tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di level 8.967,73 pada perdagangan pada Senin (26/1/2026). Pada menit-menit awal, indeks bergerak naik tajam dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 8.989,5, mendekati area psikologis 8.990–9.000.
Berdasarkan data RTI Business, hingga pukul 09.05, IHSG berada di posisi 8.988,3, naik 37,29 poin atau 0,42 persen dari perdagangan sebelumnya.
Jika dirinci, 330 saham tercatat mengalami penguatan, dengan 192 saham turun ke zona merah dan 175 saham tidak bergerak atau stagnan. Aktivitas perdagangan tergolong aktif, dengan volume transaksi 3,05 miliar saham, nilai transaksi Rp2,31 triliun, dan frekuensi 280 ribu kali transaksi.
Sementara itu, pada perdagangan hari ini kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mencapai Rp16.356,07 triliun.
Menurut hasil riset PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), sepekan ke depan IHSG diperkirakan akan bergerak konsolidatif dalam range support 8950 dan resistance 9080. Hal ini berbeda dari pergerakan indeks sepanjang periode 19-23 Januari 2026 IHSG yang tercatat mengalami koreksi sebesar 1,37 persen dan ditutup di level 8.951,01 pada akhir perdagangan Jumat, 23 Januari 2026 karena kombinasi pengaruh sentimen global dan domestik.
"IHSG bergerak konsolidatif dalam range support 8950 dan resistance 9080, meskipun aturan baru terkait perhitungan free float belum resmi diberlakukan. Pasar cenderung bergerak lebih dahulu dengan mengantisipasi skenario terburuk, sehingga pelaku pasar mulai melakukan penyesuaian posisi," kata Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, dalam riset resminya, dikutip Senin.
Dampaknya, saham-saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan valuasi premium berbasis narasi indeks mulai mengalami normalisasi harga seiring penyesuaian ekspektasi investor.
"Dalam kondisi tersebut investor dan trader dapat mencermati peluang pada saham-saham defensif maupun saham yang masih berada dalam tren naik (uptrend), khususnya yang didukung oleh volume transaksi yang solid serta aliran dana asing. Meski demikian, manajemen risiko tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan di tengah potensi volatilitas pasar," tandas Hari.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id






































