Menuju konten utama

Hoaks, Video Erupsi Gunung Anak Krakatau

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memastikan bahwa video tersebut bukanlah aktivitas terkini dari gunung api di Selat Sunda tersebut.

Hoaks, Video Erupsi Gunung Anak Krakatau
Periksa Fakta Erupsi Gunung Anak Krakatau. foto/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebuah video beredar di media sosial Facebook mengklaim cuplikan yang ditampilkan adalah detik-detik erupsi Gunung Anak Krakatau yang terlihat dari sebuah kapal.

Video tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “M Romli” (arsip) pada Sabtu (4/7/2026). Dalam cuplikan video berdurasi 12 detik tersebut terlihat erupsi dengan semburan api besar dan abu dari sebuah gunung yang dekat dengan perairan.

Detik” anak gunung Krakatau Erupsi.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.

Sampai artikel ini ditulis pada Senin (6/7/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 77 likes, 20 komentar, dan 2 kali dibagikan ulang. Kolom komentar terbagi dua, sebagian warganet mempercayai informasi tersebut dan sebagian lainnya mempertanyakan kebenarannya.

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Natures Wonders,” dan “Kotabumi Lampung Utara.” Salah satu video dalam unggahan terlihat menggabungkan klip dengan video lainnya terkait letusan gunung di Indonesia.

Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali terjadi pada hari ini. Dentuman dan semburan abu vulkanik terlihat.” Begitu ditulis dalam keterangan video.

Lantas, benarkah video tersebut merupakan erupsi Gunung Anak Krakatau?

Periksa Fakta Erupsi Gunung Anak Krakatau

Periksa Fakta Erupsi Gunung Anak Krakatau. foto/hotline periksa fakta

Penelusuran Fakta

Badan Geologi telah resmi menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak Kamis, 2 Juli 2026. Kenaikan status dilakukan setelah terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu teramati 200 meter di atas puncak (+357 meter di atas permukaan laut).

Dalam pemberitaan Tirto, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa video viral yang menarasikan dugaan erupsi Gunung Anak Krakatau dari atas kapal adalah informasi palsu atau hoaks.

Rekaman berdurasi kurang dari satu menit itu memperlihatkan dua orang di atas kapal sedang merekam letusan gunung berapi yang disertai kilatan cahaya.

Setelah dilakukan verifikasi teknis, Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memastikan bahwa video tersebut bukanlah aktivitas terkini dari gunung api di Selat Sunda tersebut.

“Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi. Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia,” begitu kata Lana dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (5/7/2026) dikutip dari Antara.

Berdasarkan data riil di lapangan, Gunung Anak Krakatau sebenarnya hanya mengalami dua kali erupsi kecil, yaitu pada Kamis (2/7) dan Jumat (3/7), dengan tinggi kolom abu berkisar 200 meter di atas puncak.

Melansir laman Kompas, Petugas Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi, menegaskan visual letusan yang beredar di media sosial bukan merupakan kondisi terkini.

Video yang beredar itu hoaks atau bukan menggambarkan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini. Aktivitas erupsi yang terjadi sekarang tidak seperti yang terlihat dalam video tersebut,” begitu kata Andi saat dikonfirmasi, Sabtu (4/7/2026) dikutip dari Kompas.

Andi menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, erupsi terakhir terjadi pada Jumat (3/7/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Hingga Sabtu siang, belum kembali terpantau adanya aktivitas erupsi.

Pada Jumat kemarin hanya tercatat satu kali erupsi sekitar pukul 15.00 WIB. Setelah itu hingga hari ini belum ada lagi erupsi yang teramati,” begitu keterangan Andi.

Andi juga menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau memang masih berada pada Level III (Siaga).

Status Gunung Anak Krakatau masih Level III atau Siaga. Kami mengimbau masyarakat, nelayan maupun wisatawan agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung,” begitu tegas Andi.

Dikutip dari laman Okezone News, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menjelaskan video letusan Gunung Anak Krakatau tersebut merupakan hasil penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Hal itu terlihat karena layar ponsel yang ada di dalam video juga tidak merekam adanya kejadian letusan.

Jika diperhatikan, bentuk gunung bukanlah bentuk gunung Anak Krakatau, dalam layar HP di atas kapal pun tidak terlihat merekam adanya Letusan, sehingga besar kemungkinan video ini adalah penyalahgunaan AI,” tegas PVMBG dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).

Dengan adanya kenaikan status menjadi Siaga, masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu apabila terjadi peningkatan aktivitas erupsi.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyebutkan video cuplikan erupsi Gunung Anak Krakatau dengan dentuman dan semburan api terlihat dari atas kapal adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memastikan bahwa video tersebut bukanlah aktivitas terkini dari gunung api di Selat Sunda tersebut.

Beberapa kejanggalan dalam video terindikasi bahwa cuplikan tersebut kemungkinan besar merupakan hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI). Petugas Pemantau Gunung Anak Krakatau Andi Suwardi, juga menegaskan visual letusan yang beredar di media sosial bukan merupakan kondisi terkini.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait ERUPSI KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto