Menuju konten utama

Hoaks, Abu Erupsi Anak Krakatau Telah Masuk ke Semarang, Jateng

Hingga 7 September 2026, dari hasil paper test & pemantauan BMKG, abu vulkanik belum terdeteksi di permukaan wilayah Jawa Tengah, termasuk Semarang.

Hoaks, Abu Erupsi Anak Krakatau Telah Masuk ke Semarang, Jateng
HEADER periksa fakta Abu Vulkanik Sampai Semarang Jateng. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Beredar unggahan di media sosial yang mengklaim abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau telah memasuki Kota Semarang dan sekitarnya. Unggahan tersebut disertai peringatan agar warga Semarang meningkatkan kewaspadaan karena disebut telah terjadi hujan abu vulkanik yang dapat mengganggu saluran pernapasan.

Klaim tersebut disebarkan oleh akun Facebook “YAZED” (arsip) pada Minggu (6/9/2026). Unggahan tersebut menampilkan tangkapan layar dari aplikasi pemantau cuaca dan kualitas udara yang menunjukkan peta konsentrasi gas Sulfur Dioksida (SO₂) atau sebaran material vulkanik terkait aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Dalam narasinya, pengunggah menyebut pergerakan debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau telah mengarah dan memasuki Semarang, disebutkan juga sejumlah warga mengalami dada sesak dan mata perih serta mengklaim lapisan abu semakin banyak menempel pada kendaraan dan rumah.

Unggahan tersebut juga memberikan sejumlah imbauan, seperti penggunaan masker N95, kacamata pelindung, mengurangi aktivitas di luar ruangan, hingga menutup sumber air dan makanan.

Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (8/9/2026), unggahan tersebut masih beredar di media sosial dan banyak akun lain yang membuat klaim serupa lintas platform.

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Instagram @kabarungaran, yang menyebutkan kabar terkini sebaran gas vulkanik sudah sampai Jawa Tengah, lalu pada akun Facebook “Socy Idn,” “Azkara Al-fatih,” “Informasi Seputar Semarang,” dan “Desnalisa Dedi.” Semua unggahan tersebut menyebarkan gambar erupsi Gunung Anak Krakatau dengan klaim abu vulkanik sudah sampai Jawa Tengah, di antaranya Semarang.

Lantas, benarkah pergerakan debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau telah mengarah dan memasuki Semarang dan beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah?

periksa fakta Abu Vulkanik Sampai Semarang - Jateng

periksa fakta Abu Vulkanik Sampai Semarang Jateng.

Penelusuran Fakta

Untuk memverifikasi kebenaran klaim, Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) dengan menggunakan mesin pencarian Google. Hasilnya tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.

Dalam laman Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Anak Krakatau memang mengalami peningkatan aktivitas dan erupsi pada awal September 2026, episode erupsi berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB atau sekitar 25 jam. Setelah itu, aktivitas kembali berupa erupsi strombolian. Status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Namun, fakta mengenai erupsi tersebut tidak membuktikan bahwa abu vulkaniknya telah mencapai Semarang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam analisis citra satelit Himawari-9 pada 7 September 2026 memang mendeteksi sebaran abu vulkanik Anak Krakatau di atmosfer. Pada lapisan permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki, abu terpantau pada sektor tenggara hingga barat laut yang mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Sementara pada ketinggian 15.000 hingga 50.000 kaki, sebaran abu terpantau ke arah barat hingga barat daya. Semarang dan wilayah Jawa Tengah tidak disebut sebagai wilayah yang terpantau sebaran abu tersebut.

Keterangan tersebut diperkuat oleh pernyataan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pada 7 September 2026 Pemprov Jateng menyampaikan hasil paper test BMKG yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan material abu vulkanik di permukaan. Pengujian dilakukan di sejumlah lokasi, termasuk Semarang, Tegal, Kertajati, dan Cilacap. Hasilnya menunjukkan, paper test di lokasi-lokasi tersebut negatif atau belum mendeteksi adanya abu vulkanik Anak Krakatau di permukaan wilayah Jawa Tengah.

Dengan demikian, klaim bahwa hujan abu erupsi Gunung Anak Krakatau sudah masuk Kota Semarang tidak sesuai dengan hasil pemantauan resmi yang tersedia. Abu vulkanik memang terdeteksi di atmosfer dan erupsi Anak Krakatau masih dipantau, tetapi hingga 7 September 2026 belum ada bukti dari pemantauan BMKG yang menunjukkan abu vulkanik tersebut telah mengendap di permukaan wilayah Jawa Tengah, termasuk Semarang.

Adapun narasi terkait warga Semarang yang disebut sudah mengalami sesak nafas, mata perih, serta rumah dan kendaraan yang tertutup abu, tidak disertai bukti atau data pemantauan resmi yang mengaitkan kondisi tersebut dengan abu Anak Krakatau. Karena itu, pengalaman atau kesaksian yang dituliskan dalam unggahan tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa abu vulkanik Anak Krakatau telah mencapai Semarang. Meski demikian, kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap diperlukan.

Badan Geologi menyatakan, potensi bahaya erupsi masih berasal dari lontaran batu pijar dan hujan abu lebat di sekitar gunung. Masyarakat yang terdampak abu vulkanik dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker untuk menghindari gangguan pernapasan. Rekomendasi tersebut terutama ditujukan kepada wilayah yang memang terdampak abu vulkanik.

Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau untuk tidak memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Adapun, informasi terkait perkembangan aktivitas gunung api dapat diakses melalui PVMBG, Magma Indonesia, Badan Geologi, serta BPBD setempat, bukan melalui unggahan media sosial yang belum terverifikasi.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelusuran, klaim yang menyebutkan bahwa hujan abu erupsi Gunung Anak Krakatau sudah memasuki Kota Semarang dan beberapa daerah di Jawa Tengah bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

Gunung Anak Krakatau memang mengalami erupsi dan sebaran abu vulkanik terdeteksi di atmosfer. Namun, berdasarkan pemantauan BMKG dan hasil paper test, abu vulkanik tersebut belum terdeteksi di permukaan wilayah Jawa Tengah, termasuk Semarang, hingga 7 September 2026.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyampaikan hasil paper test BMKG yang menunjukkan lokasi-lokasi tersebut negatif atau belum mendeteksi adanya abu vulkanik Anak Krakatau di permukaan wilayah Jawa Tengah.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait ERUPSI GUNUNG atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto