STOP PRESS! Jadi Saksi di Sidang E-KTP Hari Ini, Setnov Sibuk Acara HUT Golkar

Indonesia Kaji Tawaran Australia Soal Bea Masuk Nol Persen

Indonesia Kaji Tawaran Australia Soal Bea Masuk Nol Persen
(Ilustrasi) Aktivitas bongkar muat ekspor-impor di Pelabuhan New Priok, Jakarta, Rabu (16/8/2017). tirto.id/Andrey Gromico.
Sumber: antara
12 Oktober, 2017 dibaca normal 1:30 menit
Australia menawarkan kerja sama penerapan bea masuk nol persen untuk tiga komoditas masing-masing negara. Tapi, pemerintah Indonesia akan menghitung terlebih dahulu untung-rugi kerja sama itu.
tirto.id - Pemerintah Indonesia menerima tawaran dari Australia untuk kerja sama bilateral terkait dengan pemberlakuan tarif bea masuk nol persen terhadap tiga komoditas unggulan milik masing-masing negara.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan kerja sama ini bagian dari perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Australia.

“Kami akan pelajari dulu, karena ini merupakan pembahasan dari implementasi free trade agreement. Jadi, harus diperhitungkan keuntungan dan kerugiannya,” kata Airlangga Hartarto usai menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, di Jakarta, Kamis (12/11/2017) seperti dikutip Antara.

Menurut Airlangga, Australia meminta Indonesia membebaskan tarif beas masuk untuk tiga komoditas ekspor negara itu, yakni susu (skim milk dan skim milk powder), lempeng tembaga murni (copper cathode), dan baja (hot rolled coil dan cold rolled coil).

Sebagai gantinya, Australia memberi tawaran bea masuk nol persen untuk tiga komoditas ekspor Indonesia yakni tekstil, alas kaki, dan pakaian.

Airlangga mengakui tawaran tersebut sebenarnya menjanjikan peluang besar bagi industri tekstil Indonesia. "Saat ini, Tiongkok dan Vietnam sudah dikenakan nol persen. Sedangkan ekspor produk tekstil Indonesia ke Amerika dan Eropa masih kena bea masuk 5-20 persen. Dengan pembebasan bea masuk ini, industri kita akan semakin kuat," ujar dia.

Dia mengimbuhkan industri Tekstil dan Produk Tekstil nasional memiliki daya saing di level global sebab telah terintegrasi dari hulu sampai hilir. Produknya juga dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional.

“Khusus untuk industri shoes and apparel sport, kita sudah melewati Tiongkok. Bahkan, di Brazil, kita sudah menguasai pasar di sana hingga 80 persen,” kata dia.

Airlangga juga menilai kolaborasi ini dapat meningatkan daya saing dan produktivitas sektor manufaktur nasional melalui penyediaan bahan baku berkualitas. Selama ini, ekspor Indonesia kerap terhambat tarif bea masuk ke pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa.

“Ini karena Indonesia punya daya saing tinggi, sehingga mereka pasang barikade juga,” kata dia.

Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Harjanto menambahkan Indonesia belum tentu menyetujui tawaran Australia. Perhitungan komprehensif perlu dilakukan dulu.

Dia mengusulkan, Australia menggunakan skema preferensi tarif nol persen yang dapat diberikan jika ada investasi yang masuk. Dengan demikian, masih ada nilai tambah bagi Indonesia selain lebih mudah melakukan ekspor produk tekstil ke Australia.

"Bahan baku (susu, tembaga dan baja) boleh saja dari mereka, tetapi investasi harus masuk sehingga ada transfer teknologi. Dengan begitu, walaupun Indonesia masih impor bahan baku, tapi bisa ekspor produk turunannya," kata dia.

Baca juga artikel terkait BEA MASUK atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - add/add)

Keyword