Hukum Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal, Apakah Boleh?

Oleh: Syamsul Dwi Maarif - 19 Juli 2021
Dibaca Normal 2 menit
Apakah dibolehkan qurban atas nama orang yang sudah meninggal dunia? Mengenai hal ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.
tirto.id - Hukum ibadah kurban adalah sunah muakkad (sangat diajurkan), menurut Imam Malik dan Imam syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum kurban dapat menjadi wajib bagi orang-orang yang mampu dan tidak dalam keadaan bepergian.

Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa ibadah kurban bersifat wajib bagi beliau, tetapi sunah bagi umatnya. Dikutip dari laman NU Online, dalam sebuah hadis riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda: “Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk berkurban, dan hal itu merupakan sunnah bagi kalian.”


Sebagian ulama menafsirkan hukum sunah pada hadis tersebut bermakna kifayah, yaitu apabila dalam sebuah keluarga ada salah satu yang melakukan ibadah kurban maka gugurlah kesunahan bagi anggota keluarga lainnya.


Lantas, bagaimana hukumnya jika melakukan ibadah kurban atas nama anggota keluarga ataupun orang lain yang sudah meninggal?

Para ulama berbeda pendapat soal hukum kurban untuk orang yang sudah meninggal. Sebagian ulama mengatakan hukumnya tidak sah, apabila tidak terdapat nazar maupun wasiat dari orang yang sudah meninggal. Namun, sebagian ulama yang lainnya mengatakan hukumnya sah.

Dikutip dari laman resmi NU CARE-Lazisnu, mayoritas ulama madzab syafi’i menjelaskan bahwa berkurban merupakan ibadah yang tidak dapat dikerjakan orang lain tanpa adanya dalil yang mendasarinya. Hal tersebut bermakna jika hukum berkurban bagi orang yang meninggal tidaklah sah.

Selain itu, ibadah kurban berbeda dengan sedekah. Ibadah kurban harus dilandasi dengan adanya izin dari orang yang terkait. Maka, pihak yang berkurban harus memberikan wasiat atau pesan untuk melaksanakan ibadah tersebut. Hal tersebut, bermakna bahwa ibadah kurban tanpa adanya wasiat dari orang yang sudah meninggal tidaklah sah.

Di sisi lain, mengutip laman Pondok Pesantren Lirboyo, Imam ar-Rafi’i dalam kitab Hasyiah al-Qulyubi ‘ala Mahalli berpendapat bahwa kurban untuk orang yang sudah meninggal hukumnya sah walaupun tanpa adanya wasiat dari yang bersangkutan. Dalil Imam ar-Rafi’i adalah bahwa pada dasarnya, ibadah kurban merupakan bagian dari sedekah.

Imam An Nawawi juga menegaskan, bahwa kurban yang diniatkan sebagai sedekah untuk orang yang sudah meninggal hukumnya sah, bermanfaat baginya, serta pahala mengalir kepadanya di alam kubur.


Bahkan, Sayidina Ali RA pernah berkurban untuk Rasulullah SAW yang sudah wafat berupa 2 (dua) ekor kambing kibasy. Kemudian, Sayidina Ali berkata, “Bahwa Nabi Muhammad SAW menyuruhnya melakukan yang demikian”. Hadis ini diriwayatkan beberapa ahli hadis seperti Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dan Baihaqi.

Dari beberapa pendapat para ulama dan hadis di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan. Pendapat pertama mengatakan bahwa ibadah kurban untuk orang meninggal tidak diperbolehkan apabila tidak ada nazar atau pesan. Namun, jika orang yang sudah meninggal memberikan pesan untuk melakukan kurban maka hukumnya menjadi sah.

Pendapat kedua mengatakan, bahwa kurban untuk orang yang meninggal hukumnya sah. Hal itu didasarkan pada pendapat bahwa ibadah kurban sama dengan ibadah sedekah. Maka itu, orang yang sudah meninggal tetap bisa mendapatkan manfaat dan pahala dari ibadah kurban tersebut.


Ketentuan Penyembelihan Kurban saat Pandemi 2021

Hari Raya Idul Adha tahun 1442 H jatuh pada Selasa, 20 Juli 2021, atau kembali berlangsung saat pandemi Covid-19 masih melanda Indonesia dan banyak negara lain di dunia.

Maka itu, untuk mencegah penyebaran COVID-19, Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 tahun 2021 tentang pelaksanaan Salat Idul Adha dan Pemotongan Hewan Kurban 1442 H/2021 M.

Beberapa ketentuan yang termuat dalam Surat Edaran Kemenag Nomor 15 tahun 2021 tentang pelaksanaan kurban sebagai berikut:

  • Penyembelihan dilaksanakan selama tiga hari yaitu pada 11, 12, dan 13 Zulhijah untuk menghindari kerumunan
  • Pemotongan hewan sebaiknya dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan Ruminasia. Pemotongan dapat dilakukan diluar Rumah Pemotongan Hewan Ruminasia dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.
  • Pelaksanaan proses penyembelihan sampai pendistribusian daging korban menerapkan protokol kesehatan secara ketat
  • Pemotongan hanya disaksikan oleh panitia dan orang yang berkurban
  • Pendistribusian daging dilakukan oleh panitia kurban dengan meminimalisir kontak langsung dengan warga.

Baca juga artikel terkait IDUL ADHA atau tulisan menarik lainnya Syamsul Dwi Maarif
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Addi M Idhom
DarkLight