Menuju konten utama

IHSG Ambrol 7,34% usai Pembekuan Rebalancing MSCI

Tekanan jual terpantau meluas hampir ke seluruh saham, di mana hanya 30 saham yang menguat, sementara 764 saham melemah, dan 10 saham stagnan.

IHSG Ambrol 7,34% usai Pembekuan Rebalancing MSCI
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/9/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada senin pagi dibuka melemah 210,39 poin atau 2,69 persen ke posisi 7.620,10. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/wpa.

tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol pada perdagangan sesi pertama hari ini, Rabu (28/1/2026) setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan penyesuaian (rebalancing) indeks saham Indonesia.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG ditutup melemah 659,01 poin atau 7,34 persen ke level 8.321,218 pada akhir sesi I. Sejak pembukaan, tekanan jual langsung mendominasi pasar.

IHSG dibuka di level 8.393,514, sempat menyentuh level tertinggi 8.596,172, sebelum terus tertekan hingga mencapai level terendah 8.269,144.

Hingga pertengahan hari ini, aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi. Total volume transaksi mencapai 42,82 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp30,05 triliun, yang terjadi dalam 2,77 juta kali transaksi.

Tekanan jual terpantau meluas hampir ke seluruh saham, di mana dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, hanya 30 saham yang menguat, sementara 764 saham melemah, dan 10 saham stagnan.

Pergerakan tersebut membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut menyusut menjadi Rp15.087,85 triliun seiring koreksi tajam indeks.

Sebagai informasi koreksi terjadi setelah MSCI secara resmi mengumumkan pembekuan seluruh penyesuaian indeks saham Indonesia, termasuk kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham beredar (Number of Shares/NOS).

MSCI juga tidak akan menambahkan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan tidak akan memindahkan saham dari segmen small cap ke standard.

Dalam keterangannya, MSCI mengatakan bahwa langkah ini berdampak pada tinjauan indeks reguler, termasuk yang dijadwalkan pada Februari 2026.

"Perlakuan ini dimaksudkan untuk mengurangi perputaran indeks dan risiko keinvestasian sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk memberikan peningkatan transparansi yang berarti," demikian bunyi pengumuman resmi MSCI dalam laman resminya, Rabu (28/1/2026).

Keputusan ini merupakan hasil konsultasi MSCI yang menemukan kekhawatiran dari investor global. Dalam pernyataannya, MSCI menyebutkan bahwa meski ada peningkatan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), masalah fundamental belum terpecahkan.

"Investor menekankan bahwa masalah mendasar dalam keinvestasian tetap ada karena terus berlangsungnya ketidaktransparanan dalam struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran mengenai kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang melemahkan pembentukan harga yang wajar," tulis MSCI.

Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana