persen yoy.

Jika dibedah per sektor, investasi hilirisasi terbesar berasal dari sektor mineral yang sebesar Rp96,2 triliun. Lalu, diikuti sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp36,3 triliun, minyak dan gas bumi sebesar Rp10,7 triliun, dan perikanan dan kelautan sebesar Rp1,3 triliun.

Nikel masih menjadi menyumbang terbesar realisasi investasi di sektor hilirisasi dengan kontribusi sebesar Rp46,3 triliun. Ia disusul tembaga Rp22,3 triliun, kelapa sawit Rp16,4 triliun, bauksit Rp14,8 triliun, dan kayu log Rp13,1 triliun.

Namun, Rosan justru akan membuka peluang penguatan hilirisasi di bidang pertanian dan kehutanan ke depan.

“Bicara hilirisasi, konotasinya biasanya kebanyakan mineral. Memang sekarang masih mineral tapi kita juga mendorong di bidang perkebunan, kehutanan, kelautan, dll,” ucap Rosan dalam konferensi pers Capaian Realisasi Investasi Triwulan II dan Semester I di Kantor BKPM, Selasa (29/7/2025).

Kendati begitu, Peneliti Bidang Ekonomi The Indonesian Institute (TII), Putu Rusta Adijaya, menilai secara teori makro ekonomi, nilai tukar dipengaruhi banyak hal, seperti inflasi, suku bunga, transaksi berjalan, utang publik, sampai stabilitas politik. Hilirisasi memang punya potensi meningkatkan struktur net exports menjadi trade surplus.

PRODUKSI KAKAO NASIONAL

Petani memasukkan biji kakao ke dalam karung usai dijemur di Desa Salua, Kulawi, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (11/10/2021). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/hp.

Namun, senada dengan ekonom-ekonom lain, Rusta skeptis terhadap pernyataan Amran bahwa hilirisasi bisa menguatkan rupiah ke level Rp1.000/USD.

“Menurut saya tidak realistis dan harus perlu dikaji kembali. Ketika sudah ada kajiannya, maka harus diinformasikan kembali kepada publik dengan baik agar nanti tidak menjadi spekulasi dan kebohongan, serta pembodohan publik,” terang Rusta kepada wartawan Tirto, Jumat (1/8/2025).

Lebih lanjut, Rusta menjelaskan bahwa hilirisasi sebenarnya mampu mengerek nilai tambah dari komoditas raw material. Ada potensi pengaruhnya terhadap nilai tukar nasional. Namun, pemerintah juga harus menghitung dampak-dampak tidak terlihat dari kebijakan hilirisasi tersebut, terutama setelah ditambah biaya eksternalitas negatif.

Sejauh ini, kata Rusta, belum ada kajian empiris dengan model ekonomi yang tepat untuk membuktikan pernyataan Amran. Sehingga, ucapan tersebut dinilai masih sebatas retorika politik untuk menunjukkan skenario hilirisasi yang dalam bahasa Rusta: as the only way to grow.

Hilirisasi juga perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, seperti berbicara ekosistem yang kondusif, infrastruktur, permodalan, penegakan hukum, hingga kesiapan institusi yang berfungsi baik. Kembali lagi, kata Rusta, agar tidak terjadi spekulasi dan kebohongan serta pembodohan kepada publik.

“Membangun optimisme dan kepercayaan sangatlah baik, tetapi akan lebih baik jika ada kajian pendukungnya,” ujar Rusta.

Baca juga artikel terkait HILIRISASI PANGAN atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - News Plus
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fadrik Aziz Firdausi