tirto.id - Indonesia (RI) dan Cina akan menggelar pertemuan Comprehensive Strategic Dialogue (CSD) besok, Jumat (21/8/2026). Forum dialog tersebut akan membahas berbagai isu strategis dalam hubungan kedua negara dengan fokus utama pada kemitraan ekonomi.
Direktur Asia Timur Kemlu RI, Arifianto Sofiyanto, mengatakan, CSD RI-Cina merupakan pertemuan itu adalah perdana digelar kedua negara, termasuk menjadi CSD pertama yang dibentuk Indonesia dengan negara mitra.
Kegiatan kesepakatan pembentukan forum tersebut dicapai saat kunjungan Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, ke Beijing, Cina pada 2025, yang juga menjadi tindak lanjut kunjungan Presiden RI, Prabowo Subianto, ke Cina pada 2024.
"Merupakan pertemuan perdana CSD antara RI dan RRT, dan juga merupakan pertemuan comprehensive strategic dialogue Indonesia pertama dengan negara lain," ujar Arifianto dalam press briefing di kantor Kemlu, Jakarta, Kamis (20/2/2026).
Apa saja yang akan Dibahas Indonesia dan Cina?
Arifianto menjelaskan bahwa CSD ini merupakan suatu dialog di level strategis dengan mitra-mitra Indonesia. Meski begitu, tidak semua negara mitra berada pada level tersebut. Dia mengatakan, hanya negara-negara yang saling memandang bermitra secara komprehensif dan secara strategis yang bisa melakukannya.
Indonesia dan Cina akan membahas lima pilar kemitraan yang telah disepakati kedua negara. Kelima pilar tersebut mencakup politik, ekonomi, hubungan antarmasyarakat, maritim, serta keamanan. Meski seluruh pilar akan menjadi bagian pembahasan, kedua negara telah menyepakati adanya penekanan berbeda dalam setiap pertemuan.
“Untuk pembahasan CSD kali ini, disepakati akan menitikberatkan pada kemitraan ekonomi,” kata Arifianto.
Untuk mendukung pembahasan tersebut, sejumlah pejabat tingkat wakil menteri dari bidang ekonomi Cina disebut akan turut hadir. Kata Arifianto, Indonesia juga mengundang para wakil menteri di bidang ekonomi sebagai mitra pembahasan dalam CSD.
Di sisi lain, Kemlu mengklaim kerja sama maritim kedua negara terus mengalami peningkatan. Katanya, kerja sama tersebut antara lain dilakukan melalui hubungan antarpihak coast guard (garda pesisir), dialog antara angkatan laut kedua negara, serta kunjungan pelabuhan.
Kerja sama maritim juga mencakup sektor ekonomi, seperti perikanan, blue economy, dan penelitian serta pengembangan.
Berbeda dengan Forum 2+2
CSD RI-Cina ini akan digelar beriringan dengan pertemuan 2+2 antara Indonesia dan Cina. Arifianto menjelaskan kedua forum memiliki fokus yang berbeda. CSD merupakan dialog pada level strategis yang membahas hubungan bilateral secara komprehensif, sedangkan forum 2+2 lebih berfokus pada isu politik, pertahanan, dan keamanan.
Pelaksanaan kedua forum dilakukan secara berurutan dan menyesuaikan jadwal sekaligus membuat pertemuan lebih efisien.
"Lalu untuk yang 2+2, ini akan lebih membahas sebagaimana 2+2 lainnya, lebih kepada politik, pertahanan, dan keamanan karena memang sesuai namanya, Joint Foreign and Defense Ministerial Meeting, jadi memang fokusnya di sana." katanya.
Indonesia-Australia akan Gelar 2+2 ke-10 26 Agustus
Indonesia dan Australia juga akan menggelar pertemuan 2+2 ke-10 di Melbourne, Australia, Rabu (26/8/2026). Pertemuan tersebut akan membahas sejumlah isu strategis kedua negara, mulai dari pertahanan dan keamanan hingga ketahanan ekonomi dan rantai pasok.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, mengatakan, pertemuan 2+2 menjadi forum penting bagi Indonesia dan Australia untuk membahas peningkatan hubungan bilateral serta berbagai isu yang menjadi perhatian bersama.
"Pertemuan 2+2 ini adalah forum yang penting bagi Indonesia dan Australia untuk membahas peningkatan hubungan bilateral serta berbagai isu bilateral di antaranya pertahanan dan keamanan yang tentunya menjadi perhatian bersama," ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara dijadwalkan membahas implementasi treaty on common security, kerja sama pertahanan dan keamanan, pencegahan konflik, serta keamanan maritim.
Selain isu keamanan, Yvonne menyebut sejumlah isu lain yang menjadi perhatian bersama kedua negara juga akan masuk dalam pembahasan.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































