Menuju konten utama

INDEF: Investasi Asing Belum Efektif Genjot Ekspor Indonesia

Investasi asing di Indonesia dinilai belum efektif mengerek ekspor. Oleh karena itu, pemerintah perlu mendorong inventasi asing lebih berorientasi pada industri. 

INDEF: Investasi Asing Belum Efektif Genjot Ekspor Indonesia
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (18/12/2018). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.

tirto.id - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna menyatakan investasi asing di Indonesia selama ini belum berkualitas. Akibatnya, investasi asing di dalam negeri tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan ekspor.

"Investasi tidak berkualitas. Dari realisasi per sektor, misalnya sektor pengolahan itu turun, jasanya tinggi banget," kata Ariyo dalam dalam diskusi "Tantangan Mendorong Pertumbuhan dan Menarik Investasi di Tahun Politik" di Gedung Nafaro, Pejaten Timur, Jakarta Selatan pada Kamis (7/2/2019).

Dia berpendapat pemerintah harus mendorong investasi asing menyokong sektor industri dan tidak hanya berfokus pada besaran nilainya saja.

"Investasi di Indonesia itu kebanyakan market-seeking [cari pasar] atau resource-seeking [cari bahan mentah]," kata Ariyo.

Menurut dia, mayoritas investor asing masih menganggap Indonesia hanya potensial menjadi pasar konsumsi saja. Buktinya, kata dia, saat ini lebih banyak investor yang membangun toko-toko dan memasarkan produk impor.

"Problemnya itu jadi tidak ekspor oriented tapi malah impor," ujar Ariyo.

Meskipun belum efektif mendorong kinerja ekspor, Ariyo menilai ada perkembangan positif karena sebagian investor mulai tertarik menanamkan modal di luar Pulau Jawa.

"Distribusi [investasi] mulai tidak terpusat di Jawa. Dulu, [tahun] 2010, 70 persen di Jawa tapi pada 2018 [investasi] sudah 58 persen meningkat di Sumatera," kata dia.

Berdasar data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi di Jawa pada 2018 mencapai Rp405,4 triliun meningkat 4 persen dari catatan tahun sebelumnya (Rp389,9 triliun).

Sedangkan realisasi investasi di luar Jawa pada 2018 sebesar Rp315,9 triliun atau meningkat 4,3 persen dari tahun sebelumnya yaitu Rp302,9 triliun.

Namun, investasi pada 2018 tidak memenuhi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN), yakni seharusnya Rp765 triliun dan hanya terealisasi Rp721,3 triliun atau 94,3 persen.

Angka itu hanya tumbuh 4,1 persen dibanding capaian pada 2017. Realisasi investasi Penanaman

Modal Dalam Negeri (PMDN) pada 2018 mencapai Rp328,6 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) Rp392,7 triliun.

Berdasar sektor usaha, lima besar realisasi investasi pada 2018 adalah listrik, gas dan air dengan total Rp117,5 triliun, transportasi gudang dan telekomunikasi Rp94,9 triliun, pertambangan Rp73,8 triliun, industri makanan Rp68,8 triliun, serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp56,8 triliun.

Baca juga artikel terkait INVESTASI ASING atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Addi M Idhom