tirto.id - Beredar di media sosial sebuah unggahan yang memperlihatkan bangunan berkubah hijau berdiri di tengah material lumpur dan aliran banjir. Unggahan tersebut mengklaim bahwa bangunan itu merupakan masjid di Nepal yang tetap kokoh setelah diterjang banjir besar pada Agustus 2026.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Basara Abas” (arsip) pada (31/8/2026). Dalam unggahan tersebut ditampilkan narasi yang menyebut bahwa masjid ini tetap kokoh meskipun sempat dilanda banjir besar di Nepal. Narasi itu juga menggambarkan bangunan tersebut sebagai masjid dengan kubah hijau yang bertahan di tengah bencana.
“Masjid ini tetap kokoh meskipun sempat dilanda banjir besar di Nepal. Melihatnya jadi mengingatkan betapa kuatnya bangunan ini dan semangat di baliknya. Pemandangan dari atas bukit ini juga keren banget, dengan kubah hijau yang menonjol. Semoga semuanya tetap aman dan bisa terus berdiri di tengah tantangan alam kayak gini.” Begitu narasi tertulis dalam keterangan unggahan.
Sampai artikel ini ditulis pada Kamis (10/10/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 3 tanda suka, 2 komentar dan 1 kali dibagikan.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Siti Komariah,” “Adri Oskar,” pada akun Threads @elmadelma62, @mams_nady dan akun TikTok @thy_doraemon08. Semua akun tersebut mengunggah gambar masjid serupa dengan klaim masjid tetap kokoh saat banjir di Nepal.
Lantas, benarkah gambar tersebut merupakan masjid di Nepal yang tetap kokoh saat terjadi banjir pada Agustus 2026?

Penelusuran Fakta
Untuk menelusuri kebenaran klaim Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) dengan menggunakan mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
Melansir laman Reuters, bencana banjir di Nepal memang benar terjadi pada 26 Agustus 2026. Banjir bandang dan aliran material lumpur serta batu menerjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet setelah keruntuhan gletser di kawasan Himalaya. Bencana tersebut menghancurkan rumah, jembatan, jalan, serta berbagai infrastruktur di sepanjang wilayah terdampak.
Reuters melaporkan bahwa aliran material dari keruntuhan gletser masuk ke sistem sungai Lhende Khola dan menyebabkan banjir besar yang merusak pemukiman serta infrastruktur.
Tirto kemudian mengamati gambar masjid yang diunggah dan menemukan kejanggalan visual yang terlihat jelas. Dalam gambar terlihat, arus banjir lumpur raksasa tampak menerjang tepat di belakang masjid, namun bangunan tersebut berdiri tegak begitu saja tanpa terkena cipratan air ataupun mengalami kerusakan struktur fisik yang wajar.
Dalam gambar tersebut, terlihat jelas adanya distorsi arsitektur seperti bentuk jendela kubah yang tidak simetris, pilar bawah yang menyatu secara tidak alami dengan lumpur tanpa menciptakan riak air, serta tekstur perbukitan dan puing-puing yang tampak halus seperti lukisan digital alih-alih foto dokumentasi asli.
Untuk memastikan keaslian gambar dalam unggahan tersebut, Tirto menggunakan layanan Hive Moderation, guna menganalisis gambar tersebut. Hasilnya menunjukkan, gambar tersebut memiliki probabilitas sebesar 99,9 persen sebagai hasil manipulasi AI.

Senada dengan hal tersebut dalam laman AFP Fact Check pada 9 September 2026 dilaporkan bahwa banjir bandang yang dipicu oleh runtuhnya gletser di perbatasan Nepal-Tibet pada 26 Agustus menyapu seluruh permukiman di wilayah Himalaya. Adapun gambar yang menunjukkan sebuah masjid mampu bertahan dari gelombang banjir tersebut adalah rekaman yang dimanipulasi dari sebuah rumah yang secara ajaib selamat dari bencana.
Dalam Google Street View menunjukkan bahwa daerah yang terkena dampak di Nepal yang mayoritas penduduknya beragama Hindu tersebut tidak memiliki masjid.
Video asli dari gambar tersebut terlihat identik dengan unggahan pada video dalam akun Instagram @newscomauhq yang diposting oleh media Australia News.com.au pada 1 September 2026 yang memperlihatkan sebuah rumah berwarna hijau mint tetap kokoh saat banjir bandang dahsyat melanda Nepal.
“A mint-green house stood strong while devastating flash floods swept through Nepal. Video showed the trapped family watching in horror from their upper balcony as raging waters destroyed nearby structures. Thankfully, follow-up reports confirmed that the house held its ground and the entire family was rescued safely.” Begitu keterangan tertulis dalam unggahan.
Yahoo News juga menyatakan bahwa masjid yang diklaim tetap kokoh saat terjadi banjir di Nepal merupakan manipulasi gambar dari “miracle house.”
Adapun gambar yang beredar mengandung ketidaksesuaian visual yang menunjukkan bahwa gambar itu telah dimanipulasi. Hal itu dapat terlihat dari kejanggalan yang paling menonjol yaitu percikan air banjir yang tampaknya tidak natural mengenai masjid dan tidak meninggalkan bekas apa pun.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim bahwa masjid berkubah hijau dalam unggahan tersebut tetap kokoh setelah diterjang banjir besar di Nepal bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Gambar tersebut merupakan konten yang dibuat menggunakan AI dan kemudian disebarkan seolah-olah sebagai dokumentasi bencana.
Faktanya, gambar asli tidak menunjukkan masjid yang selamat dari banjir, melainkan hasil manipulasi dari rekaman sebuah rumah yang dijuluki “miracle house” karena berhasil bertahan dari bencana banjir Nepal.
Di sisi lain, banjir besar Nepal pada 26 Agustus 2026 merupakan bencana nyata yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id


































